Benarkah anak-anak perlu disiapkan sedini mungkin untuk berkompetisi di masa depan dengan cara membiasakan mereka ikut berbagai macam kompetisi sejak dini?
Alasan kenapa anak harus dilatih sedini mungkin untuk hidup kompetitif umumnya mengacu pada penjelasan bahwa sejak lahir ke dunia saja manusia sudah membawa tabiat berkompetisi. Adanya kita di dunia hari ini karena ada sperma yang memenangkan perlombaan yang bersaing dengan milyaran sperma lain yang membuahi sel ovum. Setelah kehidupan dewasa nanti, anak akan hidup di dunia yang kompetitif atau penuh kompetisi. Peluang kerja yang terbatas dan sumber daya alam yang terbatas, membuat banyak manusia akan bersaing satu sama lain untuk memperebutkannya.
Jika anak tidak mencari kerja sekalipun, karena mereka membuka usaha sendiri, ia akan bertemu dengan kompetitor lain dalam menjalankan usaha yang bersaing memikat konsumen. Bahkan, untuk masuk perguruan tinggi sekalipun mereka harus berlomba mengalahkan satu sama lain karena keterbatasan kuota penerimaan mahasiswa. Sampai-sampai sebagian orangtua rela memberi suap pada pejabat perguruan tinggi agar anaknya diterima di kampus tersebut.
Dalam dunia bisnis, tidak ada kompetitor dipandang membuka peluang minimnya inovasi dan pengelolaan usaha yang monopolistik. Sistem monopolistik, apalagi yang menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti listrik, air, transportasi publik, membuat pelayanan seadanya.
Jika benar demikian bahwa anak butuh dibiasakan dan dilatih dengan kompetisi sejak dini, usia berapa yang dimaksud sejak dini itu? Apakah boleh dari balita? Lalu bagaimana jika anak-anak itu sering kalah? Apakah sering kalah justru baik untuk membentuk anak belajar gagal atau justru malah membuat konsep dirinya makin buruk?
Sejak dulu saya bertanya-tanya dalam hati, apakah tidak ada jalan lain untuk membuat anak dapat survive di masa depan selain dengan cara belajar mengalahkan orang lain? Apakah yang dimaksud mendapatkan predikat berprestasi itu berarti harus menjadi unggul dari orang lain? Dapatkah kita hidup di dunia dengan bahagia dengan harmoni tanpa harus membuat orang lain merasa kalah? Dapatkah kita mendapatkan keuntungan dalam bisnis tanpa harus menenggelamkan usaha atau bisnis orang lain?
Dalam bidang pendidikan, dunia pendidikan terbelah antara yang mendukung bahwa anak-anak bagus dibiasakan dengan kompetisi, ada juga yang menentangnya dan justru lebih penting mengedepankan kolaborasi. Para pendukung kompetisi umumnya akan menunjukkan kehebatan dengan cara menunjukkan portofolio dari banyaknya kegiatan lomba di berbagai bidang, seni, olahraga, sains. Jumlah medali dari olimpiade sains menjadi ukuran prestasi.
Sebaliknya para penentangnya, yaitu yang percaya kolaborasi, mereka justru mengabaikan perlombaan. Mereka lebih banyak menstimulasi anak-anaknya dengan aktivitas yang menuntut kemampuan berkolaborasi. Jika ada persaingan jumlah medali olimpiade sains, mereka pasti kalah telak. Misalnya juara olimpiade sains dari Indonesia tentunya akan lebih banyak daripada negara Finlandia. Tapi apakah Finlandia kualitas pendidikan jauh lebih buruk dari Indonesia?
Mana yang akan dipilih bergantung keyakinan kita masing-masing. Tapi apapun pilihannya, kita harus memastikan bahwa keyakinan itu memiliki argumen yang kuat, memiliki landasan yang kuat bukan hanya berdasarkan tebak-tebakan semata.
