Ketahanan Iman Alumni Pesantren: Refleksi Transisi Pendidikan, Motivasi Internal, dan Pendidikan Makna

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

06-Feb-2026



Beberapa waktu terakhir ini, saya cukup terusik. Bukan oleh wacana di media sosial, melainkan oleh dua penelitian akademik yang muncul hampir bersamaan dan mengangkat fenomena yang sama: perubahan perilaku keagamaan alumni pondok pesantren setelah memasuki dunia kampus.

Keterusikan ini bukan semata karena temuan yang disajikan, melainkan karena pertanyaan mendasar yang mengikutinya: apakah selama ini pendidikan agama kita benar-benar membentuk iman yang hidup di dalam diri, atau sekadar menumbuhkan kepatuhan yang bergantung pada sistem?

Temuan Empiris: Dua Riset, Satu Pola

Penelitian pertama adalah tesis magister yang ditulis oleh Nurindra Sari (2024) di UIN Alauddin Makassar berjudul Perubahan Perilaku Keagamaan Alumni Pondok Pesantren. Penelitian ini menelaah pengalaman alumni pesantren yang telah memasuki dunia kampus dan menemukan adanya penurunan dalam praktik keagamaan.

Penurunan tersebut mencakup aspek ritual—seperti kelalaian shalat wajib, berkurangnya ibadah sunnah, dan menurunnya intensitas membaca Al-Qur’an serta aspek non-ritual, seperti perubahan cara berpakaian, pergeseran gaya komunikasi, dan menurunnya adab terhadap dosen serta orang yang lebih tua.

Penelitian kedua, yang ditulis oleh Harianto (2024) dengan judul Perubahan Gaya Hidup Alumni Pondok Pesantren, juga dilakukan di institusi yang sama. Melalui pendekatan studi kasus, penelitian ini menemukan pola yang serupa: perubahan gaya hidup, penurunan intensitas ibadah, serta pergeseran cara mengekspresikan keberagamaan sehari-hari.

Kedua penelitian ini bersifat kualitatif, sehingga tidak dimaksudkan untuk melakukan generalisasi statistik terhadap seluruh alumni pesantren. Namun, kesamaan pola yang ditemukan oleh dua peneliti berbeda, dengan fokus dan sudut pandang yang berbeda, menunjukkan bahwa fenomena ini bukanlah kasus tunggal.

Analisis Faktor Penyebab: Culture Shock dan Hilangnya Kontrol Sosial

Nurindra Sari (2024) mengidentifikasi culture shock sebagai salah satu faktor kunci. Alumni pesantren mengalami guncangan ketika berpindah dari sistem pendidikan yang sangat terstruktur dengan jadwal, aturan, dan pengawasan ketat ke lingkungan kampus yang jauh lebih bebas dan longgar.
Paparan media sosial turut disebut sebagai faktor pendukung yang memengaruhi pengelolaan waktu, perhatian, dan gaya hidup mahasiswa. Namun, penting untuk dicatat bahwa media sosial tidak bekerja secara deterministik.

Harianto (2024) menyoroti faktor lain yang tidak kalah penting, yaitu perubahan gaya hidup dari kehidupan kolektif yang disiplin menuju kehidupan individual yang minim kontrol sosial. Hilangnya figur ustadz, aturan ketat, serta lingkungan yang terus-menerus mengingatkan menjadi faktor yang mempercepat perubahan perilaku tersebut.

Media Sosial dan Fondasi Batin: Sebuah Klarifikasi

Di titik ini, penting untuk mengajukan klarifikasi analitis. Hampir semua mahasiswa hari ini menggunakan media sosial, baik alumni pesantren maupun mahasiswa umum. Namun, realitas menunjukkan bahwa banyak mahasiswa yang aktif di media sosial tetap menjaga shalat, membaca Al-Qur’an, bahkan terlibat dalam aktivitas dakwah kampus.

Hal ini menunjukkan bahwa media sosial hanyalah ruang. Ia dapat menjauhkan seseorang dari agama, tetapi juga dapat menjadi sarana penguatan religiusitas. Dengan demikian, masalah utamanya bukan terletak pada media, melainkan pada fondasi batin yang dimiliki individu ketika memasuki ruang tersebut.

Perspektif Psikologi Motivasi dan Psikologi Agama

Refleksi ini selaras dengan temuan psikologi modern. Edward Deci dan Richard Ryan, melalui Self-Determination Theory, menjelaskan bahwa perilaku manusia hanya dapat bertahan dalam jangka panjang apabila didorong oleh motivasi internal, bukan oleh kontrol eksternal seperti pengawasan, tekanan, atau hukuman (Deci & Ryan, 1985; 2000).

