Tentang Belajar dan Bermain

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

25-Sep-2021


Assalamu'alaikum Abah... Maaf sy mau sharing soal anak.. Sebenarnya apa yang perlu di pahami antara belajar dan bermain? Kadang ada statement yg menyatakan bahwa dunia anak itu bermain.. Sedangkan ketika anak sudah bersekolah, kita sebagai orang tua lbh memilih untuk lebih memprioritaskan belajar. Apalagi dimasa pandemi ini, sebagai orang tua tidak mudah untuk mengajari anak, karna memang beda peran antara guru disekolah dan orang tua. Anak pasti lbh nurut ketika dijelaskan oleh guru. Jd disini apakah sbg org tua sudah benar, jika melarang anak terlalu byk bermain, sedangkan teman2 nya selalu mengajak bermain. Sy sebagai orang tua jg takut terhadap penyakit diluar sana. Tp ketika dilarang, atau dibatasi pasti anak membantah dan ujung2nya menangis. Sy takut mengganggu psikisnya klau terlalu sering menangis. Mohon dpt di bantu untuk jawabannya Abah.. Terima kasih. Wassalamu'alaikum


1. Ada butuh bermain, juga butuh belajar. Tidak bisa satu dan yang lainnya dibenturkan. Ada waktunya belajar ada waktunya bermain.


2. Bermain adalah salah satu cara anak belajar. Jadi bermain itu sendiri adalah belajar. Ada banyak permainan yang memberikan manfaat untuk tumbuh kembang anak. Menstimulasi motorik halus kasar, kemampuan negoisasi, komunikasi, kerjasama, dan lainnya


3. Tidak berarti kemudian semua harus dengan cara bermain. Adakalanya belajar juga membutuhkan fokus, konsentrasi dan lainnya. yang tidak dapat dilakukan jika "sambilan" bermain.


4. Makin besar anak porsi bermainnya makin sedikit. Jadi tidak bisa anak sudah masuk usia sd misalnay diperlakukan terus sama dengan anak usia TK. Sedikit demi sedikit anak juga dapat diajak ke arah pembiasaan-pembiasaan positif, bertanggung jawab, disiplin belajar dan lainnya


5.Adalah hak dan memang orangtua berwenang, untuk membatasi kapan anak boleh main dan kapan tidak. Memberikan batasan kapan boleh bermain tidak berarti melarang sama sekali anak main kan? Jadi sah-sah saja orangtua memberikan batasan itu. Asal memang hak dan waktu bermain tetap ada batasan: keselamatan (sat pandemi), batasan waktu dan lainnya.


6.Saat anak diberikan batasan (ada waktu tertentu tidak boleh main), tentu saja semua anak bakal kecewa yang diekspresikan dengan cara berbeda pada diri setiap anak: anak yang nangis, marah, berusaha untuk menentang dan lainnya. Tidak semua keinginan harus dituruti. itulah fungsi orangtua untuk membimbing anak. Anak marah, kecewa, nangis, bukan lah tanda bahwa anak akan terganggu kejiwaannya. Karena dalam kehidupan nyata di dunia kenyataannya, tidak semua keinginan kita sendiri sebagai orang dewasa dapat kita wujudkan kan? Justru berbahaya jika semua keinginan anak dituruti, padahal bisa jadi, misalnya keinginan anak itu membahayakan anak.


7.Dibutuhkan keterampilan orangtua untuk menghadapi berbagai perilaku anak. Seperti mengendai mobil yang butuh skill dan keterampilan, jika kita tidak memiliknya, kita bisa celaka di tengah jalan. Demikian juga anak, jika kita tidak tepat memperlakukannya, bisa jadi anak malah tambah jadi musibah dan menyusahkan hidup kita. Naudzubillah. Tetapi jika kita mampu menghadapinya dengan tepat, insya Allah anak kita akan menjadi anak yang membahagiakan, membanggakan kita dunia dan akhirat.


8. Ada banyak keterampilan yang harus dipelajari orangtua agar dapat mendukung anaknya menjadi anak-anak yang terus bertumbuh ke arah positif: keterampilan komunikasi, keterampilan tegas pada anak, keterampilan untuk menjalin keakraban pada anak dan lain -lain. Sediakan waktu untuk meningkatkan berbagai skil skill itu. Insya Allah akan dibayar dengan anak-anak yang bertumbuh terjaga dalam kebaikan.



0 Komentar



Komentar :

Wiji Ayu Prihatin
Posted : 24-11-2022
MasyaAllah namanya belajar tidak akan pernah berhenti