Saya tidak tahu sumber video ini, lewat saja bersileweran. Jika tahu, mohon infokan ke saya untuk dicantumkan sebagai sumber copyrightnya. Seorang ibu marah-marah, saya duga karena anak-anaknya yang mungkin pada sibuk dengan handphonenya saat di rumah.
Saat marah seorang anak menimpali jika tidak saya salah tangkap dengan kalimat “aku bukan anak sd”, lalu dengan ngegas sang ibu menimpali “nah makannya tahu diri kalau sudah Kuliah, bukan SD tahu diri.
Kalimat mirip juga sering dilontarkan pada sebagian orang yang biasanya tengah merasa frustasi saat menghadapi tingkah laku seseorang yang tidak sesuai seperti “Dasar orang tak tahu diri” atau ungkapan yang lebih lawas adalah “kacang lupa kulitnya.
Pertanyaannya, apakah anak-anak yang tak tahu diri ini benar-benar sudah dibantu, dibimbing, dididik, untuk tahu, paham dan mengenal dirinya? Ada gak “materi” proaktif yang jelas yang sudah orangtua sampaikan pada anak soal konsep diri ini dan bukannya hanya reaktif menuntut anak tahu diri saat anak bermasalah?
Apakah anak kita dipahamkan sejak kecil bahwa dalam sebuah keluarga mereka punya hak dan punya kewajiban?
Apakah anak kita paham bahwa mereka dibesarkan oleh orangtua ada batas waktunya?
Apakah anak-anak itu paham bahwa semua kebebasan seseorang akan bertemu dengan kebebasan orang lainnya?
Apakah mereka tahu dalam setiap kemerdekaan yang diberikan ada tanggung jawab yang menyertainya?
Apakah anak-anak kita tahu bahwa dalam setiap keputusan ada konsekuensinya?
Apakah anak-anak kita sudah dibiasakan bahwa saat mereka tidak melaksanakan tanggungjawabnya mereka akan dapat konsekuensi tindakan dari orangtuanya dan tidak hanya dimarahi, dimarahi dan dimarahi?
Tahu diri bahasa lebih ilmiahnya adalah “identitas diri”. Identitas diri bagian yang sangat penting dalam konteks konsep diri. Seseorang yang tidak punya konsep diri yang jelas akan mudah terombang-ambing, tren, budaya pop atau apa yang popüler, apa yang menarik, apa yang lagi hit, negatif atau positif.
Jika yang lagi trend drama korea, maka bagi orang yang tak punya konsep diri yang kuat akan serta merta “nimbrung” menontonnya. Jika yang lagi trend Blackpink, maka sangat mudah bagi mereka mengikuti dan mengiodalakan Jisoo, Jennie, Rosé dan Lisa. Lepas dari apakah positif atau negatif. Singkatnya anak tanpa konsep diri yang jelas akan mudah jadi generasi galau yang moody dan gak punya prinsip.
Membuat anak percaya diri memang penting, tapi membuat anak “tahu diri” sungguh jauh-jauh lebih penting. Saat anak “tahu dirinya” terbentuk maka ia akan punya prinsip yang kokoh soal kehidupan. Ia memiliki kesadaran penuh soal apa tujuannya hidupnya, apa yang hendak ia capai, apa yang harus disiapkan dan seterusnya.
Saat punya konsep yang jelas soal kehidupan, kepercayaan diri sebetulnya hanya bagian yang kecil yang otomatis akan terbentuk dalam setiap anak. Oh ya percaya diri itu tidak sama dengan “show off” alias pamer. Anak yang tak mau difoto atau tak mau tampil dipanggung pentas sekolah belum tentu disebut tidak percaya diri jika punya argumen “mama foto aku untuk apa? Kalo mama butuh dokumentasi untuk keuangan keluarga tidak majalah, tapi kalo foto aku untuk dilihatin ke orang aku gak setuju.”
Anak yang tidak disiapkan, tidak dibentuk konsep dirinya, maka mereka akan menjadi generasi semau-maunya. Saat di keluarga, mereka tahunya bahwa orangtua harus memenuhi keinginan dan kesenangannya. Beli ini beli itu, minta ini minta itu, pengen ini pengen itu. Saat orangtua tak memenuhi: ngambek, merajuk, mengurung diri di kamar. Dikit-dikit ngancam nggak mau sekolah, nggak mau pulang dan seterusnya.
Jangan salah generasi tanpa konsep diri juga punya ideologi dan sangat cerdas dalam berdebat soal ideologinya: ideologi kesenangan.
“Apa yang baik menurut lo, belum tentu baik menurut gw.”
“Nggak usah ikut campur urusan orang, kayak diri lo Suci.”
“Mau gw mabok kek, tidur bareng cewek kek, mau jadi LaGiBeTe kek (baca huruf besarnya doang), kek, hidup-hidup gw, yang penting gw gak ngerugiin lo!”
“Bukan lo yang punya kavling surga, nggak usah sok baik deh.”
Kalimat-kalimat semacam ini akan terasa familiar di telinga dan dilontarkan sang pemilik ideologi. Semua yang mengikat mereka pada aturan (keteraturan) akan mereka lawan!
Bahkan baru-baru ini saya baca seorang pemusik dengan folowernya setengah jutaan orang, yang banyak fans berkata “yang bahaya dari ganja bukan ganjanya sendiri, tapi aturannya.” Tentu saja ini jadi referen para pengikutnya. Benarkah jika tanpa aturan yang jelas ganja tidak akan disalahgunakan? Tentu saja ada aturan saja masih punya peluang disalahgunakan, apatah lagi dibebaskan sama sekali.
Anak-anak tanpa konsep diri yang jelas tentu akan menyusahkan orangtuanya. Tapi itu bukan kabar paling buruk. Jadi apa dong kabar buruknya? Di masa depan, anak-anak ini akan menyusahkan banyak orang, bukan hanya orangtuanya.
Saat jadi Istri dan ibu, mereka sama dengan orang kebanyakan: menikah, hamil dan melahirkan, tapi kemudian tidak tahu apa sih yang harus mereka buat, apa yang harus dicapai, apa yang harus dilakukan saat meraka berumah tangga. Hasilnya: anak-anak yang menjadi generasi BLAST (bored, lonely, angered, stressed dan tired).
Apa lagi saat mereka jadi seorang suami dan ayah kelas. Pasangannya sangat berguna hanya saat dia butuh tubuhnya. Ia lebih sering asyik menyendiri di dunia ghaibnya sendiri. Dia tak sadar bahwa saat dia mengucapkan perjanjian (akad) dalam pernikahan adalah tanggung jawab besar yang akan memberikan dampak konsekuensinya suatu hari.
Tak usah menunggu akhirat, di dunia niscaya dia akan mendapatkannya sebelum wafat. Jadi untuk apa sih sok-sok ajak-ajak seseorang untuk ke dekat pantai naik perahu dalam kehidupannya jika ternyata naik perahunya malah sendirian?
Jadi gimana dong agar anak kita punya konsep diri yang jelas? Ajarkan, pahamkan, installkan sekarang sebelum jauh dia melanglangbuana bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang agar dia menjadi generasi yang mantap menata masa depan. Jangan nunggu bermasalah deh.
Ih, tapi ini masih abstrak, saya belum jelas sih soal gimana sih mengajarkan, memahamkan dan menginstallkan konsep diri positif pada anak itu? Kepanjangan dong. Mending dibahas di lain waktu nanti. Tulisan ini dibuat untuk ‘membangunkan’ kita dulu soal pentingnya konsep diri untuk anak.-abaihsan.id-