"Fasilitas yang kamu dapatkan di tempat kuliah sesungguhnya hasil jerih payah, keringat, kerja keras, kerja pikiran, jutaan orang yang turut membangun negeri ini melalui pajak dan iuran lainnya. Artinya,tak patut bangga masuk ke dalamnya jika tak amanah. Malah, kamu bisa jadi pengkhianat bangsa karena sudah menyia-nyiakannya. Sebaliknya jika kamu benar, kamu harus membalasnya dengan memberikan banyak manfaat kepada masyarakat setelah lulus kuliah.
Maka sungguh sedih jika penyelenggara negara dengan segala fasilitasnya bertindak tidak amanah, bekerja seadanya, arogan karena bintang yang dimiliknya, sewenang-wenang karena kewenangannya. Sungguh sakit hati jika setiap akhir tahun hotel-hotel penuh oleh penyelenggara negara hanya sekadar untuk menghabiskan anggaran bukan karena perencanaan yang matang. Padahal ada kantor yang juga sudah dibuat dengan tidak murah jika sekadar untuk rapat evaluasi akhir tahun, ketika mengingat bahwa uang yang digunakan adalah hasil iuran keringat dan jerih payah jutaan orang." Kira-kira begitu curhat saya pada anak saya ketika anak saya memutuskan mengambil kuliah di salah satu PTN yang ia sudah lulus dari seleksinya.
------
Suatu hari anak saya yang sedang kuliah bertanya. "Abah boleh tidak Teteh dapat beasiswa?"
Lalu saya menjawab "ya bergantung ketentuan beasiswanya. Jika ada beasiswa yang mensyaratkan untuk mendapatkannya dengan pencapaian atau prestasi, sebagai bentuk reward atas usaha dan kerja keras atas belajar dan berprestasi, ya boleh saja dapat beasiswa.
Tapi, jika beasiswa itu dalam ketentuannya juga ditujukan untuk kalangan tidak mampu, rasanya tidak pantas Teteh Salma dapat beasiswa.
Abah mugkin bukan orang kaya, tapi rasanya tidak pantas disebut orang tak mampu. Sebetulnya ketika teteh kuliah di Universitas Negeri, hakikatnya juga kuliah di PTS meski tidak dapat beasiswa."
"PTS? Apa itu PTS, bukannya Universitas negeri itu masuknya PTN?"tanya anak saya
"Yang Abah maksud itu Nak, PTS Perguruan Tinggi Subsidi. Begini, universitas negeri itu untuk operasional, gaji dosen, karyawan, Itu kan besar sekali. apalagi Teteh jurusan kuliahnya berkaitan medis yang peralatannya tidak murah. Nah Kampus untuk mememenuhi biaya itu darimana coba Nak?" saya bertanya balik dong pada anak saya.
"Dari biaya kuliah yang disetorkan tiap mahasiswanya bukan?" begitu anak saya menimpali.
"Benar, tapi tidak sepenuhnya benar. Kalau cuma dari biaya kuliah mahasiswa, tidak akan cukup, dengan biaya semurah itu, setidaknya dibandingkan yang swasta.
Jika tidak, biayanya akan seperti perguruan tinggi swasta. Kenapa sebagian besar PTN itu biayanya murah? Karena bagian besar lainnya dari biaya itu, ditanggung atau disubdisi negara.
Kalau pun kita kemarin bayar pake UKT tertinggi, tidak berarti kita bayar penuh juga. " sekadar informasi UKT itu kependekan dari Uang Kuliah Tunggal. sistem pembayaran kuliah dimana biaya yang dibayarkan mahasiswa per semester yang sudah total termasuk disitu SPP per semester, biaya praktik dll yang tidak ada iuran tambahan lagi.
Lalu saya bertanya lagi, "Teteh tahu, negara itu dapat uang dari mana?
"Dari pajak", jawabnya.
"Benar, salah satunya." jawab saya. Lalu saya melanjutkan. "Negara ini dapat menjalankan pembangunan, dari iuran warganya, dari iuran rakyatnya. Ada yang dari pajak, ada yang dari cukai, ada yang dari retribusi, ada yang dari penerimaan negara bukan pajak seperti deviden yang dihasilkan perusahaan negara dan lain-lain.
Jadi ketika Abah membayar pajak, hakikatnya Abah ikut berkontribusi, ikut menyumbang, ikut iuran dalam menjalankan dan membangun negara ini, termasuk untuk membangun dan menjamin penyelenggaraan pendidikan di universitas negeri.
Artinya Nak, ketika Teteh kuliah di universitas negeri, hakikatnya teteh itu menikmati keringat banyak orang, menikmati hasil iuran banyak orang, menikmati hasil jerih payah banyak orang. Karena itu kalau kuliah teteh gak bener, padahal kuliahnya dibiiayai banyak orang, artinya teteh sebetulnya pengkhianat bangsa ini..."
"wahhh kalau gitu mahasiswa yang di swasta kuliah gak bener tidak apa-apa dong, kan tidak dibiaya negara?" tanyanya lagi.