Saya secara pribadi berpendapat bahwa dalam bidang-bidang tertentu kompetisi tetap dibutuhkan tapi dalam bidang yang lain malah sebaiknya dihindari. Dalam bidang bisnis, kompetisi mendorong entitas bisnis terus berinovasi lebih baik. Dalam bidang olahraga, dengan batasan-batasan tertentu, kompetisilah yang justru membuat olahraga (olahraga prestasi) menjadi lebih bergairah.
Dalam bidang pendidikan, saya cenderung untuk mempraktikan kolaborasi, baru kompetisi. Artinya saya tidak mengedepankan kompetisi sebagai sebuah acuan atau satu-satunya jalan untuk menjadikan anak mengakselerasi kemampuannya. Jika pun mengambil jalan itu, anak-anak harus memahami dulu tentang hakikatnya hidup harmoni dengan kolaborasi.
Saya memiliki keyakinan bahwa anak dapat menghasilkan sebuah karya tanpa harus merasa lebih unggul dari yang lain, tanpa harus mengalahkan orang lain. Apakah penyanyi-penyanyi legendari dari sejak dulu sampai sekarang yang hebat-hebat hanya dilahirkan dari ajang kompetisi? Apakah pelukis-pelukis hebat seperti Picasso atau Afandi di Indoensia lahir karena mereka memenangkan perlombaan mewarnai? Apakah inventor-inventor hebat seperti Steve Jobs, Elon Musk, Bill Gates, adalah orang-orang yang sering memenangi lomba-lomba sains dan olimpiade sains?
Termasuk dalam soal belajar, sejak dulu tidak sependapat bahwa anak hanya dapat bergairah belajar jika ada ranking, jika ada ujian. Belajar sesungguhnya adalah fitrah dan kebutuhan semua manusia, lepas dari ada ujian atau tidak, lepas dari ada ranking atau tidak, jika kita mampu memelihara gairah yang memang sudah ada pada setiap anak sejak kecil. Lihatlah anak-anak dari kecil, sejak lahir dia sudah jadi observer, meneliti berbagai hal, benda-benda yang ada di sekitarnya. Ketika sudah dapat berbicara, sejak saat itulah dari mulutya banyak sekali pertanyaan yang pada dasarnya untuk memenuhi kebutuhan keingintahuan (pengetahuan) terhadap lingkungan sekitarnya. Ibu bawa apa? Itu apa? Ini apa? Kenapa harus begini, kenapa harus begitu? Dan seterusnya.
Saya tidak mengatakan bahwa kompetisi itu haram saklek, tidak. Kompetisi masih diperbolehkan jika: pertama, mengembangkan kolaborasi lebih banyak dibandingkan kompetisi. Artinya anak baru benar-benar diperbolehkan berkompetisi jika ia sudah benar-benar mampu mengelola ego pribadinya. Jika ia sudah dianggap matang mempraktikan kolaborasi.
Karena itu para ahli di bidang olahraga saja bersepakat bahwa anak-anak belum siap dengan kompetisi sampai setidaknya dia berusia setidaknya 8 tahun. (Fox KR, Lindwall M. Self-esteem and self-perceptions in sport and exercise. Routledge. 2014). Secara pribadi saya termasuk orangtua yang cari aman. Saya baru akan membolehkan anak-anak saya melakukannya ketika mereka usia sekolah menengah. Dari kecil beberapa anak saya diminta sekolah untuk mewakili sekolah ikut beberapa lomba, tapi saya tidak mengizinkannya. Berbusa-busa saya ngomong sama anak jika mereka tidak menang, mereka tetap anak hebat, mereka tetap anak yang disayangi orangtuanya, sia-sia. Kenapa? Karena abstraksi berpikir anak belum mampu mencerna “arti dari menerima kekalahan”. Hal yang konkrit bagi mereka yang hebat itu ya menang, bukan kalah.
