MEMBAHAS SYUBHAT PARENTING: ANAK HARUS NURUT ATAU HARUS DIDENGAR? (BAGIAN 3)

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

04-Apr-2026

Sering kali kita mendengar pernyataan seperti ini. “Anak harus didengar? Cukup pakai parenting Islami. Parenting Barat seperti itu yang membuat anak sekarang tidak punya adab.” Seolah-olah mendengarkan anak bukan bagian dari ajaran Islam. Seolah ada dua kubu yang harus dipilih. Di satu sisi, Islam dianggap mengajarkan anak harus nurut. Di sisi lain, ilmu pengetahuan dianggap mengajarkan anak harus didengar perasaannya. Lalu kita bingung, mana yang benar?

Padahal jika kita lihat lebih dalam, ini bukan soal memilih salah satu. Yang terjadi adalah kesalahan memahami. Ini adalah benturan antara pemahaman parsial dengan yang utuh, antara emosi dengan ilmu, dan sering kali antara budaya yang sudah terbiasa dengan dalil yang sebenarnya. Kita menyederhanakan sesuatu yang seharusnya dipahami secara lebih utuh.

Dalam Islam memang benar bahwa anak diajarkan untuk taat pada kebaikan. Namun taat dalam Islam bukan berarti anak dibungkam, ditakut-takuti, atau dipaksa tanpa pemahaman. Kita bisa melihat bagaimana Al-Qur’an menggambarkan cara mendidik yang penuh kedekatan. Dalam Surah Luqman ayat 13, seorang ayah berkata kepada anaknya dengan panggilan yang lembut, wahai anakku. Ini bukan sekadar nasihat, tetapi menunjukkan bahwa sebelum ada ketaatan, ada hubungan yang dibangun.

Artinya, sebelum anak mau nurut, harus ada kedekatan. Harus ada rasa aman. Harus ada koneksi antara orang tua dan anak. Tanpa itu, ketaatan yang muncul biasanya hanya bersifat sementara, atau bahkan semu.

Hal ini sejalan dengan temuan dalam ilmu perkembangan anak. Anak yang didengar cenderung lebih mudah bekerja sama, lebih mampu mengelola emosi, dan justru lebih sedikit melakukan perlawanan. Mendengarkan anak bukan membuat mereka melawan, tetapi justru membuat mereka lebih kooperatif.

Bahkan dalam kisah Nabi Ibrahim dalam Surah Ash Shaffat ayat 102, ketika beliau mendapat perintah yang sangat besar untuk menyembelih anaknya, beliau tidak langsung memaksa. Beliau berkata, wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu. Ini adalah perintah dari Allah, tetapi tetap disampaikan dengan dialog. Ada ruang bagi anak untuk didengar.

Di sinilah sering terjadi kesalahan dalam memahami. Kita menganggap bahwa didengar berarti dimanjakan, dan nurut berarti dipaksa. Padahal keduanya tidak tepat. Mendengar anak adalah cara membangun koneksi. Sementara mengarahkan anak adalah cara membangun ketaatan.

Tanpa koneksi, anak mungkin patuh di depan, tetapi melawan di belakang. Mereka mengikuti karena takut, bukan karena memahami. Sebaliknya, tanpa arahan, anak memang merasa bebas, tetapi kehilangan batas. Mereka bingung menentukan mana yang benar dan mana yang tidak.

Di sinilah keseimbangan itu diperlukan. Islam tidak mengajarkan ketaatan tanpa hubungan. Dan ilmu perkembangan anak tidak mengajarkan kebebasan tanpa batas. Keduanya justru saling melengkapi.

Maka yang benar bukan memilih antara anak harus nurut atau anak harus didengar. Yang benar adalah anak harus didengar agar ia mau nurut. Karena ketaatan yang kuat tidak lahir dari tekanan, tetapi dari hubungan yang dekat.

Sebagai orang tua, tugas kita bukan hanya memastikan anak patuh, tetapi memastikan mereka memahami. Bukan hanya mengarahkan, tetapi juga mendengarkan. Karena ketika anak merasa didengar, mereka lebih terbuka, lebih percaya, dan lebih siap menerima arahan.


Versi video tulisan ini silakan tonton di YouTube @abah_ihsan_channel





0 Komentar



Komentar :

Wiji Ayu Prihatin
Posted : 24-11-2022
MasyaAllah namanya belajar tidak akan pernah berhenti