MEMBAHAS SYUBHAT PARENTING ANAK JANGAN BANYAK DILARANG ITU AJARAN BARAT (BAGIAN 2)
Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari (www.abaihsan.id)
Sering kali kita mendengar dua pernyataan yang seolah saling bertentangan. Di satu sisi ada yang mengatakan anak jangan sering dilarang karena akan menghambat perkembangan. Di sisi lain, ada yang mengatakan dalam Islam anak harus diberi larangan. Akhirnya sebagian orang bereaksi secara emosional dan mengatakan jangan percaya parenting Barat, seolah-olah dalam Islam justru semua harus dilarang. Lalu muncul kebingungan, sebenarnya mana yang benar.
Jika dilihat sekilas, ini memang tampak seperti dua pandangan yang bertolak belakang. Satu mengatakan jangan terlalu banyak melarang anak, sementara yang lain menekankan pentingnya larangan dalam pengasuhan. Namun jika kita pahami lebih dalam, ini bukan benturan antara ilmu dan agama, melainkan benturan antara pemahaman yang parsial dengan yang utuh, antara emosi dengan ilmu, serta antara praktik budaya dengan dalil yang sebenarnya.
Dalam ilmu perkembangan anak, ketika dikatakan jangan sering melarang, itu bukan berarti anak tidak boleh dilarang sama sekali. Yang dimaksud adalah jangan menghambat fase eksplorasi anak. Pada tahap awal kehidupan, anak belajar melalui pengalaman langsung. Mereka belajar dengan menyentuh, mencoba, bergerak, dan bereksperimen menggunakan seluruh indera mereka. Proses ini sangat penting karena menjadi dasar bagi perkembangan kognitif, motorik, dan emosional mereka.
Jika setiap langkah anak dihentikan dengan kata jangan, maka proses belajar alami ini bisa terhambat. Anak menjadi ragu untuk mencoba, takut bereksplorasi, dan kehilangan kesempatan untuk memahami dunia secara langsung. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menghambat rasa percaya diri dan kemampuan problem solving mereka.
Namun di sisi lain, Islam mengajarkan sesuatu yang sangat penting, yaitu bahwa anak harus memiliki batas. Tidak semua hal boleh dilakukan. Ada hal-hal yang memang harus dilarang, terutama yang membahayakan, merusak, atau melanggar nilai. Di sinilah peran larangan menjadi sangat penting, bukan untuk menekan anak, tetapi untuk melindungi dan mengarahkan mereka.
Dengan demikian, persoalannya bukan apakah anak harus dilarang atau tidak, melainkan apa yang dilarang, kapan larangan itu diberikan, dan untuk tujuan apa. Inilah titik keseimbangan yang sering terlewat dalam diskusi parenting. Eksplorasi tetap perlu diberikan agar anak berkembang, tetapi batas juga harus ditegakkan agar anak tetap aman dan memiliki arah.
Ketika semua hal dilarang, anak akan terhambat dan kehilangan ruang untuk berkembang. Sebaliknya, ketika semua hal dibolehkan, anak akan kehilangan batas dan arah. Keseimbangan antara ruang dan batas inilah yang membuat anak dapat tumbuh secara optimal, berkembang dengan rasa aman sekaligus memiliki kontrol diri.
Pada akhirnya, anak tidak hanya membutuhkan kebebasan, tetapi juga membutuhkan arahan. Kebebasan tanpa batas dapat membuat anak bingung, sementara batas tanpa ruang dapat membuat anak tertekan. Tugas kita sebagai orang tua adalah menghadirkan keduanya secara seimbang, memberikan ruang untuk eksplorasi sekaligus menetapkan batas yang jelas dan penuh makna.
Saya membahas lebih dalam dalam versi video tentang bagaimana memberi batas tanpa menghambat perkembangan anak, termasuk contoh praktis dalam kehidupan sehari-hari , silakan tonton di YouTube @abah_ihsan_channel