Saya Dianggap Orangtua Aneh

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

06-Jul-2022


"Kemaren lusa saya nangis sesenggukan. Saya dibilangin Mama saya (neneknya anak-anak), bilang 'Cuma kamu di dunia ini yang begitu sama anak!'


Mama saya bilang begitu karena perlakuan saya pada anak saya. Saya tidak pernah memukul anak, saya tidak memaki anak. Lalu apa yang membuat orangtua saya berkata begitu?


Ternyata karena saya membatasi anak main HP sama anak saya, sementara sepupu-sepupunya sudah pada punya HP meski masih SD dan asyik main HP. Saya dibilang orangtua kejam sama anak. Sementara hanya cucu dari saya saja yang tidak punya HP. Padahal saya sebenarnya tidak melarang sama sekali soal HP, hanya kalau butuh HP harus di dekat saya mainnya. Diawasi saya. 



Lalu anak saya juga harus cuci piring sendiri yang sudah dia pakai. Beresin kasur, masak telor, sikat sepatu sendiri. Intinya anak saya harus punya peran di rumah, sebab setiap anggota keluarga bukan hanya punya hak tapi juga punya peran dan tanggung jawab kan? Saya bukan babu anak saya. Maka tentu saya akan beri kasih sayang pada anak saya, tapi kasih sayang bukan menyelesaikan semua masalah mereka bukan? 


Atau hal yang sepele membuat saya sering dimarahin neneknya. Anak saya kalau numpahin air, saya minta dia lap sendiri airnya. Makan berantakan bersihkan sendiri...


Karena saya emosi capek, saya menyesal dan berkata pada orangtua saya 'Banyak Ma yang begini, teman-teman di sekolahnya gini.'


Mama saya tambah sengit dong. 'Nggak ada! Cuma kamu, kamu tu keterlaluan menyiksa anak kamu, bla bla.bla...'


Besok paginya saya minta maaf karena menjawab, terus beliau lanjutlah menasehati. Saya diam saja. Saya sadar nggak ada gunanya mendebat orangtua saya.


Mungkin ada diantara Anda yang memiliki kejadian "hebat" mirip aduan seorang ibu kepada saya seperti tadi? Dimana Anda ingin menerapkan pola asuh Anda sendiri tapi kemudian ditentang atau setidaknya diremehkan oleh orang-orang di dekat Anda sendiri. Saya tidak membahas bagaimana cara menghadapi perbedaan pengasuhan dengan nenek kakek karena itu sudah dibahas di tulisan-tulisan saya yang lain. Kali ini saya hanya ingin memberikan penguatan soal: bagaimana jika kita dianggap berbeda (baca: aneh) dengan orang-orang di sekitar kita?


Saya tambahkan satu lagi cerita yang lebih ekstrim. Seseorang di Samarinda bercerita pada saya bahwa dia ingin bertindak tegas pada anak. Dia meyakinkan saya bahwa yang dia lakukan benar-benar ketegasan, bukan kekerasan. "Saya tidak membentak, saya tidak memaki, apalagi menyentuh bagian tubuh anak saya untuk disakiti. Tidak pernah. Saya juga tidak melarang semuanya dari anak saya, saya juga tidak mengekang atau mengatur anak saya dari pagi sampai malam. Tapi, suatu hari saat saya memberikan konsekuensi pada anak saya dan ternyata anak saya menangis, neneknya anak saya marahin saya habis-habisan. Beliau malah berkata 'bunuh saja sekalian anakmu. Anak kok disiksa!'


“Ya Allah.. seolah-olah saya ini luar biasa kejam sama anak. Padahal saya hanya tidak membelikan yang anak inginkan. Dan karena anak saya ngamuk, dipeluk tidak mau, dialihkan tidak mau, lalu saya masukan ke kamar biar tenang dulu. Eh saya dilabrak orangtua saya. Katanya saya jahat sama anak. Padahal dulu waktu saya kecil diperlakukan justru jauh lebih maaf, sadis, oleh mereka. Dipukul, dicubit, dilempar barang. Tapi giliran saya ke anak saya dibilang jahat. Padahal saya tidak melakukan kekerasan. 'Mau dijadikan apa itu anak Ikam?!' " 


Tak semua orangtua dapat bersabar dengan ini, bersabar dengan proses. Proses untuk menghasilkan buah: anak shalih, anak yang menghasilkan kebaikan. Padahal semua kesuksesan baik urusan dunia maupun urusan akhirat tidak ada yang tidak melewati yang namanya: lelah, capek, perih, pedih, sakit.  Karena tidak mau berjuang menghadapi berbagai kesakitan (di depan) itu, sebagian orangtua lalu kemudian terbawa arus, merubah prinsipnya. Yang terjadi? Sakit, lelah capek, urus anak itu hanya ditunda. Mereka pun akhirnya juga capek, lelah, sakit tapi di belakang. Setelah mereka tua.

