Salah 1 Ikhtiar Agar Anak Patuh Karena Cinta: Akrablah dengan Anak

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

01-Dec-2021


Ingin anak anda berkurang perbuatan buruknya? Ingin anak menurut dan patuh pada kita? AKRABLAH DENGAN ANAK ANDA. Sekira 13 tahun lalu, saya dapat cerita dari seorang lelaki, seorang ayah dari 2 anak remaja putri. Ayah ini kepala dinas di salah satu kotanya waktu itu. Dari cerita teman-teman di kota tersebut, orang ini bersahaja, rajib ibadah, tidak pernah kasar pada anak dan istri, rajin ta'lim. Secara umum, terlihat kerpibadian baik sudah terlabel padanya. 


Tapi laki-laki baik ini suatu hari bercerita dengan ekspresi lesu, "Anak saya perempuan, kelas 2 SMA. Masuk sekolah favorit dan masuk kelas unggulan. Dia tidak bersemangat sekolah. Hari ini dia tidak mau masuk sekolah. Saya sangat susah mengorek apa yang terjadi. Saat masuk ke kamarnya, ibunya sering sekali menemukan handphone di bawah bantal. Dia rupanya sering menyembunyikan handphone, semalaman juga bermain handphone. Kalau kami datang ke kamar seperti orang panik." 


Saya wawancarai, saya korek. Lalu ujung-ujungnya saya bilang "Mulai sekarang, akrabi anak Ayah. Anak-anak wajib bergaul dengan orangtuanya sebelum mereka benar-benar bergaul dengan teman-temannya, apalagi orang-orang di luar sana, dari internet, yang tidak dikenalnya."


Beberapa tahun kemudian, saya sudah lupa dengan kejadian ini. Tapi saya baru ingat setelah dia menelpon lalu berkata: "Abah, terima kasih. Setelah berkali-kali konsultasi, anak saya memang berhenti sekolahnya. Tapi setelah saya mengakrabinya, saya jadi tahu yang dirasakannya. Ia memutuskan kejar paket dan bersemangat hidup lagi. Sekarang ia kuliah di perguruan tinggi sesuai keinginannya."



Parents, coba periksa anak-anak bermasalah di sekitar anda. Wawancarai dan periksa bagaimana hubungan mereka dengan orangtuanya. Apakah mereka sering diajak ngomong orangtuanya setiap hari? Diajak ngomong, loh ya, bukan diomongin! Wawancarai anaknya ya, bukan orangtuanya. Sebab sebagian orangtua dari anak bermasalah ini sering tidak menyadari bahwa mereka berkontribusi besar terhadap perilaku anaknya sehingga bermasalah meski mungkin tidak disengaja dan tidak disadari.


Ketika anaknya bermasalah, mereka terus saja mengatakan, "Apa yang kurang dari saya? Apa yang kurang? Handphone, mobil, motor, jalan-jalan ke luar negri, semua saya fasilitasi untuk anak saya! Apa lagi yang kurang dari saya?!"


Lalu, anda mungkin akan mengatakan, “Yang dibutuhkan anak adalah teladan!" Padahal, coba deh, periksa orang-orang di sekitar anda. Tak sedikit anak yang ayahnya rajin shalat ke mesjid, anaknya begitu santai menunda-nunda shalat di rumah. Kurang teladan apa?


Anda lihat ke desa-desa. Sebagian ayah mereka bekerja keras di sawah atau ladang, sementara sebagian anaknya asyik medsos-an. Kurang teladan apa? Atau anda lihat anak pejabat, orang kaya, pengusaha sukses, ayahnya sukses jadi pejabat atau pengusaha, tetapi sebagian anaknya menghamburkan uang ayahnya, mengoleksi mobil atau motor balap, nongkrong di jalan, kongkow di kafe tiap hari menghabiskan uang orang tuanya. Kurang teladan apa?


Atau anda juga akan berkata, "kurang perhatian, kali!" Mereka juga tak akan kalah argumen. Sebagian akan berkata, "Apa? Kurang perhatian? Anda tahu tidak, saya sudah bosan menasehati anak saya. Saya nasehati anak saya tiap hari. Itu kan bentuk perhatian dan kasih sayang saya"

Bahwa teladan itu penting, saya setuju. Itu hal "wajib a'in" yang tak usah lagi diperdebatkan. Bahwa perhatian itu penting, saya juga setuju. Tapi apakah menasihati anak tiap hari akan diterima anak sebagai sebuah bentuk perhatian?


