Jurnal Emosi

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

02-Jan-2023


Apa pekerjaan orang bunuh diri sebelum bunuh diri? Banyak ngomong atau banyak diam? Apa yang dilakukan orang-orang yang terganggu jiwanya dengan hebat? Membuka diri atau menutupi diri? Maka tak jarang, orang-orang berbahaya di dunia bukan orang yang banyak bicara, tapi banyak diam. Betapa bahayanya jika kita tak mau bercerita apa yang kita rasakan, apakah yang kita alami. 

Setiap waktu, sebetulnya normal semua manusia, sehebat apapun, sesukses apapun, sebahagia apapun, seceria apapun mereka hari ini, mereka akan mengalami tekanan-tekanan mental dalam berbagai variasi dan dalam berbagai kegiatan. Banyak hal menjadi penyebabnya dalam kondisi berbeda-beda pada setiap orang yang berbeda. Ada yang karena tekanan pekerjaan, sekolah, pertemanan, interaksi, keluarga, keuangan, dan lain sebagianya. 

Stres atau yang berasal dari bahasa Inggris stress secara harfiah berarti menekan, tekanan, atau tegangan. Ketika kita mengalami stres artinya pikiran kita, jiwa kita sebagai manusia lagi ditekan. Stres sendiri dalam porsi yang tepat sebetulnya tidak membahayakan jiwa manusia. Gaya tekan atau stres sebetulnya bermanfaat dalam kehidupan kita jika dalam porsi yang tepat untuk menghasilkan energi atau dorongan. Stres atau tekanan menjadi berbahaya untuk kejiwaan manusia jika stress itu ditumpuk-tumpuk dan akhirnya menjadi benar-benar berbahaya untuk kejiwaan manusia. Saat tidak kuat untuk menahan tekanan, jiwa manusia dapat ambruk, rontok, letih, karena tidak mampu menahan beban tekanan itu. Puncak ambruknya manusia jika tidak bunuh diri, bunuh orang. Ini simpelnya ya, penjelasannya tentu lebih kompleks dari ini. Saya buat seperti itu agar mudah dipahami.  

Kerapkali jiwa manusia menjadi rusak karena stres bukan karena stresnya itu sendiri tapi karena akumulasi stres yang ditumpuk-tumpuk dan disimpan, tidak dikeluarkan dalam pikiran manusia. Ilustrasinya kira-kira sebagai berikut: bayangkan Anda mengangkat botol air mineral 500 ml di atas kepala dengan 1 tangan, berat tidak? Tentu saja ringan bukan? Bagaimana jika Anda angkat gelas itu selama 2 jam dengan posisi yang sama? Mulai berat bukan? Bagaimana jika Anda tahan gelas itu dengan posisi yang sama selama 24 jam? Saya tidak yakin sebagian besar kita akan kuat melakukannya. Bayangkan jika puluhan dan ratusan hari?

Tekanan-tekanan hidup itu banyak yang disimpan, bertumpuk-tumpuk, tidak dikeluarkan dari pikiran. Apa yang terjadi? Menekan jiwa, merusak jiwa. Nah untuk mengeluarkan tekanan itu sebetulnya tidak harus selalu dengan menyelesaikan masalah penyebab stres itu sendiri sebetulnya. Tentu menyelesaikan masalah adalah solusi terbaik. Hanya saja, kadang tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan cepat bukan? Akibatnya, disimpan, disimpan, disimpan dan bertumpuk satu sama lain. 

Lalu, cara lain agar tekanan itu tidak disimpan seperti apa? Jawabannya ya jangan disimpan, tapi dikeluarkan. Dengan cara apa? Ada dua cara sederhana yang sebetulnya kita dapat lakukan untuk mengurangi bahaya dari tekanan berlebihan. Mungkin tidak menghilangkan seluruhnya, tapi setidaknya sains telah membuktikan bahwa cara itu benar-benar membantu secara efektif mengurangi daya rusak dari tekanan stres. 

