APA ITU PSPA?
Singkatan dari Program Sekolah Pengasuhan Anak. Sebuah training pengasuhan yang diselenggarakan selama 2 hari kira-kira dari 07.30 - 17.30.
MENGAPA SELAMA 2 HARI? BUKANNYA KELAMAAN?
Dari pengalaman, sebetulnya ini juga kurang waktunya. Tapi setidaknya 2 hari itu dapat mempelajari dasar-dasar dan prinsip-prinsip menjalin hubungan berkualitas dengan anak dengan lebih lengkap. Dibandingkan yang sepotong-sepotong. Sederhananya: agar lebih terstruktur.
EMANG KALO TERSTRUKTUR KENAPA?
Pernah nggak sih setelah belajar parenting ke sana-kemari diri ini malah tambah stress, tertekan, makin nggak pede jadi orangtua? Kok rasanya diri ini salah mulu setelah berbagai macam content parenting. Akibatnya beberapa orang merasa sudah dalam keadaan "muak" dengan content parenting. Kalimat sederhana yang keluar dari lisan adalah "Ah teori! Praktiknya tidak semudah itu." Atau "Tiap anak kan beda!"
Ini sebetulnya kefrustasian orangtua yang sudah punya niat baik belajar ingin jadi orangtua lebih baik, tapi karena belajar sepotong-sepotong menjadikan mereka akhirnya menerima pengetahuan itu juga sepotong-sepotong. Misalnya nih ya sebuah content parenting memberikan advice "Jangan marahin anak, jangan bentak anak. Itu bisa membuat mereka terluka hatinya. Rapuh dan tidak pede."
SEOLAH ORANGTUA TAK BOLEH MENGATUR ANAK, ANAK BOLEH MENGATUR ORANGTUA
Apa ada yang salah dengan advice sebelumnya soal tidak boleh bentak anak? Tidak! Benar sekali. Tapi, karena itu sisi saja yang diterima, ketika dihadapkan dengan keseharian anak yang teriak-teriak, tidak nurut, tidak patuh, bentak-bentak orangtua, ngamuk, masak didiamkan? Tapi kalo anak dimarahin balik kan anak bisa "rapuh dan tidak pede”. Istilahnya "Aku tak mau bentak anak, tapi masak anak bentak aku dibiarkan?" Jadi pusing sendiri. Tertekan dengan "ketidakbolehan menekan anak tapi seolah membiarkan anak liar lalu menekan orangtua."
Jadi kalo anak tidak boleh dimarahin saat anak berbuat buruk bertindak harus diapain dong? Umumnya karena keterbatasan "space" waktu atau tulisan, umumnya akan diteruskan dengan "nasihati anak dengan lembut".
What?!! Makin aja gaje! Anakku sudah bosen kali dinasihatin. Cuma dia tidak mau dengar!
Nah itu dia, padahal yang harus dipelajari lebih lengkap soal ketegasan. Ketegasan itu bukan kekerasan, ketegasan itu bukan banyak bicara. Ketegasan itu sedikit bicara, banyak bertindak.
PRINSIP DASAR APA SAJA?
Ada beberapa prinsip yang harus dipelajari orangtua agar kemudian nyaman berhubungan dengan anak. Bukan agar jadi orangtua sempurna loh ya. Pertama, dasar-dasar sederhana soal tumbuh kembang. Soal dasar atau fitrah tumbuh kembang anak. Bagaimana anak belajar? Bahwa misalnya anak itu perlu aktif, perlu ruang, bahwa anak juga sebetulnya dilahirkan dengan modal “nature” ingin jadi manusia baik. Hanya “nurture” yang kemudian mereka bertahan baik atau buruk. Nurture itu adalah lingkungan anak. Lingkungan anak pertama siapa? Keluarganya dong ya? Nah orangtua harusnya paham bagaimana mensetting kondisi lingkungan untuk anak yang mampu menjaga fitrah baiknya.
Kedua, prinsip kebebasan. Apakah orangtua harus mengatur anak dari A sampai Z? Dari bangun tidur sampai tidur lagi? Sejauh mana keinginan anak boleh dituruti? Bagaimana memahami kreativitas? Bagaimana memadukan antara keinginan dan kebutuhan anak? Apakah orangtua boleh merancang cita-cita untuk anak atau membiarkan begitu saja kehendak bebas anak? Bagaimana kalau anak ingin jadi youtuber? Gamers? Bagaimana kalau anak pengen jadi orang kaya tapi dengan cara membuat orang lain kecanduan dengan permainan tertentu?
PRINSIP KETEGASAN DAN KOMUNIKASI
Ketiga, prinsip ketegasan. Bagaimana memberikan batasan pada anak? Bagaimana merancang ketegasan? Bagaimana agar efektif membuat anak patuh tapi tanpa banyak bicara dan nasihat?
Keempat, prinsip konsep diri. Bagaimana agar anak paham dan mengenal dirinya sendiri dan tahu posisinya di keluarga itu peran-peran yang harus ia jalani? Kelima, prinsip komunikasi. Bagaimana agar komunikasi lancar dengan anak. Kan tidak mungkin ya anak bakal banyak terpengaruh orangtua kalau proses pengiriman pesan antara orangtua dan anak terhambat.
