"Anak saya, perempuan berumur 7 tahun bulan depan, saya dan ayahnya bercerai awal tahun ini. Jujur saya bingung kapan sebaiknya anak diberitahu mengenai hal tersebut? Sampai saat ini saya belum memberitahunya."
Mom Dy
Karena ini masalah yang tidak sederhana, maka izinkan saya membagi postingan ini. Kapan usia tepat memberitahukan penceraian? Harus lebih dahulu dipahami bagaimana cara anak-anak berpikir dan merasa sesuai dengan usianya. Jadi tidak tiba-tiba usia sekian bagus, usia sekian tidak bagus.
Perceraian adalah peristiwa kompleks menurut orang dewasa. Jika ada yang menyebutkan "ketidakcocokan" sebagai penyebab perceraian, sebenarnya itu hanya 'permukaan' dari berbagai variabel kompleks yang ada di bawahnya. Tetapi bagi anak-anak, perpisahan kedua orangtuanya sebetulnya berfokus lebih sering pada pertanyaan-pertanyaan sederhana: lalu ibu/ayah tinggal dimana? Apakah masih sering bertemu denganku?
Tentu saja anak pun akan bertanya "mengapa ayah dan ibu bercerai?" Akan tetapi sebanyak apapun orangtua menjelaskan pada anak, orangtua tidak bisa menuntut anaknya dapat memahami sebagaimana pikiran orang dewasa. Anak-anak tetaplah anak-anak yang cara berpikirnya masih terus berkembang. Yang dapat kita lakukan adalah sedapat mungkin mengurangi dampak buruk bagi anak-anak akibat perceraian dan memastikan bahwa mereka masih dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik.
Tetapi untuk sedikit memahami "situasi dan cara berpikir dan merasa anak-anak" kira-kira perbedaannya begini:
0-3 tahun:
> Ketergantungan tinggi pada orangtua atau pengasuhnya
> Belum mampu mememahami kejadian kompleks seperti perceraian dan belum memiliki perasaan khawatir pada kejadian apapun selanjutnya akibat perceraian tersebut.
> Masih berpusat pada diri sendiri (egosentris)
4-6 tahun:
> Mulai membangun kemandirian, tapi masih memiliki ketergantungan tinggi pada orang dewasa
> Mulai memahami sedikit tentang hukum sebab - akibat, tapi belum dapat membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan akibat perceraian tersebut.
> Mulai memahami dunia dan lingkungan sekitarnya
> Belum bisa membedakan secara jelas antara khayalan dan kenyataan (fantasy & reality)
> Mulai memahami tentang perasaan tapi belum terampilan bagaimana mengungkapkan dan mengkomunikasikannya.
7-8 tahun:
> Jika orangtua memberikan pengasuhan yang tepat, ia sudah memiliki kemampuan berpikir yang baik dan mulai terampil mengungkapkan perasaan dengan benar
> Mulai membaurkan diri dengan lingkungan sekitarnya (bersosialisasi), memahami dunia, mengurangi egosentris, tapi masih kesulitan memahami tentang hubungan kompleks seperti perceraian
9-11 tahun:
> Kemampuan berpikir yang sudah sangat baik membuat mereka lebih mudah untuk memahami, berpikir dan berbicara tentang perasaan dan keadaan yang terkait dengan perceraian.
> Hubungan di luar keluarga lebih berkembang sehingga pengaruh orang lain, penilaian orang lain, mulai masuk pada diri anak.
> cenderung melihat sesuatu secara hitam dan putih; dan cenderung menyalahkan salah satu atau kedua orangtua tentang perceraian.
12-14 tahun:
> Kapasitas yang lebih besar untuk memahami masalah yang berkaitan dengan perceraian
> Kemampuan untuk mengambil bagian dalam diskusi dan mengajukan pertanyaan untuk meningkatkan pemahaman mereka
> Awal dari keinginan untuk lebih mandiri; mempertanyakan otoritas orang tua
Jadi, usia berapa dong memberitahukan penceraian?
Nah setelah kita punya sedikit pemahaman bagaimana konstruk anak berpikir dan merasa, atas dasar itu kita dapat mempertimbangkan kapan usia tepat untuk memberitahukan anak bahwa ayah dan ibu sudah bercerai?
Secara konkrit, ada dua pilihan untuk menjawab pertanyaan itu. Pertama: DITUNDA. Kedua: SEGERA.
Tentu saja akan ada pertanyaan lanjutan. Jika DITUNDA sampai kapan? Memangnya tujuan ditunda untuk apa? Apa manfaatnya ditunda? Apakah ada efek negatifnya jika ditunda?
Jika SEGERA, itu maksudnya sekarang, hari ini juga atau nunggu momen yang tepat? Lalu kalau pilihannya SEGERA apa saja yang harus diantisipasi dari reaksi anak kemudian?
