Sekolah Konsumtif

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

19-Oct-2022


“Kita, orang-orang pendidikan sering mendengung-dengungkan tentang pendidikan karakter. Bahkan, salah satu karakter diantara 18 karakter yang dikeluarkan dari pedoman Diknas adalah disiplin. Tapi tahu kah kita, bahwa kantin dan kebiasaan jajan di sekolah adalah salah satu atau salah dua hal yang dapat merusak karakter soal disiplin, terutama gaya hidup konsumtif.”

Suatu hari saya diundang oleh salah satu kepala sekolah menengah negeri di Bandung untuk ikut meresmikan mushola baru sekolah tersebut. Mungkin karena ada beberapa material yang saya dan teman-teman komunitas YukJos berkontribusi dalam pembangunannya. “Aduh maaf Ibu kepsek, saya tidak nyaman kalau seremoni-seremoni begitu. Silahkan saja dengan pejabat Dinas Pendidikan sama ibu, silahkan di buka.” kata saya ketika menerima undangan.

“Abah datanglah, kan tanpa Abah, mushola ini tidak mungkin terbangun. Tidak enak doang kalau Abah tidak datang”, ujar Bu Suci berharap sekali sepertinya.

“Itu bukan dana saya. Itu titipan teman-teman. Nanti saja kalau sudah peresmian saya datang langsung ke sekolah dan ngobrol sama ibu dan teman-teman ya. Ibu mau nangis, mau guling-guling, saya nggak mau ah begitu-begituan hehe”, kata saya setengah becanda. Dan memang saya merasa tidak nyaman dengan acara-acara begituan sebetulnya.

Daripada seremoni-seremoni yang agak basa-basi dan mungkin ada sanjungan sana sini, saya lebih baik diskusi langsung, mungkin menyumbang pikiran soal agar kualitas pendidikan di sekolah subsidi ini (baca: negeri) terus tambah baik. Dan akhirnya saya datang memenuhi janji saya. Beliau mengajak saya mengunjungi mushola baru tersebut dan sekaligus tur sekolah, menunjukkan beberapa gedung dan bagian-bagian sekolah. Sampai di satu titik beliau menjelaskan “Di sini, kami akan bangun kantin yang representatif. Sejak pandemi tidak ada lagi kantin. Jadi sebentar lagi kami akan membangun dan meresmikan kantin sekolah!”

Saya biarkan beliau menjelaskan berbagai hal tentang sekolah dan saya hanya mendengarkan. Dan akhirnya setelah tur sekolah itu saya diajak ke ruangan kepala sekolah ditemani 1-2 orang staff lainnya. “Gimana menurut Abah?”

“Insya Allah saya doakan terus lebih baik ya Bu. Tapi kalau boleh saya berpendapat, izinkan saya bercerita sedikit soal kantin dan kebiasaan jajan. Boleh Bu? Kalau saya boleh usul, malah bagus tidak ada kantin.” Lalu terkezoetlah beliau dan terus meminta penjelasan saya. Sebab mindsetnya adalah, kantin itu untuk memfasilitasi anak-anak daripada jajan tidak sehat di luar lebih baik disediakan di sekolah. Bahkan dulu, kantin sehat adalah bagian dari penilaian terhadap kualitas sekolah.

Lalu saya menjelaskan sedikit tentang kenapa di negara-negara maju yang saya kunujungi seperti Jerman, Swiss, Belgia, Jepang tidak ada yang namanya kantin. Jika pun ada, kantin hanya sebagai tempat makan saja, karena kudapan (snack) dan makan siang pun sudah disiapkan oleh sekolah. Tidak ada anak yang belanja belinji atau jajan sendiri.

“Kita, orang-orang pendidikan sering mendengung-dengungkan tentang pendidikan karakter. Bahkan, salah satu karakter diantara 18 karakter yang dikeluarkan dari pedoman Diknas adalah disiplin. Tapi tahu kita, bahwa kantin dan kebiasaan jajan di sekolah adalah salah satu atau salah dua hal yang dapt merusak karakter soal disiplin, terutama gaya hidup konsumtif.”

