Menyikapi Anak 9 Tahun yang Suka Marah-marah Gak Jelas

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

02-Jun-2021


"Anakku usia akan 9 tahun, suka marah-marah. Alasannya kurang jelas, lebih manja dari 3 adik-adiknya

 

Semua harus nurut apa kata dia, semuanya harus sesuai dengan dia, sesuai apa keinginannya dan apa yang dikatakannya.

 

Dulu waktu kecil pendiam, tidak ada ekspresi dia marah atau menginginkan sesuatu. Di usianya yang 8 tahun menjelang 9 tahun nanti Juni dia punya adik 7 tahun, 5 tahun dan setahun

 

Apakah ini yang dibilang tantrum? Atau apa? Saya bingung gimana mengatasinya. Kadang saya diemin aja karena hal sepele jadi besar buat dia."

 

Anak-anak yang marah-marah tidak jelas, umumnya kan karena salah satu diantara sebab:

 

1. Kebutuhan anak yang belum terpenuhi dan orangtua belum jelas benar apa sebetulnya kebutuhan anak itu.

 

2. Anak memang sengaja menguji batasan orangtua (dengan menguji perilakunya sendiri untuk mengetahui reaksi orangtua) 

 

Awalnya sebagian besar kerewelan, tantrum dan kemarahan anak disebabkan karena yang pertama. Akan tetapi, karena salah menangani dan bereaksi, penyebab kedua akhirnya kerap lebih mendominasi. 

 

Cek deh semua anak yang gedenya nyusahin orangtua dengan berani membentak orangtua, berkata kasar pada orangtua, ngamuk pada orangtua, sebab salah bereaksi terhadap hal ini. 

 

Ingat ya anak itu pada dasarnya sejak kecil itu melakukan PENELITIAN PERILAKU. Kalau aku melakukan A apa yang terjadi? Kalau aku melakukan B apa yang terjadi? Kalau aku nangis apa  yang terjadi? Kalau aku guling-guling, teriak di depan umum apa yang terjadi? 

 

Kalau aku ngamuk apakah orangtuaku tahan? Lalu apakah dengan kemarahanku, orangtua akan mengabulkan keinginanku yang tadinya ditolak mereka?

 

"Gak boleh main hape mulu!" sungut orangtua sambil merampas hape yang dipegang anak. Eh tahunya? Anak langsung teriak marah-marah. Nangislah.

 

"Ya sudah, sudah, nyusahin banget kamu ini! Ini.. tapi sejam aja ya Ibu pinjemin!" 

 

Semakin orangtua "dikendalikan" maka semakin orangtua tidak dapat mendidik anaknya. Jadi kebolak, bukannya orangtua mengendalikan anak, malah anak yang mengendalikan orangtua kan. Inilah bibit-bibit "anak durhaka" karena perilaku "orangtua durhaka."

 

Akhirnya? Ya seperti yang disebut penanya, normal saja kalau anak bakalan "Semua harus nurut apa kata dia, semuanya harus sesuai dengan dia, sesuai apa keinginannya dan apa yang dikatakannya."

 

Pengasih dan penyayang, harus seimbang. Jika tidak seimbang, bahaya.

 

Pengasih: menerima marahnya, marahnya boleh karena misalnya ada kebutuhan anak yang belum terpenuhi. Agar faham apa yang dibutuhkan anak, solusinya anak sering diajak ngobrol agar perasaannya sering keluar tapi dengan cara yang benar.

 

Penyayang: Berikan batasan "cara" marahnya. Jadi, kalo marah dengan cara yang melewati batas ya ditindak dengan ketegasan, bukan malah dituruti.

 

Tidak boleh hanya gegara marah lalu dituruti. Ingat ya kebutuhan anak wajib dipenuhi orangtua, tapi jika hanya kesenangan atau keinginan anak, wajib dibatasi. Boleh saja memenuhi kesenangan anak, jika tidak berlebihan. 

 

Jadi saat anak marah-marah gak jelas, bukan malah didiamkan, apalagi dituruti keinginan anak karena marah. Terima marahnya, ajak bicara, berikan batasan marah, tindak dengan konsekuensi jika melewati batas. 

 

Kok terima marahnya tapi diberikan ketegasan jika melewati batas? Begini, kita boleh menerima perasaan anak, kita boleh juga menerima bahwa ada kebutuhan anak misalnya yang belum terpenuhi, cemburu, kurang perhatian dll. ok, its ok. ini juga harus diperbaiki.

 

TAPI, tidak berarti karena ada kebutuhan anak yang belum terpenuhi, menjadi PEMBENARAN bolehnya anak bersikap dan berperilaku yang gak beradab, gak santun, gak sesuai seperti suara meninggi, membentak, berteriak, semacam ini.

 

Apakah karena kurang makan berarti  menjadi boleh seseorang mencuri makanan? Tidak bukan?

 

Jadi, hati-hati bereaksi saat anak marah. Ajak bicara, jika tidak mau. Tunggu sampai dia tenang. Jangan pernah menuruti keinginan anak hanya gegara dia marah. Tidak boleh.

 

Ok contoh terakhir, seorang anak usia 3 tahun karena lapar, dia rewel. Lalu ditawarin orangtuanya:

 

"Dedek lapar..."

 

"Makan yuk ibu sudah sediakan nasi sama tahu kecap enak."

 

"Gak mau! Dedek mau pizza!" lalu menangislah anak ini.

 

"Tahunya enak loh. Coba dulu ya.."

 

Anak makin menjerit.

 

"Ya sudah, gak usah nangis-nangis, tunggu ya sabar.. ibu pesan online dulu."

 

Awalnya memang benar, lapar, karena kebutuhan anak yang belum terpenuhi. Tetapi gegara "dibiarkan" bahkan "dituruti", gegara marah, maka apa yang terjadi? 

 

Makin susahlah hidup orangtua. Celakanya, sebagian orangtua malah memberi label pembenaran "anak saya itu suka lebay kalau lagi lapar.." padahal sikap anak yang lebay justru muncul karena dibentuk tak sengaja oleh orangtua sendiri.





0 Komentar



Komentar :

Wiji Ayu Prihatin
Posted : 24-11-2022
MasyaAllah namanya belajar tidak akan pernah berhenti