"Temanku enak, serba dikasih apa-apa sama orangtuanya", ujar seorang anak pada ibunya. Lalu ibunya berkata:
“Apa kamu mau pindah orangtua? Setiap rumah punya aturan masing-masing dan mohon maaf ya Nak, aturan yang dibuat itu semua ada tujuannya.”
Ayah Ibu kalimat itu boleh jadi baik untuk anak-anak. Bahwa setiap keluarga boleh jadi punya prinsip dan aturannya sendiri. Akan tetapi, jika anak sudah mulai beranjak remaja kalimat ini tidak cukup dan malah sebaiknya dihindari. Kalimat tadi mungkin efektif untuk anak-anak SD atau dibawahnya.
Untuk anak-anak yang sudah menjelang dewasa, saya usulkan tambahkan dengan install beberapa hal pada pikirannya. Misalnya:
“Nak, hidup itu sebetulnya pilihan, ada orang yang mau senang sekarang dan akhirnya menderita kemudian, ada yang memilih menderita sekarang dan lalu senang kemudian.
Coba kamu cari tips sukses di semua nasihat sukses, seperti:
No gain no pain
Berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian
Follow your passion (passion: suffering)
1% bakat, 99% kerja keras
Itu semua membuktikan tidak ada kesuksesan tanpa dibayar dengan kepedihan, kerja keras, penderitaan, dan lain-lain Nak! Bahkan ketika seseorang punya previllage sekalipun. Misalnya orangtuanya memang dari awal kaya raya, tetap saja untuk mempertahankan kekayaan itu bahkan dibutuhkan effort yang luar biasa. Apalagi yang memang berangkat dari nol atau minus.
Anakku, menjadi dewasa itu seperti kita lari maraton, membutuhkan daya tahan luar biasa. Agar kebaikan tidak ambruk padahal baru lari 5 kilometer. Padahal jarak lari maraton itu normalnya 42,195 kilometer.
Nah agar kita tahan lari puluhan kilometer, otot kaki kita harus dilatih sejak kecil. Apakah mungkin kita akan bisa kuat lari puluhan kilometer jika tidak pernah latihan setiap hari dari hal-hal kecil? Tidak mungkin.”
Lalu, semalam kami diskusi dengan 4 anak yang besar, panjang lebar. Anak-anak banyak bertanya:
"Mengapa banyak orang tak bertanggung jawab di Indonesia? Mengapa banyak teman-temanku yang seharian di keluarganya asyik sendiri? Kasihan banyak anak-anak tak diurus orangtuanya. Malah keluarga kita yang dianggap aneh, nggak punya handphone, nggak punya media sosial anak-anaknya, nggak mengenal jajan, malah dianggap aneh.”
Yang lain ada yang berkata, “Teman-teman Teteh yang sudah kuliah saja, sampai malam saja masih main HP padahal mereka hidup di keluarga? Atau Bah, mengapa banyak dosen-dosen yang sampai malam saja masih kerja? Apa mereka tidak punya keluarga? Malam-malam masih zoom-zooman, bahkan ada dokter yang bilang ke Teteh, ‘Kita kadang harus mengorbankan keluarga demi kesuksesan’. (Anak ini kuliah medis jadi banyak dosennya yang juga berprofesi bidang medis).”
Lalu anak saya bertanya, “Benarkah harus dikorbankan? Memang tidak bisa keluarga harmonis tapi sukses juga?”
Lalu saya bilang, "Demi Allah tidak ada orang yang mampu kerja 24 jam. Tidak ada. Kecuali tentu saja dalam keadaan emergency. Namun setelah emergency selesai? Dokter atau siapapun orang yang merasa sangat sibuk, sesibuk apapun, pasti dia butuh tidur, butuh makan, butuh rehat. Nah ketika merasa "butuh" pasti disediakan waktunya kan? Karena merasa penting.
Sama seperti keluarga, masalahnya menganggap keluarganya penting tidak? Jika ya, maka pasti disediakan waktu, bukan disisakan waktu. Jika kemudian mereka mengatakan bahwa keluarganya penting, keluarga itu tak ternilai harganya, tapi kenyataannya tidak menyediakan waktu, ya berarti yang terjadi adalah tidak benar-benar penting. Sebab cinta itu kata kerja, bukan kata benda.”
Maka lalu saya bilang ke mereka berempat dan itu cukup membuat mereka semua terdiam dan anak-anak perempuan itu jadi berkaca-kaca:
"Tidak apa kalian benci sama Abah dengan segala pola asuh yang Abah terapkan, asalkan Abah tidak benci kalian dan terutama kalian tidak dibenci Allah. Bahkan jika perlu Abah masuk neraka, asal dibayar dengan kalian masuk surga.”
“Ngeri banget Abah”, kata seorang anak. Lalu saya menjelaskan “Dengarkan baik-baik kalimatnya. Jika perlu. Masalahnya siapa yang perlu neraka Nak? Naudzubillah.
Yang juga Abah khawatir bukan kalian kelaparan. Abah khawatir kalian kekenyangan. Abah umi tidak sempurna, jika ada perlakuan, aturan keluarga yang tidak setuju, silahkan komunikasikan. Asal disertai argumentasi yang jelas. bukan asal tidak setuju.
Nah kalian diajarkan chores, diajarkan punya peran, dan lain-lain agar "otot" tanggung jawab kalian terbentuk.
Banyak orangtua bertanya pada Abah, “Abah bagaimana membuat anak mandiri, dewasa dan tanggung jawab. Lalu Abah bilang, “Mau cara cepat atau cara lambat?"
Cara cepat gimana?
Ayah ibunya harus wafat lebih cepat. Insya Allah anak akan dipaksa dewasa jika tidak ada yang melindunginya. Karena mereka terpaksa harus bertahan hidup dan akhirnya tidak ada waktu bersenang-senang berlebihan.
Ekstrim! Ya sudah cara lambat gimana?
Kurangi kesenangannya. Tempa mereka dengan penderitaan, beban, peran, kesusahan. Tempa dengan bimbingan bukan dilepas begitu saja. Karena kenyataannya banyak orang miskin ya tetap miskin, kurang menderita apa coba? Karena penderitaan tanpa punya endurance dan tujuan, hanya berujung pada penderitaan semata bukan lompatan kebaikan. -ihsan baihaqi ibnu bukhari”