Peringatan: membaca tulisan ini akan berakibat tidak nyambung jika belum baca tulisan sebelumnya.
Mengapa akrab penting agar anak patuh tapi masih cinta? Fungsi pertama keakraban dengan anak adalah "penjaga kedamaian hati anak". Ketika anda mendisiplinkan anak, ketika anda mencoba menghentikan perilaku buruk anak, maka suatu saat anda tidak dapat menghindari untuk bertindak tegas pada anak salah satunya misalnya dengan memberikan larangan ataupun memberikan konsekuensi pada anak.
Ketika anak berlebihan main game atau nonton TV, misalnya, anda bisa jadi mencabut hak main game atau nonton TV-nya. Lalu karena tidak nyaman, kemudian anak mencoba mengekspresikan ketidaknyamanannya kepada orangtua "Ayah jahat!" atau "Mama tidak sebaik nenek" atau "temanku tidak pernah dibatasi nonton, kenapa aku dibatasi?!"
Dengan menerapkan hukuman atau konsekuensi pada anak, suatu saat anda akan sampai pada suatu titik keraguan yang akan menggoda anda untuk tidak konsisten menjalankan ketegasan anda. Mungkin sebagian orangtua khawatir "Apakah saya ini akan dianggap anak sebagai ayah/ibu yang jahat dan tidak sayang anak?"
Ada juga seorang ibu berkata dengan mimik sedih "Ya Allah..abah, anak saya ngomong saya jahat. Sedih betul saya!"
Saya akan katakan : TIDAK AKAN PERNAH! tidak akan pernah anak memiliki pemikiran dan perasaan bahwa anda adalah ayah atau ibu yang jahat meski mulutnya bicara seperti itu. Tidak akan pernah anak memiliki pikiran orangtuanya jahat hanya karena anda memberikan konsekuensi pada anak.
Bahwa anak tidak nyaman saat diberi konsekuensi, itu benar! Namun, konsekuensi tidaklah pasti berarti akan membuat anak kemudian beranggapan bahwa orangtuanya tidak sayang padanya. Selama anda menjaga keakraban dengan anak, itu hanya EKSPRESI EMOSIONAL sesaat dari anak.
Fungsi kedua keakraban adalah "pemupuk kasih sayang". Maksud saya begini. Orangtua yang akrab dengan anaknya adalah tanda bahwa mereka menyediakan sebagian tubuh, waktu, pikiran, dan perasaan mereka untuk anak. Mereka memupuk cinta pada diri anak-anaknya. Tidak hanya sebatas merasa sayang dalam "pikiran", tapi mengekspresikan kasih sayang itu secara konkrit dalam tindakan nyata.
Maaf jika agak melebar sedikit. Pernah mendengar kisah nyata suami setia yang tidak pernah menikah lagi meski istrinya bertahun-tahun menderita penyakit? Pernah mendengar cerita cinta Habibie dan Ainun yang melankolis itu? Pernah mendengar cerita Muhammad sang Rasulullah yang ketika berumahtangga dengan Khadijah tidak melakukan poligami sama sekali?
Semua lelaki ini mungkin memiliki sejumlah alasan. Jauh hari sebelum sang istri sakit, jauh hari ketika sang Ainun meninggalkan dunia, jauh hari sebelum sang Rasulullah menjadi penguasa, para perempuan ini memiliki persamaan : mereka memberikan cinta terbaik mereka untuk suami mereka. Mereka membangun ikatan emosional dengan suami mereka. Menjalin keakraban.
Apa yang saya ingin ungkapkan adalah ketika kita merasa dicintai dengan sebenar-benarnya, ada perasaan tak nyaman jika kita menyakiti orang yang memberikan cinta itu. Semua lelaki, yang tak bersedia melakukan poligami di atas -meski mereka bisa melakukannya- bisa jadi karena memiliki perasaan tidak nyaman untuk melakukannya. Saking karena merasa sangat dicintai sang istri.
Demikian pula anak-anak kita. Sekarang, anda coba fokuskan pikiran. Bayangkan anda adalah remaja lelaki berusia 14 tahun. Bayangkan anda sering menghabiskan waktu untuk kegiatan bersama ayah (walau tidak setiap hari). Atau setiap akhir pekan anda bersepeda atau main bulu tangkis dengan orangtua anda. Anda punya kegiatan insidental setiap bulan dengan orangtua. Dua bulan lalu kemping ke gunung, bulan lalu mancing di sungai. Pekan ini anda nonton bola di stadion bersama. Sementara musim liburan sekolah nanti, anda sudah bersepakat akan keluar kota selama 4 hari.
Kira-kira apa perasan yang muncul dalam benak anda? Lalu, apa yang akan anda berikan untuk orangtua anda?
Atau, bayangkan anda seorang anak perempuan, usia 13 tahun. Setiap hari anda bebas cerita masalah anda pada ibu anda di kasur, di meja makan, di sofa. Jika ada masalah, pasti anda akan meminta pendapat ibu anda. Ketika anda difitnah teman, anda menangis sesenggukan di pangkuan ibu. Lalu punggung anda diusap-usap ibu.
Anda pun sering melakukan kegiatan bersama ibu. Bulan lalu, anda diajak kursus membuat brownies. Ibu anda selalu menyempatkan nonton pertandingan basket anda meski kadang terlambat datang. Kira-kira apa pula perasaan yang muncul dalam benak anda? Lalu apa yang ingin anda berikan untuk orangtua anda?
Apapun jawabannya, insya Allah yang positif kan? Mungkin sebagian anda akan rajin berdoa dan mendoakan orangtua "Ya Allah..aku sayang ayahku. Jaga ayahku, ya Allah. Bantu aku jadi anak yang menyenangkan orangtuaku, ya Allah"
Jadi, tidak berlebihan rasanya jika saya ingin mengatakan pada anda: ANDAIKAN SEMUA ORANGTUA DI DUNIA AKRAB DENGAN ANAKNYA, RASANYA KITA AKAN SULIT MENEMUKAN ANAK BERMASALAH DI DUNIA INI : terkena narkoba, hamil di luar nikah, tawuran, dan sebagainya.
Sumber: Buku "7 kiat orang tua shalih menjadikan anak disiplin dan bahagia" karya Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari halaman 40-47 dengan beberapa pembaruan.