Jangan Bisu Saat Anak Bertingkah Baik

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

01-Nov-2022


Mana yang lebih banyak bicara? Saat anak berbuat baik atau saat anak berbuat buruk? Saya memilih, saat anak berbuat buruk sedikit saja bicaranya, lebih banyak bertindak (memberikan batasan, konsekuensi jika sudah melewati batas dan seterusnya). Tapi saat anak berbuat baik, justru memilih untuk mengeluarkan apa yang saya pikirkan, mengeluarkan perasaan-perasaan positif yang saya rasakan. Hasilnya? Saya mendapatkan perbuatan-perbuatan baik makin meningkat.

Misalnya saat suatu hari seorang anak kita “pergoki” tanpa disuruh melakukan sebuah kebaikan, maka saya akan bilang ke anak “Abang gak disuruh kok mau bantuin?” Lalu anak saya menjawab “Pengen aja!”. Saya akan menanggapi lagi, “Abah beruntung sekali punya anak seperti Abang Babas. Abang Babas senang sekali berbuat baik.”

Atau saat anak melakukan kebaikan yang diminta sekalipun, meski mungkin seperti tidak “ikhlas” maka saat dia memiliki perasaan positif, bahwa membantu, menolong, berbuat baik itu menyenangkan dan membahagiakan dirinya, maka lama kelamaan mereka akan senang hati melakukan banyak kebaikan meski diminta, bukan karena inisiatif sendiri.

Praktik ini saya lakukan karena terinsipirasi banyak ucapan orang-orang di sekitar saya pada saya yang ternyata setelah dewasa menjadi kenyataan. Ibu saya pernah bercerita pada seorang tamu yang datang ke rumah ketika melihat saya baca buku waktu kecil “Eta budak hiji emang rada beda, meuni reuseup ka buku teh! (itu anak satu memang beda, suka banget sama buku). Padahal boleh jadi saya hanya sesekali baca buku, tapi karena dapat “label” itu akhirnya malah makin mendorong saya sejak kecil jadi rajin baca buku.

Suatu hari ada seorang sahabat ayah saya suatu hari berkata “Ieu budak bisaan pisan ngomongnya, bade jadi ahli pidato, Jang?” (ini anak pinter banget komunikasinya, mau jadi ahli pidato, Nak?). Atau bahkan kakak saya pernah berkata pada temannya yang suatu hari bertanya tentang saya “Si Ihsan memang budakna pantang menyerah!” membuat banyak kejadian tidak mudah dalam hidup saya dapat dilewati, meski tidak semua, karena saya memiliki keyakinan positif: “Saya anak pantang menyerah”. Mungkin teman-teman yang sudah pernah ikut pelatihan 2 hari saya ini pernah mendengar cerita saya soal ini kan?

Mengapa kalau kita bicara mengeluarkan perasaan positif yang kita rasakan saat anak berbuat baik malah menambah kebaikan anak? Terlalu banyak penjelasan ini, baik dari pendekatan agama atau sains. Tapi kira-kira yang paling sederhana adalah jika melalui pendekatan agama mungkin kita menyebut dengan bahasa simpel: bersyukur. Barang siapa yang bersyukur akan ditambahkan nikmatnya.

Penjelasan sains yang paling sederhana adalah soal energi dan vibrasi. Setiap benda yang bergerak pada dasarnya akan bergetar dan semua yang bergetar akan memancarkan gelombang. Ketika sebuah benda bergerak lebih kuat maka akan menimbulkan efek resonansi pada benda-benda di sekitarnya. Itu sebabnya dengan mudah kita temukan orang jatuh cinta di lokasi yang sama (cinlok) karena saat mereka terus berinteraksi dan berkomunikasi mereka akan terus melakukan penyesuaian-penyesuaian (beresonansi). Mungkin terlalu panjang jika dijelaskan, Anda boleh menonton video Prof. Yohanes Surya soal getaran dan gelombang ini. Maka demikian pula jika kemudian anak-anak kita, pikirannya sering kita “resonansi” dengan afirmasi-afirmasi positif, masya Allah maka normalnya anak kita akan memiliki keyakinan positif tentang dirinya.

Sebaliknya, kalau anak berbuat buruk kenapa tidak boleh banyak bicara? Karena umumnya saat anak berbuat buruk, emosi kita lagi negatif sebagai orangtua bukan? Jika emosi lagi negatif, yang akan keluar dari lisan kita kalimat-kalimat positif atau negatif? Cenderungnya negatif bukan? “Kamu tuh iseng banget sih anaknya!”, “Masa gitu aja gak bisa?”, “Malas banget sih kamu jadi anak!”, “Sukanya itu loh ngelawan orangtua!”

Apa yang terjadi jika kalimat itu berulang dan diterima pikiran anak kita? “Aku anak iseng, aku anak yang gak becus, aku anak malas, aku anak yang suka ngelawan.” Ingat tubuh anak (hardware) akan terus digerakkan oleh pikiran mereka sendiri (software). Karena itu di dalam surat An-nisa Ayat 9, Pencipta kita memberitahu kita bahwa ternyata salah satu penyebab anak-anak dalam keadaan lemah adalah karena perkataan yang tidak benar (QOULAN SADIDA). 



0 Komentar



Komentar :

Wiji Ayu Prihatin
Posted : 24-11-2022
MasyaAllah namanya belajar tidak akan pernah berhenti