Anak-anak balita diciptakan Allah gampang bosan supaya bisa mencoba banyak hal baru dengan rentang fokusnya yang pendek itu. Karena berani mencoba banyak hal, kelak, setelah masa balita lewat, mulai usia sekolah dan seterusnya mereka menjadi makhluk yang tak gampang bosan lagi. Kelak, ketika dewasa mereka takkan lagi kebingungan sebetulnya untuk “do something” di tempat kerja, di kantor, di masyarakat. Kenapa? Tubuh dan otaknya sudah terlatih.
Meski balita itu gampang bosan, jangan khawatir, anak-anak kita secara alami dari kecil sebetulnya adalah makhluk kreatif. Ia tak pernah kehilangan ide untuk bersenang-senang dan bermain. Coba perhatikan, balita-balita itu awalnya gak kehabisan cara untuk bersenang-senang, andaikan mereka tidak punya seabrek mainan, semua benda di sekitar mereka dapat dirubah jadi mainan.
Masalahnya, independensi mereka untuk menciptakan ide baru bersenang-senang dan bermain menjadi terhambat ketika anak-anak itu dibuat tak sengaja menjadi ketergantungan dengan benda bernama gadget: tv, smartphone, screen games. Ketika terikat dengan gadget, maka yang terjadi kemudian justru mereka terpaku. Motorik, kreatifitasnya jadi tergantung berlebihan dengan gadget.
Tak heran, seolah kreatif ketika mereka membuat prakarya karena lihat dari youtube. Hanya karena ada panduan. Coba cek saat youtubenya dicabut? Sebagian besar mereka menjadi kebingungan dan akhirnya berkata “nonton tv nggak boleh, main hape nggak boleh, main games nggak boleh! Aku bingung harus ngapain? Aku bosan!” Nah ini kebosanan yang tidak alami lagi. Kebosanan alami adalah kebosanan yang saat mereka bosan dengan sebuah kegiatan, mereka otomatis berpindah pada kegiatan lain tanpa kebingungan. Sedangkan kebosanan yang merusak adalah kebosanan yang terjadi karena dependensi terhadap sebuah benda, bukan banyak benda. Bukan kebosanan karena fokusnya yang pendek.
Repost from : instagram.com/rumahbukufikra