Orangtua yang memilih untuk MENUNDA untuk memberitahukan pada anak soal perceraian umumnya melakukan pilihan ini dengan tujuan-tujuan baik tentunya. Diantaranya:
> Tidak ingin mengganggu fokus anaknya belajar
> Tidak ingin melukai perasaan anaknya
> Menunggu waktu saat anak sudah dewasa , setidak-tidaknya sampai usia baligh agar anak paham ketika anak diajak diskusi.
Namun ada masalah lanjutan jika pilihan MENUNDA itu diambil. Pertama: Ketika salah satu pasangan tidak ada, tentu anak akan terus bertanya: "Ayah/ibu kok tidak ada bersama kita? Kenapa?" Saya pake garis miring sebagain bentuk opsi karena setiap kondisi perceraian berbeda kondisi. Boleh jadi ada ayah yang bersama anak dan ibunya tidak bersama atau sebaliknya.
Apakah kita akan terus berkelit, bersembunyi darinya? Atau bahkan akhirnya tak sengaja tidak jujur pada anak kita? Ketika ketidakjujuran itu terakumulasi maka itu akan merusak kepercayaan orangtua pada anak.
Kedua: cepat atau lambat akan tahu bahwa orangtuanya bercerai. Yang bisa saja membuat anak merasa tidak nyaman dan marah adalah ketika anak mengetahui bahwa kondisi orangtua yang berpisah atau bercerai itu dari orang lain dan bukan dari orangtuanya sendiri. Jadi ketika orangtua mengatakan "saya takut mengganggu fokus anak" itu sebetulnya hanya menunda masalah, bukan menghentikan masalah. Pilihannya mau sekarang atau nanti? Pilihan ada di tangan Anda.
Nah jika orangtua memilih untuk MENUNDA silahkan antisipasi kedua risiko ini. Siapkan amunisi untuk mengantisipasi keduanya.
Jika orangtua memilih untuk memberitahukan anak SEGERA, umumnya pertimbangan ini diambil dengan alasan:
> Tidak mau menunda-nunda masalah, makin cepat tahu, makin cepat diantisipasi
> Lebih baik anak mengetahui dari orangtua secara langsung daripada tahu dari orang lain
> Menghindari persepsi anak merasa dibohongi oleh orangtua
> Reaksi anak yang masih kecil tidak lebih berbahaya dibandingkan mereka saat dewasa
Pilihan mana yang mau diambil? Silahkan disesuaikan dengan preferensi nilai setiap orangtua yang mungkin berbeda.
Saya sendiri berpendapat bahwa melakukannya SEGERA adalah pilihan yang disarankan untuk diambil. Setidak-tidaknya saat anak sudah dapat diajak berkomunikasi dua arah (kira-kira mulai 3 tahunan).
Seperti dibahas di tulisan bagian pertama, anak ini belum mememahami kejadian kompleks seperti perceraian dan belum memiliki perasaan khawatir pada kejadian apapun selanjutnya akibat perceraian tersebut. yang penting: PASTIKAN bahwa kebutuhan kasih sayang dari orangtua tidak hilang begitu saja. Mungkin berkurang, tapi tidak hilang begitu saja.
Tentu saja pilihan redaksi untuk memberitahukan soal perceraian pada anak juga harus disesuaikan dengan usia anak. Bagaimana mengkomunikasikannya? Ungkapkan dengan jujur pada anak apa yang terjadi, tapi sedapat mungkin hindari untuk memojokkan atau menyalahkan salah satu pasangan sebagai akibat perceraian. Jika memungkinkan, komunikasikan dengan ayah ibu berdua langsung. Jika tidak boleh salah satu, misalnya dengan redaksi semacam ini:
"Ayah dan ibu sudah tidak hidup bersama, sudah tidak menikah. Ayah ibu bukan suami istri lagi, manusia biasanya menyebutnya dengan bercerai. Tapi yang berubah hanya hubungan ayah dengan ibu, bukan anak-anak ayah ibu. Ayah dan ibu tetaplah ayah dan ibu kalian. Hanya saja ayah bukan suami ibu lagi dan ibu bukan istri ayah lagi."
"Mengapa ayah ibu bercerai?" Ada banyak jawaban dari pertanyaan ini. Tapi jika mau Anda juga dapat mengungkapkan dengan kalimat semacam ini: "Dulu kami menikah untuk dapat mencurahkan kasih sayang, setelah beberapa waktu ternyata diantara kami jadi saling menyakiti. Kami memilih berpisah karena tidak ingin terus-terusan saling menyakiti."
Tentu saja ada pertanyaan ini tidak akan berhenti seperti: "Mengapa ayah ibu tidak saling berhenti menyakiti tanpa harus berpisah?" Atau mungkin puluhan pertanyaan lain yang akan muncul di benak anak pada orangtua yang bercerai. Makin anak bertanya sebetulnya positif, bahwa mereka mampu dengan jujur mengungkapkan apa yang mereka pikirkan, bukan memendamnya. Jadikan momen-momen ini sebagai pelajaran hidup yang berharga untuk orangtua dan malah meningkatkan dan mendekatkan hubungan orangtua dengan anak yang memiliki hak pengasuhannya.