Kenapa di negara-negara yang indeks pendidikannya baik dari kategori OECD tidak ada ranking? Karena ketika ranking, 1-3 akan ok. Bagaimana jika anak berada di urutan 10 terbawah? Apakah yakin mampu mendorong keyakinan dirinya menjadi positif dan memacu ia lebih baik atau justru menumbuhkan konsep diri negatif: aku bukan anak yang pintar, aku bodoh!
David Johnson, seorang profesor psikologi sosial di Universitas Minnesota mengkaji semua riset dengan topik kompetisi yang dilakukan sejak 1924 hingga 1980. Enam puluh lima studi membuktikan bahwa anak-anak belajar lebih baik ketika berada dalam lingkungan yang kooperatif dibandingkan yang kompetitif, delapan studi membuktikan sebaliknya dan 36 studi menemukan tidak ada perbedaan antara keduanya.
Kedua, jika pun ikut berkompetisi, anak-anak harus dipahamkan bahwa mereka berkompetisi bukan untuk mengalahkan orang lain, tapi mengalahkan diri sendiri. Bukan untuk berusaha unggul dari yang lain tapi berusaha terus mengembangkan keunggulan diri sendiri.
Simon Sinek, seorang speaker terkenal, pernah bercerita, suatu hari ia bertemu dengan para petinggi perusahaan teknologi A dan di waktu lain berkunjung pada perusahaan teknologi B. Ketika bertemu dengan petinggi A, mereka menceritakan berbagai kehebatan dan keunggulan produk yang dihasilkan oleh perusahaan A dan betapa bergairahnya mereka untuk dapat mengalahkan berbagai produk dari perusahaan B. Tapi ketika bertemu dengan perusahaan B, tidak ada satu pun perkataan dari petinggi perusahaan B bahwa ia ingin mengalahkan perusahaan A. Justru mereka mengakui berbagai kehebatan dan keunggulan produk perusahaan A.
Perusahaan B juga sama sekali tidak tertarik untuk mengalahkan perusahaan A, perusahaan B juga tidak ingin menghasilkan produk yang ingin mengalahkan produk dari perusahaan A. Perusahaan B hanya ingin memproduksi produk-produk yang terus lebih baik daripada produk yang mereka hasilkan sebelumnya. Mereka tidak ingin menjadi lebih hebat dari A, mereka hanya ingin terus menjadikan diri sendiri lebih baik. Anda tahu perusahaan B yang dimaksud? Ia adalah Apple Computer. Apakah Apple memiliki fitur lebih banyak daripada smartphone atau laptop atau tab dari produk lain? Tidak juga. Tapi ia memiliki pasarnya sendiri, keunikannya sendiri. Ia tetap menjadi salah satu perusahaan paling menguntungkan di dunia pada hari ini dengan tanpa gairah atau motif untuk mengalahkan persuahaan lain.
Demikian juga, kalau pun anak ikut lomba, anak-anak harus dipahamkan bahwa mereka mengikuti kompetisi atau lomba bukanlah untuk mengungguli orang lain tapi menjadi pribadi yang mengungguli dirinya sendiri. Yang hari ini harus lebih baik dari kemarin, yang besok harus lebih baik dari hari ini. Harus kita pahami, ada perbedaan antara "competing to win" dengan "competing to excel." bersaing untuk "win" artinya kita hanya ingin mendominasi, ingin mengalahkan yang lain. Sedangkan "to excel" artinya kita pada dasarnya bukan ingin mengalahkan orang lain, tapi mengalahkan diri sendiri. "performing well and surpassing personal goals."
Para atlit yang tujutan utamanya "excel" akan memiliki motivasi berbeda. Hasil riset pada 100 sekolah atlit, mereka kemudian memiliki self esteem yang baik dan terhindar dari depresi dibandingkan atlit yang mereka berlomba hanya untuk menang. (Fox KR, Lindwall M. Self-esteem and self-perceptions in sport and exercise. Routledge. 2014).