Rest Area Kita Tiap Hari

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

01-Jan-2021


Pernah melakukan road trip atau touring? Sebuah aktivitas “long journey” menggunakan kendaraan. Umumnya, jika touring diistilahkan untuk kendaraan roda dua, maka road trip dilakukan dengan kendaraan roda empat atau lebih


Jika waktu tempuh berkendaraan itu hanya beberapa menit atau 1-2 jam rasanya jarang orang butuh istirahat di rest area. Tapi jika perjalanan itu adalah “long journey” seperti yang saya sebutkan, adalah normal orang butuh istirahat. Karena itu di banyak jalan tol tersedia fasilitas rest area setiap beberapa puluh kilometer


Para pengelana berkendara saya yakin merasakan pentingnya rest area di jalan tol ini. Saat kita memasuki rest area, kita dapat melepas lelah sejenak. Bagi supir, ini berharga sekali untuk keselamatan berkendara, bukan hanya untuk dirinya tapi juga penumpang lain yang dibawanya. Saat mengendarai terlalu lama, mungkin kelelahan mulai menyerang. Saat itu terjadi, peluang untuk ngantuk, kurang fokus, tentulah sangat membahayakan


Selain melepas lelah, banyak aktivitas lain yang dapat dilakukan di rest area: makan, minum, aktivitas toilet, beribadah, dan jika beruntung, di beberapa rest area seperti antara di jalan tol antara Semarang - Solo, menyuguhkan pemandangan alam yang lumayan menyegarkan mata


Bagi anak-anak, apalagi. Terutama jika anak Anda masih balita, mereka pada dasarnya adalah makhluk Tuhan yang fitrah tubuhnya diciptakan banyak begerak, lagi aktif-aktifnya. Nah ketika singgah di rest area yang menyediakan tempat terbuka, taman, lapangan, dan mungkin tempat ibadah yang sepi, auto senang mereka. Mungkin senangnya mereka seperti ibu-ibu pemburu modis (modal diskon) yang melihat barang yang disukainya didiskon. Bocah-bocah ini tanpa dikomando mungkin akan berlarian ke sana kemari, seperti ingin menghidupan “mesin” motorik mereka yang “terpenjara” saat di dalam kendaraan


Dalam kehidupan, keluarga boleh jadi adalah rest area kita tiap hari. Ia adalah tempat kita beristirahat, mengumpulkan energi, mengumpulkan tenaga, mengumpulkan bahagia agar kita memiliki modal untuk tetap dapat meneruskan ‘perjalanan panjang’ hidup kita


Benar, bahwa  di rest area kadang pun ada ujian-ujian dan hambatan. Mungkin juga harus dibayar dengan sedikit pengorbanan. Tapi, bukankan itu normal, jika kita ingin memenuhi keinginan seperti mendapatkan makanan, ya harus ada harga yang harus dibayar? 


Kita membayar karena kita mengganti tenaga orang lain yang menyiapkan makanan untuk kita. Kita membayar karena kita meng-outsourcing-kan pada orang lain untuk mendapatkannya: pedagang, pengusaha restoran, dan lainnya. Kalau tidak mau bayar? Umumnya ada dua jalan lain: kita membayarnya dengan tenaga kita: menanam sendiri, mengolah sendiri, baru dimakan atau yang kedua: mencuri.


Jadi meski tujuan ke rest area baik, kenyataannya tetap akan ada sedikit ujian dan pengorbanan bukan? Tapi tetap saja tidak menghilangkan substansi tujuan ke rest area itu sendiri. Sama adanya dengan keluarga. Coba deh tanya pada diri kita masing-masing pertanyaan mendasar ini di hati kita sendiri: KENAPA SAYA MENIKAH? KENAPA SAYA MEMUTUSKAN PUNYA ANAK? 


Ingat ya saya nanya manusia bukan nanya Tuhan. Yang jawabnya ‘takdir Tuhan” gak usah diterusin baca tulisan ini. Yang kita bahas adalah domain pilihan yang ruang itu sebetulnya juga sudah diberikan Tuhan pada kita: irodah. Tuhan menyediakan rezeki, tapi Tuhan juga perintahkan kita untuk berusaha untuk menjemputnya, bukan diam bae di gua


Ok balik lagi ke pertanyaan ke diri masing-masing: KENAPA SAYA MENIKAH? KENAPA SAYA MEMUTUSKAN PUNYA ANAK? Tentu semua orang berhak memilki preferensi masing-masing. Tapi yang ingin saya katakan adalah “reason why” itu akan menentukan bagaimana cara seseorang memperlakukan keluarganya selanjutnya


