Kita sudah tahu, melakukan kebohongan, di belahan bumi manapun, pada dasarnya tidak disukai. Tapi, tidak seperti berbohong kepada orang dewasa yang seperti langsung dianggap keburukan, berbohong pada anak bagi sebagian orang seolah menjadi perbuatan yang "tidak mengapa". Kan mereka masih anak-anak, pikir mereka. Karena belum ngerti ini, kata yang lain.
Padahal ada banyak bahaya jika orangtua membohongi anak loh. Apa saja?
Pertama, kebohongan orangtua pada anak adalah bibit-bibit pembangkangan anak pada orangtua.
Apa hubungannya membohongi anak dengan membangkang? Sabar ya nanti dijelaskan. Tapi sebelum ngomong soal pembangkangan, harus dibahas dulu nih soal apa yang dimaksud membohongi anak.
Membohongi anak itu ada banyak rupa dan bentuknya. Kebohongan yang paling umum adalah saat seseorang mengatakan sesuatu yang tidak benar. Misalnya ibu Markonah mengatakan pada anaknya "Mama pernah nikah sama Pangeran Charles loh." Tentu saja itu bukan kebohongan jika Anda adalah Lady Diana. Tapi kan Anda Ibu Markonah, bukan Lady Di.
Kebohongan lain juga dapat berbentuk membarikan janji palsu pada anak agar anak tergerak melakukan sesuatu atau berhenti dari yang dilarang orangtua. Misalnya "jika nilai raport kamu semester ini rata-rata nilainya minimal 9, ayah belikan sepeda." Ternyata setelah dapat nilai 9 orangtua berusaha mengingkari janjinya. Ini juga dapat disebut berbohong.
Tindakan lain yang juga bagian dari kebohongan tapi seolah tidak dianggap bohong adalah saat orangtua mengatakan pada anak "tidak boleh ya beli mainan" pada waktu jalan-jalan ke mall, lalu eh di mall anak malah merengek minta beli mainan. Gegara merengek, menangis dan mungkin tantrum bikin malu di mall lalu sebagian orangtua tidak tahan lalu akhirnya mereka menuruti juga keinginan anak. "Iya beli iya.. tapi kali ini aja ya, nanti lagi tidak boleh seperti itu. Awas ya kalau nanti lagi begitu."
Coba perhatikan apa yang akan diterima pikiran anak saat orangtua melakukan tindakan semacam ini? "Tadi ayah ibu bilang tidak boleh beli mainan. Tapi... gegara aku nangis dan rewel ayah ibu membelikan juga. Oh nanti lagi kalau ayah ibu bilang tidak boleh, jangan percaya."
Jadi orangtua mengajarkan anak untuk tidak mempercayai ucapannya sendiri kan. Nah disinilah yang saya maksud awal pembangkangan. Anda akan menemukan anak akan semakin tidak patuh. Kenapa? Karena anak yakin bahwa besok-besok jika aku melakukan perlawanan, orangtua akan kalah.
Kedua, kebohongan yang dilakukan orangtua pada anak yang dilakukan terlalu sering juga membuat anak di masa depan menjadi pribadi-pribadi yang tidak mudah percaya pada orang lain, bahkan pada orang-orang terdekatnya, seperti pasangannya sendiri. Perasaan curiga dan berprasangka buruk dengan mudah menghinggapinya.
Tentu saja jika terus terjadi membuat pikiran dan hatinya menjadi mudah was-was dan cemas. Ketidakpercayaan pada orang-orang di sekitarnya juga dapat menyulitkan ia berinteraksi dan bersosialisasi di tempat kerja atau dalam pergaulan. Ketika jadi karyawan ia jadi tidak gampang bekerjasama dengan rekan-rekan kerjanya. Jika ia bisnisman, ketidakpercayaan pada bawahan membuat banyak pekerjaan yang akhirnya sulit didelegasikan pada orang lain. Bukan hanya membuat pertumbuhan bisnis jadi lambat tapi juga merepotkan diri sendiri karena banyak pekerjaan yang tidak strategis yang seharusnya dibagi pada bawahannya eh malah dikerjakan sendiri.
Ketiga, sekali berbohong pada anak akan menambah kebohongan lain dan akhirnya semakin merusak kepercayaan anak pada orangtua. Tanpa kepercayaan, akankah anak-anak itu lebih banyak terpengaruh nilai-nilai hidup orangtua? Boro-boro nilai-nilai hidup, ucapan atau nasihat orangtua yang sederhana saja sulit menancap dalam pikiran mereka.
Misalnya nih ada orangtua yang membohongi anaknya saat tukang es krim lewat di depan rumah "Jangan beli Nak. Es krimnya pahit." lalu anak menimpali "Tapi kenapa si Marko teman aku kemarin kok beli Ma?" karena tidak mau kalah sama anak, eh orangtua ini lalu berkata "dari dulu si Marko itu suka-sukanya makan yang pahit-pahit."
Keempat, karena anak umumnya lebih duluan kenal orangtua, lebih lama hidup dengan orangtua dibandingkan dengan siapapun di luar rumahnya, maka disadari atau tidak proses imitasi terjadi. Perbuatan itu juga berpeluang besar membuat anak jadi pribadi-pribadi yang juga menggampangkan berbohong atau membuat janji palsu. Tentu saja ini tidak disukai siapapun kan.
Jadi dengan alasan apapun, jangan pernah lagi berbohong pada anak. Kalau berbohong anak dibenarkan karena dalih anak-anak itu masih tidak mengerti atau paham, tidak benar kan? Sebab anak-anak dapat merasakan dan dalam proses pertumbuhannya akan terpengaruh lalu meniru seperti sudah dijelaskan tadi.
Dalam riwayat Abdullah bin Amir diceritakan tentang dirinya yang dipanggil sang ibu. Saat itu Rasulullah SAW sedang duduk di rumah mereka. Ibu Ibnu Amir berkata, "Kemarilah, aku akan memberimu sesuatu."
Lalu Rasulullah bertanya soal apa yang hendak diberikan kepada anaknya itu. Lalu ibu Ibnu Amir menjawab, "Saya bermaksud memberinya beberapa kurma."
Kemudian Rasulullah SAW bersabda, "Jika Anda tidak memberinya apa-apa, kebohongan akan dicatat." Dalam kitab Aun al-Ma'bud dijelaskan, hadits itu menunjukkan bahwa apa yang disampaikan kepada anak yang sedang menangis agar tangisannya berhenti, misalnya dengan berbohong akan memberinya sesuatu atau menakutinya dengan sesuatu yang dilarang, maka itu termasuk kebohongan.
Apa yang dicontohkan Imam Bukhari dalam meriwayatkan hadits bisa menjadi pelajaran bagi kita semua khususnya para orang tua. Suatu kali, dia datang menemui seorang syekh untuk mengambil hadits darinya. Ketika sedang duduk bersamanya, ada seorang anak dari kejauhan.
Syekh tersebut mengangkat tangannya sehingga anak itu datang karena berpikir akan menerima sesuatu. Syekh itu telah melakukan tipu muslihat seolah ingin memberi sesuatu padahal tidak ada yang diberikan. Imam Bukhari pun meninggalkan syekh itu dan tidak mengambil hadits darinya, karena kebohongan yang menurut kita mungkin kecil.