Mereka menyebut kondisi ini sebagai internalized motivation, yaitu ketika individu berperilaku karena nilai tersebut telah menjadi bagian dari sistem makna pribadinya. Berbagai penelitian lintas budaya menunjukkan bahwa semakin kuat kontrol eksternal, semakin rapuh perilaku tersebut ketika kontrol itu hilang.

Dalam ranah psikologi agama, Kenneth Pargament (1997) membedakan praktik keagamaan yang bersifat dangkal sekadar ritual dengan praktik keagamaan yang berbasis makna dan keyakinan. Praktik yang pertama cenderung mudah runtuh ketika menghadapi tekanan atau perubahan lingkungan, sementara praktik yang kedua justru dapat menguat.

Sementara itu, James Fowler (1981), melalui teori Stages of Faith, menegaskan bahwa iman yang matang bukanlah iman yang hanya patuh, melainkan iman yang telah melalui proses refleksi, pemaknaan, dan penghayatan personal.

Perspektif Normatif Islam: Iman sebagai Kesadaran Batin

Temuan ilmiah ini sejalan dengan prinsip normatif dalam Islam. Rasulullah ﷺ menegaskan:

لَيْسَ الإِيمَانُ بِالتَّمَنِّي وَلَا بِالتَّحَلِّي، وَلَكِنْ مَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ وَصَدَّقَهُ الْعَمَلُ

“Iman bukan sekadar angan-angan dan bukan pula hiasan lahir, tetapi sesuatu yang menetap di dalam hati dan dibenarkan oleh amal.” (Hadis hasan)

Hadis ini menegaskan bahwa iman tidak berhenti pada tampilan lahiriah atau kepatuhan formal, melainkan harus berakar pada kesadaran batin yang kemudian terwujud dalam amal.

Implikasi Pendidikan: Dari Pembiasaan ke Pemaknaan

Jika pendidikan agama hanya menekankan pembiasaan eksternal tanpa menumbuhkan pemaknaan internal, maka penurunan praktik keagamaan setelah hilangnya sistem bukanlah anomali, melainkan konsekuensi yang dapat diprediksi.

Lebih jauh, dampaknya tidak hanya berupa penurunan ibadah, tetapi juga munculnya rasa tidak nyaman terhadap agama. Pada sebagian individu yang cerdas dan kritis, ketidaknyamanan ini bahkan dapat berkembang menjadi sikap sinis dan reaktif terhadap agama—bukan karena kebodohan, melainkan karena selama berada dalam sistem pendidikan agama mereka tidak pernah diberi ruang untuk bertanya dan berpikir.

Pertanyaan dipendam. Nalar ditekan. Ketika ruang berpikir itu terbuka di luar, agama tidak lagi hadir sebagai jawaban, melainkan sebagai trauma simbolik.

Fenomena ini merupakan sinyal serius. Agama tidak dapat diwariskan hanya sebagai kebiasaan. Pendidikan agama perlu bergeser dari orientasi pembiasaan menuju orientasi pemaknaan.

Pembiasaan ibadah tetap penting, tetapi harus disertai pembiasaan berpikir. Anak perlu diberi ruang untuk bertanya, berpendapat, bahkan menggugat—karena melalui proses inilah iman dapat tumbuh sebagai kesadaran yang hidup.

Iman yang hanya hidup di lingkungan akan mati ketika lingkungannya berubah. Namun iman yang hidup di pikiran dan menetap di hati akan menjadi kompas ketika individu akhirnya berjalan sendirian.

Daftar Pustaka

Deci, E. L., Ryan, R. M. 1985. Intrinsic Motivation and Self-Determination in Human Behavior. New York: Plenum Press.
Deci, E. L., Ryan, R. M. 2000. The “What” and “Why” of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior. Psychological Inquiry.
Fowler, J. W. 1981. Stages of Faith: The Psychology of Human Development and the Quest for Meaning. San Francisco: Harper & Row.
Harianto. 2024. Perubahan Gaya Hidup Alumni Pondok Pesantren. Skripsi. Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Alauddin Makassar.
Nurindra Sari. 2024. Perubahan Perilaku Keagamaan Alumni Pondok Pesantren. Tesis. Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.
Pargament, K. I. 1997. The Psychology of Religion and Coping. New York: Guilford Press.


0 Komentar



Komentar :

Wiji Ayu Prihatin
Posted : 24-11-2022
MasyaAllah namanya belajar tidak akan pernah berhenti