Cara sederhana pertama adalah dengan menangis. Menangis adalah respon alami yang dimiliki manusia terhadap serangkaian emosi, termasuk kesedihan, kegembiraan, dan frustrasi. Tapi apakah menangis memiliki manfaat kesehatan?

Dari berbagai literatur, kita mendapati bahwa pada dasarnya manusia menghasilkan tiga jenis air mata: pertama, air mata basal: saluran air mata secara konstan mengeluarkan air mata basal, yang merupakan cairan antibakteri kaya protein yang membantu menjaga kelembaban mata setiap kali seseorang berkedip. Kedua, refleks: Ini adalah air mata yang dipicu oleh iritasi seperti angin, asap, atau bawang. Mereka dilepaskan untuk menghilangkan iritasi ini dan melindungi mata.

Air mata ketigalah yang saya ingin bahas dalam konteks tulisan ini, air mata emosional yaitu manusia meneteskan air mata sebagai respons terhadap berbagai emosi. Air mata ini mengandung tingkat hormon stres yang lebih tinggi daripada jenis air mata lainnya. Ketika orang berbicara tentang menangis, mereka biasanya mengacu pada air mata emosional.

Sudah banyak studi yang menemukan manfaat menangis. Sebagian orang mungkin mencoba menahan air mata karena menganggapnya sebagai sebuah tanda kelemahan jiwa. Tetapi sains menunjukkan bahwa menghindari menangis justru berarti menghindari berbagai manfaat yang akan didapatkannya. Para peneliti telah menemukan bahwa menangis memberikan manfaat untuk kesehatan (tubuh dan mental manusia) diantaranya, pertama memberikan efek menenangkan. 

Sebuah studi di tahun 2014 menemukan bahwa menangis memiliki efek menenangkan diri secara langsung pada orang. Studi tersebut menjelaskan bagaimana menangis mengaktifkan sistem saraf parasimpatis (PNS), yang membantu orang rileks. (sumber: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4035568/). 

Penelitian yang dilakukan di tahun 2016 telah menemukan bahwa selain menenangkan diri, meneteskan air mata emosional melepaskan oksitosin dan endorfin. Bahan kimia ini membuat orang merasa nyaman dan juga dapat meredakan rasa sakit fisik dan emosional. Dengan cara ini, menangis dapat membantu mengurangi rasa sakit dan meningkatkan rasa sejahtera. (Sumber: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4035568/). 

Nah ini yang jadi masalah, meski menangis itu bermanfaat, di sebagian budaya, menangis sering dianggap tanda kelemahan. Apalagi jika ini dikaitkan dengan masalah gender. Ada diskriminasi terkait perbuatan menangis ini terutama untuk laki-laki. Pernah dengar kalimat ini “Anak laki kok nangis?!” 

Anda tahu betapa berbahaya kalimat itu untuk laki-laki setelah mereka dewasa? Saya membaca buku berjudul “Why men die first?” Yang dari judulnya saja, sudah mengejutkan saya. Saya dalam hati berkata "benarkah?" Tapi melihat fakta dan data yang dibeberkan di buku itu, masuk akal. Di buku itu dijelaskan secara ilmiah berbagai studi, akibat laki-laki menahan perasaan. Akibat menahan, seperti contoh ilustrasi yang saya sebutkan sebelumnya tentang memegang botol air mineral, ya akhirnya menekan kejiwaan laki-laki dengan lebih hebat. Saat jebol apa yang terjadi? Tingkat bunuh diri laki-laki dua kali lipat dari perempuan. Penyakit jantung menyerang laki-laki 13 tahun lebih cepat dibandingkan perempuan. 

Sebagai seorang muslim, saya kok merasa ada yang aneh dengan kalimat "laki-laki kok nangis?" Kenapa? Karena seingat saya seorang Nabi Muhammad pun, adalah orang yang tak segan menangis, bahkan di depan para sahabat. Jika Rasulullah jaim, tentu tidak akan para sahabat melihat Rasulullah menangis bukan? 

