Saya sering mendapat keluhan dari banyak orangtua tentang anak-anaknya yang menginjak dewasa yang nilai-nilai hidupnya makin jauh dari nilai-nilai yang diharapkan dari orangtua. Orangtuanya bertanggung jawab, punya karakter jujur, amanah, kerja keras. Anaknya tidak.
Mengapa ini dapat terjadi? Mengapa ada orangtuanya yang dari kecil ulet kerja keras dan mandiri tapi anaknya kok gampang menyerah, malas-malasan dan tak punya karakter pejuang seperti orangtuanya?
Apalagi jika sudah menyangkut yang keyakinan dan nilai-nilai agama, ini lebih kompleks lagi bahasannya. Seperti cerita berikut ini:
“Abaihsan, anak saya lepas jilbab, bagaimana ini? Usianya 18 tahun, padahal sudah dibiasakan orangtua sejak baligh.
Masalahnya sekarang bukan hanya tentang jilbab, tapi lingkungannya juga tidak baik. Teman-temannya banyak yang seagama dan anaknya suka bohong walopun udah janji mau berubah.
sampai di tahap dia jengah dan terkesan menjauh dari keluarga. Jadi dipaksa pakai jilbab malah bohong terus, apa tidak apa-apa jika orangtua menerima kondisi anak dan berusaha mendekat ke anak? Sebatas apa kewajiban orangtua terutama ayah dalam memastikan anak taat dan menjaga aurat?
Adakah kisah terdahulu tentang anak yang durhaka, bagaimana para sahabat/nabi menyikapinya? Di satu sisi, berteman dengan anak adalah yg paling bijak. Tapi di sisi lain, itu artinya 'menerima' kondisi dia lepas jilbab yg mana sangat berat bagi keluarga. Bagaimana ya ini Aba?”
Saya meyakini kejadian macam ini tidak terjadi satu dua. Berserakan di luar sana. Orangtua ingin berharap anak-anaknya mengikuti nilai-nilai yang mereka pegang, sementara didapati kenyataan anaknya jauh dari nilai-nilai itu.
Sebenarnya ini jawabannya tak sederhana. Saat saya membahas ini secara offline, biasanya bisa dibahas seharian. Mungkin jika ditulis bisa jadi satu judul buku. Tetapi izinkan saya untuk menulis prinsip-prinsip dasarnya.
Umumnya ada dua syarat agar anak dapat mengikuti nilai-nilai keluarga, pembiasaan dan internalisasi nilai (instalasi motivasi). Bahasa agama saya: targhib dan tarhib.
Keduanya harus dipenuhi. Dibiasakan saja tanpa "pemrograman otak", anak hanya akan terpaksa melakukan sebuah perbuatan yang menurut orangtua dianggap baik.
Sebagian anak yang berani melakukan “pemberontakan” ini sejak mulai remaja. Sebagian lagi tidak. Jika pun tidak jangan bangga dulu, bisa jadi mereka masih melakukannya karena takut hukuman orangtua, takut dihentikan hak-haknya sebagai anak. Konkritnya: mereka masih butuh makanan, uang dan subsidi dari orangtuanya. Tapi saat mereka sudah mandiri ada kesempatan, jangan heran jika kemudian sebagian mereka bukan hanya berani berbeda tapi secara terbuka berani mengungkapkan nilai-nilai sendiri yang berbeda dari orangtuanya. Orangtuanya mungkin sangat theis, tapi anaknya a theis. Orangtuanya mungkin sangat gnostik, anaknya agnostik.
Sebaliknya, pemrograman otak anak, penginstallan software pada hardware kehidupan anak, tanpa pembiasaan (ketegasan) orangtua juga bakal mendapati kesulitan luar biasa. Karena kita tahu, bagi orang yang belum memiliki kedewasaan penuh, belum memiliki kematangan mental yang cukup, adalah normal jika orientasi hidup mereka pada kesenangan bukan kebutuhan. Maka jangan pernah tanya ke anak remaja yang belum matang: kamu milih ikut kajian atau nonton netflix? Kita sudah tahu jawabannya. Wajar bingits…
Ini berlaku sebetulnya dalam konteks agama manapun. Karena saya muslim, saya akan berikan contoh dari praktik orangtua muslim dalam menanamkan sholat sebagai contoh.
Banyak dari orangtua misalnya ingin anak sholat tapi mengeluh hanya setelah dewasa. Biasanya untuk orangtua yang sering bertanya pada saya tentang kesulitan anaknya yang udah remaja diajak sholat, saya suka bertanya balik dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana:
Sudah belum menceritakan siapa Tuhannya yang disembah saat anak sholat?
Sudah belum mengkhatamkan cerita 99 asmaul husna? Menceritakan loh bukan menghafalkan.
Sejak usia 7-10 tahun sudah belum mengkhatamkan SOP utusan Allah tentang sholat?
Sudah belum mengkhatamkan cerita 25 nabi?
Sudah belum mengkhatamkan setidaknya 64 sahabat nabi?
Jika kita tidak melakukannya, artinya, sebetulnya software anak nilainya kosong yang ia dapat dari orangtuanya. Maka tidak ada alasan apapun orangtua untuk menuntut anaknya agar dapat mempraktikkan ibadah sholat.
Memang keyakinan tidak dapat dipaksakan, tapi dapat ditanamkan. Kenapa? Kita tahu semua anak itu butuh software. Jika orangtua tidak menginstallnya ya pasti anak akan cari atau dapat software itu dari tempat lain. Bahkan di era teknologi zaman now, software itu bahkan tidak usah dicari tapi ditawarkan kepada anak-anak kita ke rumah melalui berbagai macam medium “screen”.
