Anak usia dini belum memahami konsep kehilangan secara utuh. Ketika mereka diajak membayangkan kematian orang yang paling mereka cintai, yang muncul bukanlah pemahaman yang utuh melainkan rasa takut
Sebagian orang menolak mentah-mentah hanya karena penelitian berasal dari hewan, sementara sebagian lain menerima mentah-mentah hanya karena dianggap ilmiah. Padahal keduanya keliru.
Kita boleh saja tidak menggunakan istilah “remaja”, tetapi tidak bisa menolak realitas proses perkembangan itu sendiri. Ketika realitas ini diabaikan, anak baru baligh dituntut dewasa sepenuhnya.
Kita menganggap bahwa didengar berarti dimanjakan, dan nurut berarti dipaksa. Padahal keduanya tidak tepat. Mendengar anak adalah cara membangun koneksi.
Jika setiap langkah anak dihentikan dengan kata jangan, maka proses ini bisa terhambat. Anak menjadi ragu untuk mencoba, takut bereksplorasi, dan kehilangan kesempatan untuk memahami dunia.
Kita kadang membela sesuatu bukan karena itu benar secara ilmu, tetapi karena itu sudah biasa kita lihat sejak kecil. Lalu ketika ada pengetahuan baru, kita anggap itu bukan dari kita.
Dari sudut pandang etika profesional, pemberian hadiah kepada seseorang yang memiliki kewenangan terhadap pihak lain selalu mengandung potensi konflik kepentingan.
Jika 9 menit saja dapat memberikan dampak sementara pada fungsi eksekutif, bagaimana dengan sebagian orang tua yang merasa masih cukup aman memberi “jatah” anak 1 jam sehari?
Di panggung santunan, secara simbolik terbentuk dua posisi sosial. Jika pengalaman seperti ini terjadi berulang, bukan tidak mungkin ia membentuk cara anak melihat dirinya sendiri.
Otak manusia bekerja melalui interaksi antara bagian yang mengatur emosi dan bagian yang mengatur pertimbangan rasional.