Sahabat Bilal bin Rabah pernah melihat janggut Rasulullah yang mulia basah oleh air mata, kemudian Bilal berkata, “Ya Rasulullah mengapa Engkau menangis ketika Allah SWT mengampunimu atas segala apa yang telah lalu dan apa yang akan datang. Rasulullah menjawab, “Apakah saya harus tidak menjadi hamba yang bersyukur?"

Rasulullah menangis karena kehilangan orang-orang yang dicintainya. Putri Rasulullah SAW, Ummu Kultsum jatuh sakit. Dia merasakan kematiannya telah dekat dan ia tetap berada di tempat tidurnya. Ummu Kultsum tak pernah berhenti berzikir. Hingga pada pagi hari, Aisyah datang menemuinya. Dia mendapati Ummu Kultsum tengah berjuang di akhir hayatnya. Kabar itu pun disampaikan pada Rasulullah dan Utsman bin Affan. Saat Rasulullah tiba, putrinya itu berada pada saat-saat terakhirnya. Air mata Rasulullah menetes dari matanya. Ketika itu, Ummu Kultsum wafat. 

Banyak fakta lain tentang Rasulullah yang tak segan menangis. Apakah kita akan menganggap seorang Rasul itu lemah jiwanya? Kenapa menangis dianggap sebuah kelemahan? Apakah kita akan menganggap seorang Rasul cengeng? Yang saya pahami cengeng itu adalah ketika seseorang tidak berani bertanggung jawab dengan masalah yang dibuatnya bukan soal mengeluarkan air mata. Ketika seorang laki-laki berani mengambil peran misalnya menjadi seorang ayah, seorang karyawan, seorang suami tapi tidak melakukan peran itulah yang saya kira pantas disebut lemah, cengeng, bertanggung jawab. 

Jadi berhentilah mengatakan kepada anak laki-laki Anda, “tidak boleh menangis!” Jangan khawatir, sebanyak apapun laki-laki menangis, tidak akan sebanyak perempuan kok. 

Cara sederhana kedua untuk mengurangi, sekali lagi, mengurangi, tekanan mental agar “tidak dipegang” terus oleh pikiran adalah dengan bercerita atau curhat. Nah ini lebih lagi masalahnya untuk laki-laki. Menangis saja tidak boleh, apalagi menceritakan masalah. Karena itu tidak heran, dalam budaya-budaya tertentu, laki-laki menceritakan masalah itu dianggap lemah. Kenapa? Karena ketika laki-laki bercerita masalah, mereka khawatir dianggap tidak becus bertanggung jawab menyelesaikan masalah.

Masalahnya adalah apakah benar bercerita masalah itu dianggap sebagai ketidakbecusan? Apakah benar ada seseorang yang mampu menyelesaikan semua masalah sepanjang hidupnya tanpa benar-benar butuh bantuan orang lain? Seorang bos besar saja untuk sukses membutuhkan tim atau karyawan bukan? Artinya, pada dasarnya semua manusia itu akan membutuhkan orang lain dalam batas tertentu. 

Mungkin kita pernah dengar kalimat semacam ini "buat apa bercerita jika tidak ada solusi yang didapatkan!" Dalam konteks tertentu seperti politik, itu memang benar. Tapi dalam konteks hubungan personal sebetulnya bercerita (tanpa harus mendapatkan solusi) itu juga bermanfaat. Jika Anda belajar ilmu komunikasi atau psikologi, Anda akan mendapatkan banyak penjelasan mengapa ini bermanfaat untuk kejiwaan manusia. Manusia yang terisolasi dengan orang lain akan mendapati dirinya kesepian, kesulitan bersosialisasi dan akhirnya mengalami kesulitan dalam melakukan berbagai macam kegiatan interaksi dengan manusia lain (silahkan pelajari social penetration theory atau self disclosure theory dalam komunikasi interpersonal). 