Padahal, orangtua memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif dibandingkan lingkungan atau teman anak. Anak kita lebih duluan kenal orangtua atau temannya? Anak kita lebih lama hidup dengan orangtuanya atau temannya? Umumnya kita akan menjawab dengan orangtuanya bukan? Kecuali dalam kasus anak yang terlantar dari orangtuanya.
Jika jawabannya adalah orangtuanya, maka tidak masuk akal jika anak lebih banyak terpengaruh teman dibandingkan orangtuanya. Jika ada anak lebih menyerap nilai temannya dibandingkan orangtuanya, maka bisa dicek selama ini dari kecil ada tidak interaksi yang intens dengan orangtuanya di rumah? Ada kebersamaan di rumah? Ada tidak majlis keluarga yang rutin diselenggarakan di rumah?
Jika ditanyakan “ada tidak di jaman terdahulu yang orangtua shalih anaknya durhaka?”
Banyak! Tapi itu justru harusnya jadi "pelajaran" bukan malah jadi "pembenaran" dengan malah berkata "anak nabi aja durhaka, apalagi anak saya!".
Meski nabi, nabi juga manusia yang punya kesalahan. Dan sedikit banyak berdasarkan hadits shahih tentang "fitrah", fa abawahu (orangtua) yang menentukan. Diceritakan pada kita maksudnya untuk jadi pelajaran bukan pembenaran bukan?
Jadi apa yang harus dilakukan jika ternyata anak sudah terlanjur “jauh” nilai-nilainya dari yang dimiliki orangtua? Dalam konteks berhijab tadi, saya mengusulkan beberapa hal. Ini jika orangtua “berkeyakinan” bahwa menutup aurat dengan jilbab itu wajib:
1. Minta maaf sama anak. Bahwa ada yang salah dengan kita mendidiknya. Minta maaf dengan tulus.
2. Menerima anak. Ini sudah terjadi. Kenyataannya sudah begitu kan? Ini gak diharapkan. Tapi menolaknya, mengerasinya, menghukumnya, bukanlah pendekatan yang didahulukan. Ingat? Anak begitu kan kontribusi orangtua, kenapa hanya anak yang mendapat "konsekuensi"?
Ini tidak berarti menerima itu "membiarkan" begitu saja. Simak poin berikutnya. Menerima apa adanya bukan berarti membiarkan seadanya.
3. Seperti masalah perilaku lainnya, anak-anak bermasalah di dunia ini umumnya tidak bisa mengikuti "nilai" atau "value" hidup orangtua karena hubungan orangtua dan anak sendiri yang tidak berkualitas untuk tidak dikatakan buruk. Jika didetailkan: KURANG TEGAS atau KURANG DEKAT dengan anak. Salah satu diantara ini bahkan keduanya, umumnya dipraktikkan orangtua yang mendapatkan anaknya bermasalah.
Kasar itu tidak berarti TEGAS karena pada kenyataannya banyak orangtua bersikap kasar sama anak tapi ujungnya menuruti keinginan anak gara-gara anak marah, ngamuk (lembek). Dan tiap hari bertemu dengan anak juga tak berarti hubungan dengan anak dekat. Harus evaluasi soal kualitas hubungan ini.
Karena itu banyak yang kecele ketika banyak orangtua ikut kelas-kelas pelatihan saya. Dipikirkan jargon "Yuk-Jadi Orangtua Shalih", orangtua bakal diajarkan bagaimana membuat anaknya shalih, rajin ibadah, menanamkan aqidah dan lain-lain.
Beberapa peserta pelatihan saya berkata "Ternyata yang diajarkan jauh lebih mendalam, soal persiapan, soal memantaskan diri jadi orangtua sebelum menuntut anak. Soal bagaimana membuat orangtua sendiri yang shalih, bagaimana orangtua punya "akhlak" dalam mendidik, bagaimana agar orangtua dapat membangun hubungan yang berkualitas untuk anak."
Ini tidak berarti mengajarkan ibadah, aqidah dan lain-lain tak penting. Malah terlalu penting. Tapi mengajarkan apapun pada anak, itu akan lebih "kena" jika orangtua memiliki hubungan berkualitas lebih dulu dengan anak.
Ketika bicara pengasuhan (parenting) dengan saya maka semua orangtua belajar harus runut. Bukan, bukan dimulai dari bicara soal kurikulum sekolah, pendidikan seks, menemukan minat bakat, soal pencegahan narkoba dan pornografi, membuat anak cerdas berprestasi, tapi bagaimana orangtua memiliki hubungan positif lebih dulu dengan anak.
Bangunlah hubungan positif dengan anak. Ini cara memperbaiki yang utama. Hubungan dengan anak positif dengan anak banyak unsurnya: soal waktu, kebebasan, memberikan batasan, mengakui kebaikan anak, soal berkomunikasi, soal memberikan inspirasi pada anak yang panjang lebar saya bahas dalam kelas pelatihan saya. Maka gak mungkin saya hanya memberikan "nasihat" hanya dengan tulisan disini. Ayo belajar, kalau tak sempat, baca bukunya dulu. Beratus-ratus halaman sudah saya tulis dalam banyak buku saya.
Apakah dijamin berubah? Gak ada jaminan! Allah penentu segalaNya, kita hanya berikhtiar. Tapi yang Saya bisa berikan kabar gembira: insya Allah ada perbedaan orangtua yang berilmu (belajar) dengan yang tidak.