Simpelnya, banyak orangtua "berinteraksi pesan" dengan anak tiap hari tapi hanya sedikit orangtua yang "bertransaksi pesan" dengan anaknya. Istilah pertama hanya sekadar saling mengirimkan pesan tapi belum tentu pesan itu ditransaksikan (diterima, apalagi dieksekusi oleh anak menjadi sebuah tindakan). Istilah yang kedua merujuk pada pengiriman pesan komunikasi antara orangtua yang saling mempengaruhi dan memberikan pemahaman pada kedua belah pihak. Ingat komunikasi dari kata common artinya "sama". Berarti, orangtua mengirimkan pesan pada anak dan lalu anak memberikan atribut yang sama dengan yang ada di pikiran orangtua. Bukan sebaliknya "itu kan demi kepentingan ayah ibu saja, bukan aku!"
OVERLOAD INFORM TAPI......
Sebab lain kenapa banyak orang yang frustasi di tengah melimpahnya informasi parenting adalah karena tidak semua informasi itu bernilai pengetahuan. Banyak orang terpapar informasi tapi hanya sedikit orang yang terpapar pengetahuan. Banyak orang yang berpengetahuan, hanya sedikit yang terpapar kebijaksanaan. Misalnya, mungkin menarik mengetahui jenis-jenis ular dengan bisa paling berbahaya di dunia dari internet, tapi itu sekadar informasi yang relatif tak bermakna (berguna) jika dibandingkan mempelajari bagaimana jika terkena 'bisa' (bisa=toxic) ular berbahaya.
Karena itulah, mulai tahun 2022 ini, kami berikhtiar yang BOLEH ikut PSPA untuk umum (kecuali sekolah yang menyelenggarakan) hanyalah mereka yang benar-benar BERMINAT. Karena tidak mudah banget menyediakan waktu 2 hari dari pagi sampai sore untuk belajar.
Ikhtiar untuk menseleksi siapa yang minat itu salah satu cara kami adalah, mereka yang boleh ikut acara PSPA adalah mereka yang sudah memiliki bukti pernah ikut acara kami yang singkat (2-3 jam) baik online maupun offline. Sehingga mereka sudah terpapar dulu "oh penting banget sepertinya kalau belajar lebih banyak."
LELAH DENGAN BELAJAR PARENTING:
Salah satu contoh akibat frustasi belajar parenting seperti apa yang dialami ibu ini:
diambil dari blog "https://azaleav.wordpress.com/2019/10/10/belajar-di-pspa-bareng-abah-ihsan-impactful/#more-2064"
"Aku sebenarnya sempat ada di fase menghindari seminar parenting. Why? Lelah aja. After effect-nya ngerasa gagal jadi ibu. Aku nggak bisa praktek sesempurna dan seideal kayak apa kata artikel. And so on. Rasanya aku udah hafal semua isi artikel tentang menjadi ibu ideal. Dan aku beneran lelah. Dua tahun terakhir, aku hampir nggak pernah cerita soal gaya parenting di medsos, pernah ada yang request via DM, aku bilang nggak! Paling aku reshare saja jika ada artikel yang menurutku bagus dan nggak menghakimi. Aku nggak sempurna buat cerita soal parenting. Dalihku.
UNTUNG TIDAK MENYERAH
"....Sampai akhirnya, temen-temen dekatku malah ngajakin daftar. Aku jadi berpikir ulang. Empat tahun terakhir, aku udah berproses dengan segala riuh rendahnya kehidupan baruku sebagai ibu, aku rasa sudah waktunya aku memang harus belajar, melawan segala ketakutan, serta berprasangka baik. Aku juga udah sering lihat profil Abah Ihsan dan sepertinya materinya bagus. Bismillah semoga diri ini sudah cukup siap untuk belajar lagi.
Hari pertama, jujur saja aku nggak berekspektasi banyak. Bayanganku ya ini seminar parenting gitu lah pasti diajarin cara didik anak. Pokoknya ya niat belajar aja. Ternyataaaaa. Jeder! Cara penyampaian Abah Ihsan ternyata sama sekali di luar dugaanku. Dan sebelum dijelaskan materinya, kita diajak berpikir dulu kenapa kita perlu banget belajar soal pengasuhan anak ini. Jadi, kita punya alasan kuat kenapa kita harus semangat selama dua hari ke depan.
Selanjutnya? Tentu saja aku on fire. Ini yang kucari. Batinku. Kita tidak diajari jadi orangtua sempurna. Tentu saja tidak, karena kita juga manusia yang tidak sempurna. Tapi dari seluruh pemaparan Abah Ihsan, kita disadarkan bahwa anak adalah anugerah, bukan beban. Anak adalah anugerah yang MEMBERI banyak hal yang tak ternilai. Mengurus anak memang terkesan ribet, tidak mudah, tapi itu tidak sebanding dengan kenikmatan yang kita dapatkan."
Jadi mungkin Agustus nanti saat kami jadwalkan PSPA Offline di Bandung, yang minat harus punya sertiifikat seminar singkat (2-3) jam dulu yang online atau offline baru boleh ikut.
Bagi kami, lebih baik peserta dikit tapi serius belajar, dibandingkan terpaksa hadir karena dipaksa pasangan.
Kali aja minat. Gak minat juga gapapa. Hehehe