Coba ingat-ingat waktu Anda sekolah dulu, pernahkah kita bercerita pada sahabat, teman, orangtua, tentang masalah kita lalu setelah itu ada perasaan lega yang kita rasakan? Padahal sahabat, teman atau keluarga kita belum tentu juga selalu ngasih solusi bukan? Yang mereka lakukan sederhana, berdiam, mendengarkankan cerita dari masalah kita.

Sebetulnya perasaan lega yang kita rasakan setelah kita bercerita itu dapat dijelaskan secara ilmiah. Banyak juga penelitian dalam psikologi dan ilmu saraf memberi penjelasan kenapa ini terjadi. Membicarakan masalah kita dan mengungkapkan perasaan negatif kita kepada teman-teman dan berakibat pada kelegaan itu sudah dilakukan banyak orang sejak ratusan tahun lalu. Dalam berbagai bentuk psikoterapi, dari psikoanalisis hingga pendekatan eksistensial dan kognitif-perilaku, inti dasarnya adalah ikatan kepercayaan antara klien dan terapis yang mendukung pengungkapan diri klien, proses berbagi masalah mereka, dan rasa sakit emosional. Penelitian telah menunjukkan bahwa berbicara tentang masalah kita dan berbagi emosi negatif kita dengan seseorang yang kita percaya dapat sangat menyembuhkan—mengurangi stres, memperkuat sistem kekebalan kita, dan mengurangi tekanan fisik dan emosional (Pennebaker, Kiecolt-Glaser, & Glaser, 1988).

Menceritakan atau melakukan verbalisasi perasaan kita juga membantu menyembuhkan rasa sakit emosional. Studi ilmu saraf oleh Lieberman et. Al. (2007) dan Vago dan Silbersweig (2012) telah menemukan bahwa melabeli perasaan kita mengurangi aktivasi di amigdala, sistem alarm otak kita yang memicu reaksi fight  (lawan)atau flight (lari). Ketika kita menyampaikan kata-kata pada emosi kita, kita menjauh dari reaktivitas limbik dengan mengaktifkan bagian otak yang berhubungan dengan bahasa dan makna di korteks prefrontal ventrolateral kanan (Lieberman et al, 2007)

Jadi bercerita adalah salah satu cara efektif untuk mengurangi tekanan itu. Dengan bercerita kita seolah mengeluarkan tekanan itu dan tidak terus memegangnya

Ada berapa jalan untuk kita bercerita tentang perasaan kita, yang pertama tentu komunikasi langsung face to face dengan bahasa verbal. Orang yang sering ngobrol dengan orang lain akan memiliki jiwa yang sehat dan "diri" tidak merasa terisolasi dan kesepian. Jadi boleh saja kita bertemu banyak orang tiap hari tapi tetap diri masih terisolasi dan karena merasa kesepian karena jarangnya seseorang ngobrol dan bercerita dengan orang di sekitarnya

Ini termasuk dengan anggota keluarganya sendiri. Tak sedikit keluarga-keluarga modern sekarang, sudah dari pagi hari sampai sore berpisah dengan anggota keluarga lain, tapi di rumah, sibuk sendiri-sendiri seperti kost-kostan. Ayah "dzikir whatsapp", ibu nonton televisi, anak pertama nonton youtube, anak kedua main games. Semoga yang membaca tulisan ini bukan termasuk keluarga "kost-kostan" yang dimaksud

Bagaimana dengan media sosial? Kan banyak tuh orang curhat di media sosial terkait masalah-masalah kehidupannya? Kegiatan bercerita tatap muka langsung ini sama sekali tidak dapat digantikan oleh media sosial. Justru media sosial pada dasarnya bukan tempat yang tepat untuk tujuan ini. Sebaliknya, banyak studi atau penelitian yang membuktikan bahwa makin sering menggunakan media sosial makin kesepianlah penggunanya. Terlebih lagi pada anak muda. Diantaranya penelitian berikut: https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/20563051211033821

