Saya dulu berkeyakinan seperti judul ini dengan alasan: Pertama, lingkungan desa yang benar-benar jauh dari polusi. Kedua, lapangan dan alam untuk bermain masih banyak. Ketiga, lingkungan masih homogen. Lingkungan homogen artinya, norma, nilai, budaya yang masih terjaga. Sebagai anak desa, saya merasakan benar keuntungan ini. Satu kampung tau si A adalah anaknya pak E, si B anaknya pak O. Karena lingkungan homogen, ditambah akses informasi dari luar yang minim, menjadikan referensi anak-anak desa soal "nilai" apa yang baik dan buruk murni dari orang dewasa di sekitar anak. Maka, hormat pada orangtua, guru, dan orang lain yang lebih tua menjadikan anak-anak desa memiliki tingkat kesopanan dan adab yang baik.
Tapi rupanya keyakinan saya ini harus terus dievaluasi. Benarkah demikian? Terutama sejak internet masuk desa. Internet masuk desa itu tujuan dan awalnya mungkin positif. Misalnya, jika kita simak iklan internet masuk desa atau semacam ini, dengan internet, masyarakat desa diharapkan dapat memperluas pasar dari produk-produk yang dihasilkan di desa seperti produk pertanian, perikanan dan lainnya. Masyarakat di desa juga dapat mengenalkan desanya, memasarkan desanya jika ia desa wisata. Anak-anak juga dapat mengakses dan mempelajari banyak hal untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan hidupnya.
Tapi apakah selama ini tujuan-tujuan baik itu yang lebih banyak dihasilkan? Atau fenomena perubahan "budaya desa" yang beralih menuju "budaya kota"?
Budaya desa sejak dulu dikenal dengan guyub, menghormati orang yang lebih tua, keserderhanaan, antartetangga saling bercengkrama, anak-anak bermain di halaman di sore hari, malam hari istirahat dan subuh hari sudah beraktivitas. Masihkah sebagian besar ritme ini dapat kita temui hari ini?
Ternyata beberapa desa yang saya kunjungi, di pelosok Jawa Timur, di pelosok Jawa Barat, Aceh dan baru-baru ini Sumatera Utara, ternyata budaya desa yang sejak dulu ada sudah jauh berubah. Di sebuah desa di pelosok Tuban Jawa Timur, saya terkejut melihat anak-anak tanggung usia SMP sampai tengah malam masih joget-jogetan tiktok. Di sebuah desa di pelosok Jawa Barat sementara ayah ibunya siang hari sibuk di Sawah, anak-anak mereka hari libur sekolah asyik dengan gadget masing-masing di tangannya.
Dan ketika saya melakukan perjalanan dari Rantauprapat menuju Medan dengan moda Kereta Api (waktu tempuh kurang lebih 6 jam), aih betapa terkejutnya saya ketika kereta berhenti di Stasiun Mambang Muda, sebuah daerah di Labuan Batu, puluhan anak-anak remaja di sore hari berkumpul di sebuah warung dan sibuk-sibuk dengan gadget di tangan masing-masing bermain games. Sementara tak jauh dari mereka sekumpulan laki-laki dewasa bertaruh permainan kartu.
"Abah jangan salah, saya justru jauh-jauh 16 jam ke Medan dari Riau untuk belajar sama Abah, karena saya bingung dan prihatin dengan anak-anak di desa saya. Kenapa mereka jadi begini? Saya guru TK Abah, saya merasakan anak-anak TK di desa tingkah lakunya, perilakunya, benar-benar mengurut dada. Kalau mereka marah, mudah mereka mengeluarkan kata-kata hewan dan bahkan maaf Abah, kemaluan. Itu bukan satu dua Abah. Jadi, pendapat di desa sekarang lebih aman, belum tentu Abah. Waktu saya adukan ini ke orangtuanya, orangtuanya bahkan juga tidak paham harus diapakan karena memang dari kecil anak-anak sudah susah dilepaskan dari gadget mereka. Di kota, mungkin orangtua sebagian ada yang paham soal ilmu parenting, tapi di desa orangtua mana paham", demikian curhat Nurmala, seorang guru TK dari pelosok Riau sana kepada saya.
Fenomena-fenomena perubahan budaya ini sebetulnya sudah sejak lama terjadi. Kesalahpahaman tentang mendefinisikan modernitas, ketidaksiapan orangtua, kebijakan pemilik otoritas negeri ini saat membuat program tanpa melakukan analisis dampak lingkungan, menjadikan perubahan yang terjadi cenderung lebih banyak menghasilkan efek-efek negatif dibandingkan hal-hal baik yang diidam-idamkan.
Apakah internet masuk di desa sudah dimanfaatkan untuk menguatkan kebiasaan-kebiasaan baik atau justru malah-malah digunakan untuk menjadi bahan dan kebiasaan-kebiasaan buruk? Apa sih bahaya orang-orang desa tidak memiliki akses internet? Apakah jadi lebih sengsara? Apakah mereka jadi tidak dapat berkomunikasi dengan dunia luar? Gimana menurut Anda? -www.abaihsan.id-