"Sudah nggak usah bantuin ibu. Tugas kamu cuma belajar!"
Pernah dengar kalimat semacam ini? Saya suka gemes deh kalau ada orangtua yang mengucapkan kalimat ini pada anak.
Ada dua hal yang tidak tepat dan sebaiknya tidak sering mengungkapkan kalimat ini pada anak.
Pertama, pada narasi "membantu'. Membantu itu artinya tugas utama itu sebetulnya ibu. Anggota keluarga lain? Bukan itu tugasnya, yang lain hanya membantu.
Padahal sejatinya tugas mengurus rumah adalah tanggung jawab semua anggota keluarga. Tentu saja dissuaikan dengan porsi usia anak. Akan tetapi saat anak mengerjakan tugas rumah tangga (housework) sesungguhnya apa yang ia lakukan bukanlah disebut “bantuan”. Dia memang harus menjalankan tugasnya. Tugas dan peran anak di keluarga, seperti membereskan kamarnya sendiri. Mengurus laundrynya sendiri, mencuci piring, jika anak mengerjakannya ya memang karena dia harus punya peran di keluarga. Bukan karena membantu ibunya.
“Apa? Aku nyuci piring? Itu kan kerjaan babu!”, jika anak bicara seperti itu ucapkan saja pada anak “Oh jadi selama ini ibu masak, membereskan alat makan untuk kalian, ibu in ibabtu kalian?”
“Kan gede juga kalau aku jadi orang sukses kerjaan gitu mah tinggal nyuruh asisten rumah tangga keles ayah!” Duh.. ini bocah! Emang kamu jamin penghasilan kamu akan lebih besar dari ayah? Emang dijamin kamu jadi orang yang kaya raya di masa depan?”
Lagi pula anak-anak dilatih melakukan pekerjaan rumah tangga tidak berarti kita siapkan anak kerja jadi housekeeper di hotel. Bukan itu Bambank! Tapi ini semata soal peran dan tanggung jawab. Peran dan tanggung jawab itulah yang jadi poin, bukan “nyuci piringnya”.
Narasi semacam ini harus dibenerin karena sampai dewasa ada tak sedikit laki-laki yang merasa bertanggung jawab ketika dia ngurus anak dianggapnya adalah "membantu" istrinya. Ini kalimat yang harus dibenerin. Tugas mendidik anak adalah tugas bersama. Tugas ayah, tugas ibu. Bukan tugas salah satu.
Jadi saat seorang ayah main sama anak, menyediakan waktu sama anak, ngajarin anaknya, menemani anaknya belajar, membacakan cerita pada anak setelah pulang kerja atau di akhir pekannya, lah memang itu dia lagi menjalankan peran seorang ayah, menjalankan tugas seorang ayah. Bukan membantu istrinya karena memang itu tugasnya juga.
“Tugas saya kan mencari nafkah”, jika seorang laki-laki mengucapkan kalimat ini, memang benar sih tugas doi salah satunya adakah mencari nafkah. Saya setuju kok. Secara generik biasanya ini berdasarkan argumen agama. Karena itu coba cek deh pemahaman para pemuka agama tentang nafkah. Bukankah nafkah itu ada lahir dan batin? Pendidikan, pemenuhan kebutuhan nilai, adalah bagian dari nafkah, nafkah batin. Lagi pula, mencari nafkah bukankah bukan satu-satunya tugas seorang laki-laki, melainkan hanya salah satu tugas. Ketika sudah selesai sholat, apakah gugur kewajiban untuk shaum Ramadhan? Ketika sudah mencari nafkah apakah gugur kewajiban mendidik anak? Seingat saya, tidak ada satupun pemuka agama yang mengatakan urusan anak hanya tugas ibu dan ayah tidak punya tugas itu.
Kedua, narasi “tugas kamu cuma belajar” ini juga harus dievaluasi. Apa yang dimaksud belajar? Apakah makna belajar hanya dapat disematkan saat anak membaca buku sains yang tebal? Apakah istilah belajar hanya pantas disematkan saat anak mempelajari rumus-rumus matematika dan lalu ketika misalnya orangtuanya saat mengalami kerepotan anak tak mau tahu dan tak mau terlibat sama sekali?
Saya sering menguapkan kalimat ini pada anak saya “Abah senang kamu pintar dan cerdas dan mampu menyelesaikan soal-soal pelajaran sekolah. Tapi sesungguhnya, tujuan Abah menyekolahkan kalian untuk semkain menguatkan kalian agar memiliki keterampilan hidup yang akan kalian gunakan untuk menjadi solusi dan mampu menyelesaikan masalah-masalah kehidupan. Agar kalian mampu memberikan manfaat untuk banyak orang. Bukan menjadikan orang yang tahu banyak hal tapi minim tindakan untuk kebaikan banyak orang.