Agar Anak Tak Berubah Menjadi Musibah

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

26-Apr-2022

Agar anak tak berubah menjadi musibah


1. Mau repot urus anak


Misalnya saat balita, punya anak aktif itu kan sehat untuk tumbuh kembang. Tapi karena aktif mereka jadi tak dapat diam, main ke sana kemari, menyentuh berbagai macam benda, eksplor, dll. Orangtua dituntut untuk membimbing anak membereskan mainan sendiri, mengawasi anak agar tak bahaya dan lainnya.


Tapi, karena tak mau repot, akhirnya anak diberikan gadget, nonton tv berlama-lama, main tanpa pengawasan, tidak tahu dia berteman dengan siapa, ke masjid masih kecil tanpa pendampingan dan lainnya.


Sesungguhnya ini hanya menunda kerepotan. Karena kurang “aktif” yang terjadi jadi kurang stimulasi? Gampang rewel, gampang ngamuk, nilai yang gak sesuai, gangguan pemusatan perhatian, speech delay, dan lain sebagainya.


2. Menyediakan waktu bukan menyisakan waktu untuk anak


Misalnya, ingin anak rajin ibadah dan taat pada Tuhannya? Ya kenalkan, ceritakan, rutin, siapa itu Tuhan? Sebelum ngomongin menurut agama harus gini, harus gitu, tidak boleh ini dan itu, jauh sebelum ngomongin aturan, ya anak harus tahu siapa sih Pengatur itu?


Ma’rifatul AMIR Qoblal AMR. Mengenalkan siapa yang memerintah (Targhib), harus lebih banyak jauh sebelum ngomongin apa perintah-Nya. Bukan sekadar pembiasaan, pembiasaan, dan pembiasaan (Tarhib) melulu yang akhirnya anak jadi “garing” dengan aturan dan akhirnya “malas” dengan agama.


Itu baru soal aqidah, belum turunnya, soal baik dan buruk, soal bertanggung jawab, soal mandiri, soal “respect others” dan lainnya.


Ingat semua semua anak butuh “software” untuk menjadi panduan “hardware”, yaitu perilakunya. So kalau kita tidak melakukannya, jelas anak kita akan mendapatkannya dari tempat lain. Kita menyebutnya dengan sebutan gampang “anak saya terpengaruh temannya."


3. Mau belajar agar kompeten


Apa yang terjadi jika kita mengendarai mobil tanpa kompetensi? Gak pernah belajar dulu sebelumnya? Mungkin mencelakai orang lain, berpeluang melukai diri sendiri atau setidaknya mobilnya jadi nabrak, rusak.


Betapa banyak contoh di sekitar kita, anak-anak yang waktu kecilnya cantik, lucu, menggemaskan, setelah dewasa berubah menjadi “fitnah” buat orangtuanya, musibah untuk lingkungannya dan tak amanah saat mereka jadi manusia dewasa. Ada apa ini?


Apalagi, kita hidup di zaman dimana informasi melimpah, sumber kebenaran tidak tunggal. Anak-anak kita akan menguji informasi, nilai, yang disampaikan orangtuanya. Berbeda dengan orangtua kita zaman dulu, yang tidak punya kompetitor, aman-aman saja tanpa skill. Sekarang? Ngeri gais.


Kompetensi apa saja yang harus kiti punya sebagai orangtua jaman now?


Diantara banyak kompetensi, menurut saya, setidaknya sebagai dasar ada 3 hal yang seharusnya semua orangtua memilikinya:


Pertama, dasar-dasar tumbuh kembang anak, agar tak salah paham soal anak. Seperti contoh di depan, anak aktif seolah dianggap jelek, yang baik itu yang anteng. Kan dampak lanjutnya jadi tak sadar merusak anak itu sendiri.


Detailnya tentu lebih panjang, misalnya tentang memahami dan memaknai tentang kebebasan anak, bagaimana anak belajar, stimulasi, interaksi dan lainnya.


Kedua, keterampilan tegas. Keterampilan untuk memberikan kebebasan pada anak sekaligus memberikan batasannya


Seiring bertambah umur tentu anak akan menguji batasan berperilaku. Jika orangtua tidak kompeten akhirnya orangtua tak berdaya, tak punya otoritas pada anaknya. Ciri orangtua tak punya otoritas kira-kira sejak kecil sering bicara “habis gimana, kalau saya larang anak saya nangis, ngamuk. Ya udah biarian sajalah masih kecil ini.”


Belum lagi salah paham soal tegas yang sering disamakan dengan kasar atau setidaknya banyak ngomel. Tidak Marco! Tidak Marconah!


Tegas itu tidak sedemikian. Tegas itu tak butuh teriakan, bentakan, apalagi pukulan. Tegas itu keterampilan untuk menaklukkan anak tanpa ada yang harus disakiti.


Ketiga, keterampilan komunikasi. Keterampilan komunikasi itu bukan hanya bicara loh ya tapi juga mendengarkan. Termasuk di dalamnya untuk membuat anak antusias ngobrol dengan orangtua untuk menceritakan pikiran dan perasaannya. Akhirnya anak menjadikan orangtua sebagian rujukan utama pada awalnya.


4. Senantiasa meminta pada Pemilik anak kita Tuhan semesta, Allah Azza Wajalla.


Tentu kita berharap anak kita memiliki keteguhan hati untuk konsisten dengan kebaikan dan kebenaran. Saat anak tidak bersama kita, mari kita minta pada Allah Pemilik Semesta dan Pemilik anak kita agar saat kita diberikan kesempatan umur hidup dengan anak, kita benar-benar memanfaatkan waktu yang terbatas di dunia ini untuk membimbing anak. Karena hakikatnya, mendidik anak itu mempersiapkan anak berpisah dengan orangtua.




0 Komentar



Komentar :

Wiji Ayu Prihatin
Posted : 24-11-2022
MasyaAllah namanya belajar tidak akan pernah berhenti