“Maksudnya bagaimana ya Abah?”

“Bayangkan anak setiap hari misalnya jajan 2x sehari saja sebutlah begitu. Meski kenyataannya lebih dari itu. Anggap saja jam istirahat dan jam pulang sekolah. Sebutlah sekolah dalam setahun itu 300 hari masuk dan 65 hari lainnya libur. Di luar sekolah itu urusan mereka dan orangtua yang dihisab. Tapi saat anak di sekolah, itu tanggung jawab kita, guru, kepala sekolah yang akan dihisab Allah kan?

Bukan sekadar berapa jumlah uang yang mereka habiskan untuk jajan tapi frekuensi mereka jajan yang ratusan kali apa yang terjadi? Selama setahun anak 600x jajan, misalnya begitu karena jajan 2x sehari. 6 Tahun di SD, 3600x jajan. Tambah 3 tahun SMP, 1800x jajan. Selama 3 tahun SMA, 1800x jajan lagi. Total dari kelas 1 SD - 12 SMA, 7200x jajan. Kira-kira kebiasaan jajan, jajan, jajan, dan jajan yang ribuan kali itu apakah benar membuat mereka dapat disiplin menahan diri mengendalikan nafsu keinginan?
Kira-kira, suatu hari mereka punya penghasilan sendiri, mereka mampu tidak menahan uang mereka lama-lama di simpan di tabungan? Atau mereka terus terdorong untuk belanja, belanja dan belanja?”

“Sepertinya mereka tidak akan dapat menahan uang mereka lama-lama ya. Wah kok saya tidak sadar ya selama ini.”

“Maka di sekitar ada nggak Bu? Mungkin gajinya lebih rendah dari Ibu, tapi hapenya mahal minta ampun. Atau katanya hutang banyak, tapi masih juga tega nyicil panci anti lengket atau perabotan plastk wer war wer..!” Eh ibu ini malah ngakak dengar penjelasan saya.

“Abah malah nyindir saya sih. Haha…!”

“Dari kecil kita diajarkan menyimpan uang, menabung ini yang agak kurang tepat. Diajarkan menyimpan uang itu boleh, tapi percuma jika tidak diajarkan untuk belajar mengendalikan keinginan (mengeluarkan uang) yang akhirnya pasti habis juga itu tabungan. Padahal sebesar apapun penghasilan kita tetap akan sengsara jika tidak mampu mengendalikan pengeluaran atau gaya hidup. Menurut Ibu, orang yang korupsi itu miskin tidak?”

“Tidak sepertinya ya?”

“Benar sekali jika secara kasat mata. Orang-orang yang korup bukanlah orang yang tidak punya uang. Benar mereka bukan orang miskin. Tapi secara mental, mereka orang miskin. Menurut saya, maaf ibu boleh tidak setuju. Orang miskin sejatinya adalah bukan orang yang tidak punya uang, tapi orang yang hidupnya merasa selalu kurang. Sementara orang yang kaya adalah orang yang hidupnya merasa cukup sehingga mereka tidak selalu harus menuruti beli ini dan itu.”

“Tapi anak-anak bagaimana makannya Abah?”

“Dua pilihan umumnya: disediakan oleh sekolah atau bawa dari rumah.”

Perbincangan saya terus berlanjut hingga hampir 3 jam. Jadi kayak seminar ilegal dong. Itu sebabnya di sekolah yang kami rancang, Cahaya Nalar, literasi keuangan adalah yang wajib diajarkan pada anak-anak sebelum mereka baligh. Bukan ujung-ujung diajak belajar transaksi dari metode “market day” yang ujungnya hanya “pesta jajan” juga pada akhirnya. Kantin? Apalagi, tidak boleh ada itu. Sebab konsepnya bukan semata “jajan sehat” tapi “gaya hidup sehat” termasuk bermental sehat agar tidak semata terus anak dibiarkan menuruti hawa (keinginan).

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya …..” (QS. 45:23)



0 Komentar



Komentar :

Wiji Ayu Prihatin
Posted : 24-11-2022
MasyaAllah namanya belajar tidak akan pernah berhenti