Padahal, jika bersabar, nggak usah nunggu 20 tahun, 5 tahun lagi insya Allah kelihatan perbedaan anak kita dengan sepupu-sepupunya yang "dibiarkan" begitu saja. Apa yang dimaksud bersabar? Bersabar itu artinya melakukan sesuatu tapi tak menuntut instan hasilnya. Bersabar bukanlah diam lalu mengurut dada. Itu namanya bukan sabar, tapi pasrah. 


Tak sedikit orangtua yang dianggap aneh sama orang lain, bahkan tante-tantenya, neneknya tentang pola asuhnya yang dianggap seperti cerita orangtua tadi. Kalimat-kalimat seperti ini saat kita tengah berproses bakal kita sering dengar:


"Sama anak kok gitu?!"


"Tega amat anak disuruh nyuci pring." 


"Tugas anak kan sekolah, bukan suruh beresin kamar. Emang anak mau dijadiin office boy?!"


Kawan, ketahuilah mendidik anak itu seperti menanam pohon yang akarnya menancap ke dalam bumi. Tidak ada pohon yang langsung berbuah. Ia juga boleh disebut seperti lari marathon, bukan lari sprint. 


Anak-anak yang terlihat "anteng" dengan gadget itu memang seperti terlihat tidak mengganggu orangtua, tidak membuat orangtua capek, tidak aktif karena itu tidak main dan ngacak-ngacak rumah dong. Sebetulnya hanya menunda saja kawan. 


Mendidik anak itu bukan proses seperti bisnis yang 5-10 tahun mungkin sudah terlihat hasilnya. Mendidik anak adalah mendidik makhluk. Itu sebabnya kenapa pelatihan parenting bayar nggak sampai 1 juta saja dianggap mahal kawan? Karena hasilnya nggak kelihatan dengan cepat. Mengapa pelatihan bisnis 5 juta aja diambil? Karena hasilnya "terlihat" kawan berupa kelimpahan keuntungan uang yang nyata. 


Sebagian orangtua sering dianggap aneh dengan pola asuh yang menerapkan prinsip-prinsip orangtua bertanggung jawab. Tahu kenapa? Karena sebab utamanya bukan mereka yang salah yang menganggap kita aneh. Yang salah adalah kita karena berada di lingkungan atau circle yang tidak tepat. 


Jika Anda suatu hari berpakaian seksi, lalu datang ke tempat acara di mana semua orang, kecuali Anda, berpakaian tertutup. Siapa yang aneh? 


Kalau anda perempuan muslimah, lalu sudah berhijab, memakai pakaian yang tertutup lalu datang ke acara di mana semua orang mengenakan pakaian terbuka, tanktop, rok mini, kecuali Anda. Siapa yang aneh?

Jadi aneh atau tidak aneh itu sebetulnya dapat ditentukan dari “Dengan siapa Anda bergaul". 


Coba dipikir, Anda yang mengizinkan HP yang aneh itu sebenarnya siapa? Yang temani anak 10 tahun ke Australia sendirian atau yang masa bodoh ngapain aja pergi kemana aja sendirian?


Jika kita bersabar kawan, simaklah cerita beberapa perkataan orangtua berikut yang dulu, 10 tahun lalu, 15 tahun lalu, diremehkan dan dianggap aneh orang lain di sekitarnya. 


"Anakmu mah beda, baik.. anakku? wahhh bandelnya minta ampun, komentar seseorang kepada saya Abah saat melihat anak saya tidak pulang malam, pada rajin ibadah, berprestasi di sekolah dan tidak ada yang asyik sendiri-sendiri di kamarnya saat malam dengan gadgetnya. Padahal dulu sebagian orang yang komentar itu adalah orang yang pernah komentar saat anak saya kecil 'kok anak digituin? Tega amat sama anak!"


Ada juga yang bercerita "Ih Bu dokter, kalian orang yang berkecukupan, suami dokter spesialis, ibu juga dokter. Mobil ada, rumah lumayan, Kok anak-anaknya mau ya beresin kamar sendiri, mau nyuci piring, mau beresin rumah. Itu gimana ceritanya? Anak saya mah boro-boro!" 


"Aduh Abah, saya kan niatnya bukan mau pamer, mereka sendiri yang melihat bagaimana anak saya terlibat di keluarga. Niat saya kan seperti yang abah bilang mempersiapkan anak berpisah. Saya tidak tahu anak saya penghasilannya kayak papa mamanya atau nggak. Padahal mereka juga tidak tahu membuat anak mau mandiri itu juga butuh mendampingi anak yang tidak mudah sama sekali. Tapi kan mereka nggak tau prosesnya Abah. Dulu juga saya dibilang jadiin anak saya Babu.. " 



0 Komentar



Komentar :

Wiji Ayu Prihatin
Posted : 24-11-2022
MasyaAllah namanya belajar tidak akan pernah berhenti