Toxic Words Saat Berduka Kehilangan Anak

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

02-Jun-2022


Ini kisah nyata.


Seorang ibu ditinggalkan wafat anak balitanya, bungsunya. Ceritanya, anaknya jatuh dari kursi. Kepala terbentur, pendarahan. Dibawa ke rumah sakit, masuk UGD. Tapi, nyawanya tak tertolong. Anak ini wafat. 


Saya pernah merasakan sedihnya ditinggal kedua orangtua. Saya berbulan-bulan masih tak percaya dengan apa yang saya rasakan. Kesedihan mendalam, ketidaksiapan kehilangan dan lain-lain. Tapi, kehilangan anak? Lebih tak terbayangkan. 


Tanyalah orangtua yang pernah mengalami ditinggalkan wafat anaknya, kehilangan anak. Ia darah daging kita sendiri, buah hati kita sendiri. Apalagi masih kecil, masih lucu-lucunya. Jika dengan orangtua yang wafat mungkin sudah lama kita memang terpisah rumah, dengan anak balita kita yang setiap hari berinteraksi, bertemu, melihat tangisan, tertawanya, subhanallah. Tak terbayang sedihnya.....


Di tengah sedih kehilangan anak karena wasilah kecelakaan. Masih saja ada orang berani berkomentar dan bertanya:


"Kenapa bisa jatuh?"

"Kok bisa?"

"Emang anaknya tidak dijagain?"

"Emang anaknya tidak diawasin?”


Di tempat lain ada orangtua yang juga pernah kehilangan anak kecilnya mengaku kepada saya betapa hancur hati dia ketika anaknya wafat terkena penyakit, lalu teman-temanya berkomentar:


"Ini anaknya salah dikasih makanan ya?"

"Salah milih RS ya?"


Ini bukan soal "ah gak usah baperan". Siapapun, saat kondisi sedih, terpuruk, yang diajukan adalah dukungan, bukan pertanyaan kekepoan, apalagi tuduhan. Bayangkan, sudah sedih kehilangan, masih ditambah dengan beban perasaan makin disalahkan. 


Jika pun "baper" sangat wajar ia baper. Orang yang meremehkan baper sesungguhnya tidak berada pada posisi rendah yang dirasakan penerima musibah.


Ketika seseorang  berduka setelah kehilangan, mungkin sulit untuk mengetahui apa yang harus dikatakan atau dilakukan. Orang yang berduka berjuang dengan banyak emosi yang intens dan menyakitkan, termasuk depresi, kemarahan, rasa bersalah, dan kesedihan yang mendalam. Seringkali, mereka juga merasa terisolasi dan sendirian dalam kesedihan mereka, karena rasa sakit yang hebat dan emosi yang sulit.


Maka, ketika orang terkena musibah kehilangan anak. Please hati-hatilah berkomentar atau mengajukan pertanyaan yang mungkin ada peluang ia makin merasa disalahkan. Jika ia ingin punya waktu sendiri, boleh. Asal, tidak berlama-lama agar pikirannya tidak sembarangan berkelana.


Jika ingin memberikan pernyataan atau pertanyaan bukan untuk memenuhi kekepoan kita, tapi untuk menawarkan bantuan kepada dia. 


"Saya turun bersedih dan kehilangan."

"Jika mau cerita, saya siap mendengarkan."

"Jika ada yang dapat saya lakukan, bilang ya."

"Saya tidak yakin harus ngomong apa, tetapi saya ingin ada di dekatmu."


Saat teman berduka, sebaiknya memang tidak berlebihan memberikan petuah atau nasihat. Bahkan seseorang mengaku saat dulu kehilangan anaknya merasa 'muak' dengar tiap orang ngomong nasihat. Padahal "saya gak butuh nasihat juga"


Orang yang berduka perlu merasa bahwa KEHILANGAN MEREKA DIAKUI, merasa DITERIMA. Suatu hari mereka mungkin ingin menangis di bahu kita, di hari lain mereka mungkin ingin curhat, atau duduk diam, atau berbagi kenangan (tentu saja dalam batasan hijab yang dijaga). Dengan hadir dan mendengarkan dengan penuh cinta, kita dapat mengambil isyarat dari orang yang berduka. Berada di sana dan mendengarkan mereka bisa menjadi sumber kenyamanan dan penyembuhan yang besar.


Biarkan yang berduka berbicara tentang bagaimana orang yang mereka cintai meninggal. Orang yang berduka mungkin perlu menceritakan kisah itu berulang kali, terkadang dengan detail yang sangat kecil. Sabar. Mengulangi cerita adalah cara memproses dan  MENERIMA KEMATIAN. Dengan setiap menceritakan kembali, rasa sakit berkurang. Dengan mendengarkan dengan sabar dan penuh perhatian, kita membantu kesembuhan orang yang kehilangan anaknya.


Jika ingin menawarkan bantuan, bantuan yang kita berikan harus memeperhatikan kondisi. Kadang mereka tidak butuh uang kita. Seorang ibu ketika membuka amlop duka malah berkata "saya sedih Abah pas buka amplop. Ini besar. Tapi... saya kok merasa seperti menukar dengan nyawa anak saya. 


Ada banyak cara praktis untuk membantu orang yang berduka misalnya beberapa hal berikut untuk menunjukkan kita hadir dan peduli : 

* Belanja bahan makanan untuk beberapa hari. 

* Bantuan pengurus pemakaman

* Berkunjung rutin ke rumah mereka satu dua hari jika dekat.

* Mengurus pekerjaan rumah tangga, seperti membersihkan atau mencuci.

* Awasi anak-anak mereka atau jemput mereka dari sekolah.

* Mengajak mereka jalan-jalan jika sudah reda dengan duka, dan lainnya


Kehilangan Ayah disebut yatim

Kehilangan Ibu disebut piatu

Kehilangan anak … "even there is no word can describe"



0 Komentar



Komentar :

Wiji Ayu Prihatin
Posted : 24-11-2022
MasyaAllah namanya belajar tidak akan pernah berhenti