Seorang ibu warga Desa Cihaur, Kecamatan Cibeber diancam anak kandungnya sehingga harus pergi ke tempat aman. Euis Suryati pun sempat merekam video berdurasi 37 detik meminta perlindungan kepada Kapolres Cianjur dan viral di media sosial.
Dalam video itu ibu yang sudah mulai sepuh ini merasa terancam oleh sang anaknya buntut dari kejadian ia mengamuk meminta sejumlah uang dan sempat ramai dilerai oleh saudara-saudaranya dan warga yang merasa terganggu. Diketahui anaknya dalam keadaan mabuk dan hilang kesadaran.
Ibu ini meminta kepada Kapolres Cianjur untuk melindunginya karena ancaman sang anak. (sumber: RadarCianjur.com: https://www.instagram.com/reel/CiP1RdgPOwf/?igshid=MDJmNzVkMjY%3D)
Saya tidak ingin menyebutkan benar atau salah apa yang dilakukan ibu ini? Dua pertanyaan yang ingin saya ajukan adalah: Pertama, kenapa ibu ini membuat video dulu tidak langsung melaporkan anaknya, bukankah ini membuka aib keluarganya? Kedua, mengapa anak kandung ini sampai berani bertindak mengancam keselamatan orangtuanya?
Untuk jawaban pertanyaan pertama, kenapa ibu berani membuka aib keluarganya? Boleh jadi karena sang ibu sudah frustasi, sudah melakukan berbagai cara. Boleh jadi ibu ini dapat masukan dari banyak orang, orang terdekatnya, karena yang terancam bukan hanya beliau tapi juga warga di sekitarnya.
Tapi mengapa harus disebarkan di medsos? Boleh jadi beliau dapat input bahwa di negeri antahberantah sebuah kasus hukum akan cepat diurus tuntas jika: 1) Didukung relasi kuasa (punya koneksi kuasa) 2) Didukung massa (memviralkan adalah ikhtiar salah satunya).
Lagi, saya tidak ingin mengatakan benar atau salah. Saya hanya ingin berusaha memahami situasinya berdasarkan kasus-kasus yang saya pelajari lebih dari 15 tahun tentang ini.
Untuk pertanyaan kedua, kenapa anak berani mengancam ibunya sejauh ini? Terus terang, ini bukan kabar pertama. Saya sudah kenyang dengan aduan mirip ini, maka ketika beberapa waktu lalu seorang anak SMP ngamuk minta motor dan tidak diberikan, saya sebutkan waktu itu, itu bukanlah level paling tinggi (parah) dari anak-anak yang “rusak”.
Jika boleh saya menyebutkan, anak SMP yang ngamuk minta motor tidak diberikan adalah level 7. Level 8 nya apa? Ketika anak berani kabur-kaburan tapi balik lagi dan balik lagi. Level 9: Ketika anak sudah berani menantang berkelahi dengan bapaknya, mencuri barang orangtuanya untuk kepentingan dia. Level 10: ia berani mengancam orangtua dan bahkan berani membunuh orangtuanya.
Jadi mengapa anak ini berani bertindak begitu? Jawabannya kompleks. Jelasnya, keberanian anak ini untuk melakukan tindakan buruk tidak datang dengan sendirinya. Tapi jika disederhanakan kira-kira begini: JIKA ORANGTUA SERING DIKALAHKAN TANGISAN ANAK ketika anak kecil, maka tak sulit bagi anak, membuat ORANGTUA NANGIS SETELAH ANAK-ANAK INI DEWASA