Cara kedua bercerita adalah dengan membuat tulisan. Menulis tentang masalah kita adalah cara lain untuk melepaskan rasa sakit emosional dan mendapatkan perspektif yang lebih besar. Psikolog James Pennebaker (1997) telah menemukan bahwa menulis tentang pengalaman emosional meningkatkan kesehatan mental dan fisik seseorang. Pennebaker menjelaskan teorinya bahwa menyimpan rahasia itu menyakitkan dan dapat mendorong stres, meningkatkan risiko penyakit. Sebaliknya, jika seseorang mengungkapkan kesakitannya, baik lisan atau tulisan, mengurangi stres penghambatan jangka panjang, yang mengarah ke kesehatan yang lebih baik (Pennebaker, Kiecolt-Glaser, & Glaser, 1988).

Saat menulis, kita juga dapat merasakan efek penyembuhan dengan latihan mindfulness sederhana dengan sadar mencatat dan melabeli emosi kita (“sedih”, “cemas”, “bingung”). Dengan memperhatikan dan menamai perasaan ini, kita dapat melihatnya menghilang, memudar dari pikiran kita saat kita menjadi lebih sadar, terpusat, dan damai (Lieberman et al, 2007).

Di sekolah yang saya rancang: Sekolah Cahaya Nalar, setiap murid diwajibkan setiap hari membuat jurnal perasaan sebagai salah satu ikhtiar memperhatikan kesehatan mental mereka. Untuk yang belum dapat menulis, guru akan meminta murid untuk menggambar, menggambar apapun yang ada "kepikiran" oleh mereka. Umumnya, dari gambar itu, guru dapat mengetahui apa yang mereka rasakan. Tentu dengan memberi kesempatan pada murid untuk bercerita dengan bahasa verbal tentang apa yang mereka gambar.  

Misalnya pernah dalam sebuah sesi uji coba, saat seorang anak dengan 2 adik, diminta menggambar. Lalu hasil gambar terlihat dia menggambar ayah, ibu dan adik, lalu tidak ada adik satu lagi di sana. Lalu ditanyalah oleh guru "kenapa adik satu lagi tidak ada Nak?" Jawaban murid ini kira-kira begini "aku benci adik A, karena adik kalau salah tidak dihukum ayah ibu, tapi kalau aku yang salah, pasti aku dihukum. Aku juga sering disuruh ngalah sama adik!" 

Bagaimana jika tidak nyaman bercerita dengan sesama manusia? Umat beragama memiliki cara unik untuk "membersihkan" jiwa mereka yaitu dengan apa yang disebut berdoa. Saat berdoa, manusia mengadu pada Sang Pencipta, tentang masalah, kesedihan, kesulitan dan lain sebagainya. Jadi ketika manusia berdoa pada dasarnya manusia juga bercerita pada Penciptanya, manusia mengadu atau curhat pada Penciptanya. Itu sebabnya ada perasaan lega setelah berdoa, lepas dari doa itu dikabulkan atau tidak. Apalagi kita termasuk orang yang memiliki keyakinan bahwa setiap doa dikabulkan dengan salah satu diantara tiga cara: dikabulkan, ditunda untuk waktu tertentu atau diganti dengan yang lebih baik

Jadi, jika Anda tidak terlalu nyaman berhubungan dengan manusia, setidaknya rajin-rajinlah berhubungan dengan Tuhan Anda sendiri. Terbaik adalah nyaman dengan manusia, nyaman pula dengan Pencipta manusia. Terburuk, hubungan dengan manusia tidak bagus, hubungan dengan Tuhan seadanya.

Referensi:

Lieberman, M. D., Eisenberger, N. I., Crockett, M.J., Tom, S. M., Pfeiffer, J. H., & Way, B. M. (2007). Putting feelings into words: Affect labeling disrupts amygdala activity in response to affective stimuli. Psychological Science, 18, 421-427.

Pennebaker, J. W. (1997). Writing about emotional experiences as a therapeutic process. Psychological Science, 8, 162-166.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4035568/

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4035568/

https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/20563051211033821



1 Komentar



Komentar :

Rahayu
Posted : 20-02-2023
MasyaAllah luar biasa a