Jika seseorang mengatakan “saya menikah ingin mencari ridlo Allah”, maka konsekuensinya dia pasti akan mencari tahu: bagaimana sih keinginan Allah soal keluarga? Apa sih perintah dan larangan Allah dalam mendidik anak? Saya harus bagaimana ya memperlakukan anak-anak saya agar diridloi Allah itu? Nah jadi setelah menikah dan punya anak tidak melakukannya boleh jadi tujuan nikah ingin mencari ridlo Allah hanyalah kedustaan belaka


Ada pula orang yang berkata ketika ditanya KENAPA SAYA MEMUTUSKAN PUNYA ANAK? Jawaban umum: ingin memiliki keturunan. Saran saya, karena setiap kalimat yang kita ucapkan berkaitan dengan diri kita boleh jadi adalah doa kita, jadi untuk Anda yang belum menikah dan kebetulan baca tulisan saya: tambahkan yuks, “saya ingin memiliki keturunan yang….. teruskan sendiri dengan kalimat positif misalnya yang shalih shalihah, yang taat pada Tuhannya, yang menyenangkan hati dan pikiran.” Sebab kalau hanya memiliki keturunan doang, kambing juga melakukannya. Berkembang biak doang namanya, peternakan dong! Emang anak kita hewan?


Diantara sekian jawaban, ada satu jawaban yang harus diwaspadai. Jika seorang pemuda mengatakan ketika datang melamar anak perempuan kita dan ketika ditanya kenapa kamu ingin menikah? Dan lalu menjawab: “Saya ingin halalin anak Bapak”.  Ini yang harus diwaspadai. Loh kenapa? 


Jawaban itu bukan jawaban jelek, not bad. Tapi bukan yang paling baik. Kalimat ‘saya ingin halalin’ artinya apa? Agar tidak berzina kan? Agar dapat berhubungan bada secara halal kan? Tentu jawaban ini baik, tentu ini bagian dari ibadah, dibandingkan harus berzina atau disalurkan sembarangan di jalanan. Tapi, jika sesorang mengatakan menikah hanya sekadar untuk menghindarkan zina, maka boleh jadi istrinya hanya tempat penyaluran sperma baginya. Setelah disalurkan? Setelah anak dilahirkan? Itu bukan urusan dia, itu urusan istrinya. Setelah “menggunakan” istrinya ya balik lagi asyik sendiri dengan aktivitasnya dan minim interaksi dengan keluarganya. Maka saya bilang, jawaban itu not bad, but not the best. 


Jadi jawaban yang benar apa dong? Dih cari sendiri dong. Terserah masing-masing. Masak nyontek? 


Pernah berkunjung ke rumah makan padang? Meski nama rumah makannya “SEDERHANA” tapi harganya tidak sederhana bukan? Pertanyaan saya tadi JUGA sederhana bukan? KENAPA SAYA MENIKAH? Tapi jawabannya boleh jadi tak sesederhana pertanyaannya. Anda dapat membuat daftar jawaban yang pendek atau panjang atas pertanyaan tadi. Ribuan orang saya ajukan pertanyaan ini di kelas-kelas belajar saya, sebagian besar orang umumnya akan terdiam dulu sejenak. Mungkin untuk berfikir, tujuan sebenarnya saya apa ya?


Apapun jawabannya, saya yakin banyak orang sepakat bahwa menikah, berkeluarga, punya anak, sebetulnya bukan tujuan dari sebuah perjalanan itu sendiri. Ia hanyalah perantara, ia hanyalah tempat untuk kita mendapatkan tujuan lain yang lebih besar. Meski keluarga kerap disebut surganya dunia: baiti jannati, tetap saja manusia akan mati untuk melakukan perjalanan selanjutnya


Pertanyaannya, rest area itu mau dimanfaatkan dengan baik atau tidak yah? Bukan sekadar hanya untuk membuang sesuatu dari tubuh kita loh ya!




2 Komentar



Komentar :

Mita
Posted : 07-01-2021
Hmmm... kalo ditanyakan pertanyaan kenapa saya menikah? kenapa saya punya anak? jawabannya memang tak sesederhana pertanyaannya... setuju, perjalanan berkeluarga ini sebagai perantara untuk tujuan yang abadi. Keluarga kadang cocok dibilang rest area, tempat mengumpulkan bahagia, mengumpulkan energi, dan juga tempat perjuangan yang never ending... yang menguras tenaga dan pikiran juga... berkeluarga merupakan ibadah terlama dalam kehidupan... perjalanan panjang... dan setuju sekali... perlu rest area dalam menjalani perjalanan panjang ini...


Ade Pampini
Posted : 07-01-2021
Ma shaa Allah... Terimakasih penyegaran kembali tentang tujuan menikah, tujuan mempunyai anak. Jadi meski sempat melenceng, in shaa Allah REST AREA bisa di CLEAN lagi dari virus, bakteri, sampah dan hal hal tak berguna lainnya. Agar Rest Area menyenangkan, tentu kita harus ikut menjaga kebersihan nya. Terimakasih Abah