Sudah Sana, Tugas Kamu Kan Cuma Belajar

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

19-Jan-2021


"Sudah nggak usah bantuin ibu. Tugas kamu cuma belajar!"


Pernah dengar kalimat semacam ini?  Saya suka gemes deh kalau ada orangtua yang mengucapkan kalimat ini pada anak


Ada dua hal yang tidak tepat dan sebaiknya tidak sering mengungkapkan kalimat ini pada anak. 


Pertama, pada narasi "membantu'. Membantu itu artinya tugas utama itu sebetulnya ibu. Anggota keluarga lain? Bukan itu tugasnya, yang lain hanya membantu


Padahal sejatinya tugas mengurus rumah adalah tanggung jawab semua anggota keluarga. Tentu saja dissuaikan dengan porsi usia anak. Akan tetapi saat anak mengerjakan tugas rumah tangga (housework) sesungguhnya apa yang ia lakukan bukanlah disebut “bantuan”. Dia memang harus menjalankan tugasnya. Tugas dan peran anak di keluarga, seperti membereskan kamarnya sendiri. Mengurus laundrynya sendiri, mencuci piring, jika anak mengerjakannya ya memang karena dia harus punya peran di keluarga. Bukan karena membantu ibunya


“Apa? Aku nyuci piring? Itu kan kerjaan babu!”, jika anak bicara seperti itu ucapkan saja pada anak “Oh jadi selama ini ibu masak, membereskan alat makan untuk kalian, ibu in ibabtu kalian?” 


Kan gede juga kalau aku jadi orang sukses kerjaan gitu mah tinggal nyuruh asisten rumah tangga keles ayah!” Duh.. ini bocah! Emang kamu jamin penghasilan kamu akan lebih besar dari ayah? Emang dijamin kamu jadi orang yang kaya raya di masa depan?”


Lagi pula anak-anak dilatih melakukan pekerjaan rumah tangga tidak berarti kita siapkan anak kerja jadi housekeeper di hotel. Bukan itu Bambank! Tapi ini semata soal peran dan tanggung jawab. Peran dan tanggung jawab itulah yang jadi poin, bukan “nyuci piringnya”.


Narasi semacam ini harus dibenerin karena sampai dewasa ada tak sedikit laki-laki yang merasa bertanggung jawab ketika dia ngurus anak dianggapnya adalah "membantu" istrinya. Ini kalimat yang harus dibenerin. Tugas mendidik anak adalah tugas bersama. Tugas ayah, tugas ibu. Bukan tugas salah satu


Jadi saat seorang ayah main sama anak, menyediakan waktu sama anak, ngajarin anaknya, menemani anaknya belajar, membacakan cerita pada anak setelah pulang kerja atau di akhir pekannya, lah memang itu dia lagi menjalankan peran seorang ayah, menjalankan tugas seorang ayah. Bukan membantu istrinya karena memang itu tugasnya juga.

Tugas saya kan mencari nafkah”, jika seorang laki-laki mengucapkan kalimat ini, memang benar sih tugas doi salah satunya adakah mencari nafkah. Saya setuju kok. Secara generik biasanya ini berdasarkan argumen agama. Karena itu coba cek deh pemahaman para pemuka agama tentang nafkah. Bukankah nafkah itu ada lahir dan batin? Pendidikan, pemenuhan kebutuhan nilai, adalah bagian dari nafkah, nafkah batin. Lagi pula, mencari nafkah bukankah bukan satu-satunya tugas seorang laki-laki, melainkan hanya salah satu tugas. Ketika sudah selesai sholat, apakah gugur kewajiban untuk shaum Ramadhan? Ketika sudah mencari nafkah apakah gugur kewajiban mendidik anak? Seingat saya, tidak ada satupun pemuka agama yang mengatakan urusan anak hanya tugas ibu dan ayah tidak punya tugas itu


Kedua, narasi “tugas kamu cuma belajar” ini juga harus dievaluasi. Apa yang dimaksud belajar? Apakah makna belajar hanya dapat disematkan saat anak membaca buku sains yang tebal? Apakah istilah belajar hanya pantas disematkan saat anak mempelajari rumus-rumus matematika dan lalu ketika misalnya orangtuanya saat mengalami kerepotan anak tak mau tahu dan tak mau terlibat sama sekali? 


Saya sering menguapkan kalimat ini pada anak saya “Abah senang kamu pintar dan cerdas dan mampu menyelesaikan soal-soal pelajaran sekolah. Tapi sesungguhnya, tujuan Abah menyekolahkan kalian untuk semkain menguatkan kalian agar memiliki keterampilan hidup yang akan kalian gunakan untuk menjadi solusi dan mampu menyelesaikan masalah-masalah kehidupan. Agar kalian mampu memberikan manfaat untuk banyak orang. Bukan menjadikan orang yang tahu banyak hal tapi minim tindakan untuk kebaikan banyak orang




7 Komentar



Komentar :

Mita
Posted : 19-01-2021
setuju banget, pekerjaan rumah tangga tanggung jawab semua, alhamdulillah kami di rumah masing2 punya tanggung jawab. Yang kelas 7 dan kelas 5 sudah bisa nyuci baju dan setrika sendiri, piring kotor cuci masing2, kamar tidur beres2 sapu dan pel masing-masing. Belajar agar menjadi anak pintar itu penting, tp skill of life, keterampilan hidup, juga sangat penting,.. Saya sadar bahwa saya ga akan selalu ada untuk mereka, jadi sedikit saya kenalkan skill of life pada mereka agar bs mandiri. Awalnya mereka melakukannya ogah2an, tp setelah 2-3 bulan ternyata sudha menjadi rutinitas dna kebiasaan, tanpa beban.. beban numpuk kalo pekerjaannya ditunda tunda hehe.


Leli
Posted : 30-09-2020
Bener Abah, kerasa banget sama adek saya. Adek saya kebetulan bungsu dari 3 bersaudara. Sejak kecil Alhamdulillah hidup dengan ketersediaan, berbeda dengan kakak2nya yg maklum ortu masih merintis shg msh sj banyak kekurangan. Tapi disisi kekurangan dan keterbatasan keluarga kami yg menjadikan kami anak2 yg bertanggung jawab. Beda sekali dgn Adek saya yg pada saat itu menjadi "anak tunggal sementara" karena kakak2nya sekolah di kuliah di luar kota kami tinggal. seolah2 ortu ada perbedaan pola dalam pengasuhan, alhasil Adek saya menjadi "agak special" karena perbedaan pola pengasuhan dan perilaku pada ortu. Dan kami kakak2nya merasakan akibat perbedaan ini, saat ini dia menjadi org yang kurang bertanggungjawab dikeluarga kami. Sempet sedih knp adeknsaya seperti itu dan knp ortu sy memberikan perlakuan yg berbeda dengan kami. Apakah usia seseorang dan lama nya pernikahan mempengaruhi pola pengasuhan pada anak2nya?


Silvia Leonita
Posted : 29-09-2020
Anak masih sering melalaikan tanggungjawab nya. Masih harus terus diberitahukan berulang. Makasih abah remindernya 😊


Angie clarisa
Posted : 29-09-2020
Masyaallah....saya harus byk berlatih ngobrol kyk gini nih sama anak2 Jazakallah khair abah👍👍👍👍


Citra
Posted : 29-09-2020
Sukaaaa abaaah.. Abah memang paling bisa memberikan vocab buat orangtua (bersiap) menjawab pertanyaan anak yang aneh bin ajaib.. :D Terima kasih banyak ya abah!