"Kalau itu beda kasus, mungkin dia bukan pengkhianat bangsa, tapi jika kuliahnya sepenuhnya dibiaya orangtuanya, berarti kalau kuliah gak bener ya pengkhianat orangtuanya dong. hehe...."
https://youtu.be/_jaJ_fAnytM
Obrolan sederhana ini lalu saya ceritakan pada salah satu teman saya, kepala dinas di salah satu instansi pemerintahan di kota saya. Ketika mendengarnya dia merespon dengan kaget.
"Waduh, Abah, ini penting nih di denger staf staf saya.. sebentar sebentar saya catat apa tadi? Pengkhianat apa? Pengkhianat Bangsa?" seingat saya kenal beliau, pejabat ini dengan jabatan selevel dia terlihat sederhana dan memang jujur orangnya. Saya kenal dia sejak dia jadi camat.
Dia kemudian mengatakan "Artinnya abah, gaji saya, gaji staf saya, fasilitasnya, mobil dinasnya, pada hakikatnya adalah hasil keringat dna iuran banyak orang, masyarakat di luar tembok kantor ini." selama ini dia sudah faham bahwa menyelenggarakan negara dapat biaya dari semacam pajak, tapi rupanya dapat insight ketika saya ganti kata pajak itu dengan istilah iuran banyak orang.
Lalu saya menanggpi lagi "Benar dan maaf pak. karena itu saya suka sakit hati pak kalau di akhir tahun hotel-hotel penuh oleh acara-acara dinas yang sebetulnya skadar menghabiskan anggaran.
Kenapa harus dihotel kalau cuma sekadar rapat evaluasi, kan ada kantor dengan alasan agar lebih serius? Emang di kantor selama ini gak serius? Kenapa anggaran harus diabiskan akhir tahun, apakah jika tidak terserap tahun ini maka tahun depan tidak diberikan lagi? Kalau begitu masalahnya bukan ngabisin anggadan akhir tahunnya tapi perencanaanya dari awal masih belum matang kalau masih bingung menghabiskan anggaran.
"Kenapa saya sakit hati pak?" tanya nya.
"meskipun pajak saya tidak sebanyak perusahaan besar, tapi saya tahu ketika saya menyetorkan pajak tiap bulan tiap tahun... itu kan didapatkan tidak dengan mudah. dengan kerja keras, kadang dengan air mata, dengan banyak pengorbanan."
"Iya Abah... masya Allah, saya harus bilang ini ke staf saya. termasuk kalau mereka sering bolos, kerja gak bener, arogan sama masyarakat, main hape di kantor, mungkin rezekinya, gajinya akhirnya tidak berkah ya Abah?" tanya dia.
"wallahua'lam pak...itu Allah yang Maha tahu."kata saya.
Lalau pada beliau, saya mnceritakan kejadian khalifah umar. "Ingat nggak pak cerita saat umar bin Abdul Azis yang didatangi anaknya malam-malam. Sebelum bicara Umar bertanya pada anaknya? Ini urusan negara atau keluarga Nak?"
Anaknya menjawab "ini urusan keluarga Ayah." lalu umar mematikan lampu minyak yang ada di dekatnya dan bicara dengan anak dalam keadaan tanpa lampu. Umar merasa tidak layak mengugnakan fasilitas negara untuk kpentingan keluarga."
"sebetulnya tidak apa menggunakan fasilitas negara yang dinikmati keluarga jika memang dibolehkan oleh ketentuannya, sebagai akad kerja, atau sesuai aturan. Tapi jika tidak sesuai aturan dan ketentuan ya ada tidak boleh digunakan untuk kepentingan keluarga yang dijemput di bandara misalnya, atau untuk mudik keluar kota misalnya. jika ketentuannya tidak boleh, ya sebaiknya mobil dinas hanya dipake untuk berdinas bukan untuk kepentingan keluarga. Karena sebetulnya itu bagian dari abuse of power, kesewenang-wenangan.
Lalu istrinya yang di sebelah teman saya ini menimpali "insya Allah ,masya Allah Abah, saya gak akan bersedia dinikahi laki-laki ini kalau tidak jujur. Alhamdulillah suamiku ini abah gak pernah mau pake mobil dinas kalau bukan untuk urusan kerja." katanya sambil senyum-senyum melirik suaminya.
Lalu jadi saya baru teringat dengan sedih kelakuan beberapa waktu lalu tentang kejadian perempuan yang ngaku anak orang berpangkat, lalu arogan. padahal bokapnya, digaji, dapat fasilitas karena iuran keringat banyak orang.
Semoga negeri ini ke depan semakin lebih baik. Semakin menghasilkan pemimpin yang baik. Penyelenggara negara yang amanah, juga rakyat yang amanah.Amin. Semoga ada diantara anak kita yang menyimak video ini menjadi anak yang shalih tapi juga sukses dunia meraih kekuasaan tapi dengan ketakutan pada Allah sehingga mereka takut untuk tidak amanah. Amin
Ya sudah itu aja ceritanya. semoga bermanfaat
Assalamualaikum.