"Abah, kalau dari pengamatan saya, sebagian parents mungkin sudah tau ya dampak buruknya gadget. Hanya mereka bingung, belum punya opsi pengganti kegiatan untuk gantikan screen time saat gadget sudah "diamankan". Menurut saya, ini juga peluang untuk berbagi ide kegiatan apa saja dalam membersamai anak diantara kesibukan sang parents. Gimana Bah? Bagi ide dong!"
Terus terang saya bingung dengan pernyataan ini. Kenapa anak harus diberikan opsi? Kenapa saya bingung? Karena pada dasarnya anak itu memiliki fitrah kreatif. Ketika mereka masih kecil, anak usia sekolah dasar ke bawah, sebetulnya tanpa harus diberi tahu, tanpa harus diberikan daftar opsi kegiatan, tanpa harus ada intervensi orangtua, anak-anak itu akan punya daftar kegiatan sendiri. Mereka tidak akan pernah kehabisan ide untuk bersenang-senang. Kenapa? Karena kreativitas mereka terjaga sebetulnya, sebagaimana kita waktu kecil, mereka tidak pernah kehabisan ide melakukan banyak aktivitas.
Banyak anak kebingungan untuk bersenang-senang dan hakikatnya berarti kreativitasnya sebetulnya mati, karena sudah terlanjur otaknya "tergantung" dengan gadget. Kalimat seperti ini akan sering kita dengar "Main HP tidak boleh, nonton tidak boleh, main games tidak boleh. Jadi aku harus ngapain? Aku bosen!!!"
Adalah tidak real jika anak disebut kreatif mampu membuat prakarya hanya gegara dapat contekan dari youtube. Seolah-olah itu kreatif. Itu kreativitas palsu. Coba youtube dicabut, mereka kembali kebingungan. Kreativitas itu dari kata "create" artinya daya cipta, daya mencipta sesuatu itu akan muncul dalam otak anak jika mereka tidak bergantung dengan hanya "satu" benda.
Tapi kalau sudah terlanjur bagaimana dong? Jika anak Anda masih usia SD atau TK, jika mereka pernah terpapar gadget berlebihan, segera cabut. Berikan batasan yang jelas. Nonton youtube cukup sepekan sekali. Ingat rumusnya: kesenangan wajib dibatasi. Jika butuh untuk sekolah ya boleh tiap hari (kebutuhan wajib dipenuhi).
Butuh waktu kira-kira 6-12 bulan untuk "menyembuhkan" kembali daya cipta (kreativitas mereka) untuk jadi anak-anak normal lagi, tidak lagi jadi "makhluk ghaib" (ghaib = maya). Jadi sabar ya. Anak proses rusaknya tidak sebentar, maka jangan nuntut "sembuh" dalam waktu singkat. Jika orangtua masih sering kalah dengan rengekan, bahkan ancaman dari anak untuk minta gadget, boleh jadi karena memang kita kurang kompetensi untuk melakukan tindakan tega (tambah s) pada anak.
Jika anak Anda sudah remaja seperti usia SMP atau SMA, maka yang dapat dilakukan adalah fasilitasi mereka dengan berbagai macam kegiatan yang menyenangkan mereka tapi sekaligus menambah kompetensi mereka. Buat mereka sibuk! Buat mereka capek dengan berbagai macam kegiatan positif dari pagi sampe magrib! Apalagi misalnya anak Anda laki-laki.
Nah ini juga bukan kita yang atur atau kasih opsi kegiatan-kegiatan itu. Biarkan anak-anak yang mengusulkan sendiri sesuai dengan minatnya. Jika anak Anda bertanya barulah kasih penawaran (bukan pemaksaaan). Ada banyak abrek-abrekan (kan bukan seabrek) kegiatan positif yang dapat dilakukan anak remaja: less berenang, ikut klub memanah, diving, bela diri, kurus memasak, belajar bahasa asing, public speaking, klub bola, klub basket, klub art, kesenian, catur, klub arsitektur, komunitas berkebun, bisnis cireng kek, memelihara reptil dan ratusan kegiatan lainnya akan mereka temukan sendiri sebetulnya. Sedapat mungkin yang real offline bukan lagi dunia ghaib (online), karena effortnya, kegabutannya akan berbeda.
Jadi kuncinya, buat mereka capek agar tidak mager. Tapi bagaimana kalau anak nggak mau kegiatan apapun di luar rumah yang berkaitan dengan hal-hal tadi? Izinkan saya menjelaskan pakai bahasa bersayap pakai bahasa “linggis!”
Here is what you have think before you talks about offering your teen about "activities". "Dear my son/daugher, my job as a parent just prepare yourself to separate with me, to have your own life independently. So i just want to make sure before the time come, you have many competencies, capabilites to survive with your own life. So i dont have to push you about this. I just offer you for your benefit dear. So, tell me my dear child, if you want this, discuss with me.
Jadi pastikan tawaran dari kita itu untuk kepentingan dia. Jika dia tidak mau its ok, yang rugi dia bukan kita. Sebab nanti setelah dewasa mau dia miskin, sengsara, bangkrut, maksiat, bukan urusan kita (meski pasti mengecewakan kita). Ingat ya bukan urusan kita. Ini harus ditanamkan mindset ini sebagai orangtua. Bahwa kita tidak boleh selamanya mengatur anak kita. Jangan merasa kemudian harus mengurusi semuanya sampai dia mati.
Saya hanya ngajak berpikir tidak ideal, mempersiapkan yang tidak ideal. Ini bukan doa, ini bukan harapan. Naudzubillah. Karena hidup tidak selalu ideal. Ingat ya, Allah azza wajalla hanya menghisab apa yang kita lakukan pada anak bukan perbuatan anak itu sendiri. Para nabi saja anaknya ada yang durhaka, apakah mereka berarti mereka akan di neraka? Jika demikian, apalah kita yang amalnya segini-gini saja?
Suatu hari, anak saya 15 tahun, ngomong "Abah kenapa itu orangtua murid di sekolah Aa Syahid, ribet amat orangtunya ngurusin iuran buku perpisahan, seragam angkatan. Kan anak-anak itu sudah SMA kelas 12, kenapa orangtua ikut ngurus? Bukannya anak-anaknya sendiri. Itu lah banyak anak tidak mandiri, karena orangtua mengambil alih semua urusan anak" komentar anak nomor tiga itu diberikan setelah iuran bercerita soal diskusi di group orangtua anak nomor 2 yang kelas 12 tentang ini.