Coba tanya anak-anak bermasalah di luar sana, apakah anak-anak itu tidak pernah dinasihati orangtuanya? Jawabannya bukan lagi "sering" tapi "sudah bosan dinasihati!". Pertanyaannya, siapa diantara mereka yang betah dinasihati tiap hari? Bagaimana dengan anda? Posisikan diri anda sebagai anak, apakah dinasihati tiap hari itu membuat anda merasa diperhatikan? Merasa dicintai dan disayangi? Mana yang membuat anda merasa disayangi orangtua anda : DIOMONGI orangtua tiap hari, atau DIAJAK NGOMONG orangtua tiap hari?


Ini hasil survey tidak langsung saya. Ini fakta yang dapat anda temukan di sekitar anda dan mungkin tidak anda sadari. Ini bukti nyata yang sangat mudah anda temukan. Lihat kiri kanan anda. Ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut: Pertama, Siapa di antara anda yang waktu remaja dahulu sering curhat pada orang tua?


Dari sekian ribu yang ditanya, hanya sebagian kecil saja yang mengangkat tangan. Ciri akrab yang sederhana adalah sangat terbuka menceritakan masalah, mulai dari lawan jenis yang disukai, pelajaran, pertemanan, dll. Sering diajak ngomong orangtua, bukan hanya diomongin orangtua (beda, kan?)


Pertanyaan kedua,  kepada yang akrab dengan orangtuanya ini, saya ajukan pertanyaan lagi : apakah anda merasa dekat dan lebih mudah mendengar nasihat orangtua plus jadi lebih menurut atau justru jadi lebih sering membantah orangtua? Jawaban mereka hampir kompak, "jadi lebih nurut dgn orangtua"


Banyak orangtua menyangka agar anak dapat dengan mudah dikuasai, agar anak patuh dan menurut, agar anak menghormati orangtua, adalah dengan mengedepankan hukuman fisik berupa kekerasan pada anak. Bahkan dari sekitar 100 kota kota di 29 propinsi yang sudah menyelenggarakan program pendidikan orangtua yang saya selenggarakan, kekerasan fisik pada anak adalah keniscayaan. Istilah "kalau tidak dipukul, anak akan kurang ajar", masih saja ada yang meyakininya.


Bahwa mencubit atau memukul supaya anak menjadi patuh, bisa jadi betul. Coba diingat-ingat kita yang pernah atau sering dicubit waktu kecil, apakah kepatuhan itu betul2 karena kesadaran atau karena TAKUT?


Kepatuhan karena keakraban sangat berbeda. Anak yang tanpa dipukul, tanpa dicubit, tanpa dibentak, ternyata lebih mudah dikuasai orangtuanya. Lebih mudah mendengar orangtuanya, lebih mudah patuh.


Bahkan saya ingin "memprovokasi" anda lebih keras lagi berkaitan dengan masalah keakraban ini. JANGAN PERNAH MENCOBA MENDISIPLINKAN ANAK JIKA ANDA TIDAK PERNAH MEMILIKI KEDEKATAN EMOSIONAL DENGAN ANAK. Soalnya ini konteksnya hubungan keluarga, dimana antar anggota keluarga saja tetap saja tidak mudah begitu saja tidak suka lalu disingkirkan. Tidak ada mantan anak, tidak ada mantan ayah, tidak ada mantan ibu. 


Beda dengan hubungan profesional bisnis di tempat kerja. Tidak suka dengan karyawan, ya tinggal pecat. Tidak suka dengan boss ya tinggal out. Tidak suka dengan tawaran kerjasama bisnis, tinggal putuskan TAKE IT OR LEAVE IT.  Mendisiplinkan anak tanpa disertai kelengketan emosional hanya akan membuat hubungan orangtua dengan anak menjadi hubungan yang kering, garing, atau hubungan tanpa makna dan tanpa jiwa. Hubungan seperti ini hanya akan menjadi seperti "atasan dan bawahan" yang formalitas dan minim ekspresi emosi.



0 Komentar



Komentar :

Wiji Ayu Prihatin
Posted : 24-11-2022
MasyaAllah namanya belajar tidak akan pernah berhenti